Mahbub Djunaidi, Tokoh NU Kelahiran Jakarta Wafat di Bandung 1 Oktober (1)

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
H. Mahbub Djunaidi
H. Mahbub Djunaidi

Pada tanggal 27 Juli 1933 di Jakarta lahir seorang wartawan, esais, sastrawan, dan politisi NU yang popular di zamannya, H Mahbub Djunaidi. Ia dikenal sebagai pendekar pena yang tulisannya dikenal kreatif dengan menggabungkan politik, sastra, dan jurnalistik. 

Pada bidang jurnalistik sebagai profesi, Mahbub Djunaidi adalah Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat (1965-1970), dan Pimpinan Redaksi Duta Masjarakat (1960-1970), Ketua Dewan Kehormatan PWI (1973-1973). 

Dalam bidang politik, ia adalah anggota DPR GR (19671971), Wakil Sekjen DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), anggota DPR/MPR RI (1971-1982). 

Sebagai seorang yang meminati sastra, dan ia lebih suka disebut sastrawan, Mahbub Djunaidi melahirkan beberapa novel dan beberapa terjemahan.  

Selain itu, aktivitasnya juga diarahkan kepada organisasi massa NU. Sejak masih muda, ia pernah menjadi anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Wakil Sekjen PBNU (1970-1979), Ketua II PBNU (1979-1984), Wakil Ketua PBNU (1984-1989), anggota Mustasyar U (1989-1994). 

Pendidikan dasar Mahbub Djunaidi dijalani pada masa revolusi fisik, di mana ia sekeluarga hijrah ke Solo dan baru kembali lagi ke Jakarta ketika Solo diduduki Belanda pada 1948. Di Solo ini pula ia sempat bersekolah di Madrasah Mambaul Ulum yang sangat terkenal kala itu. Ayahnya, KH Djunaidi adalah tokoh NU yang pernah menjadi anggota Konstituante. 

Masa Kecil 
Kalau membaca novelnya, Dari Hari ke Hari, kita akan tahu bagaimana masa kecilnya, saat berusia 13 tahun. Ia turut merasakan pahit getirnya revolusi Indonesia yang baru memproklamasikan kemerdekaan. Ia ikut hijrah meninggalkan tanah kelahirannya, Tanah Abang, Jakarta. Itu disebabkan ayahnya, KH Muhammad Djunaidi, seorang pegawai negeri. Oleh jawatannya, disediakan rumah di Solo. Di situlah mereka mengungsi.  

Meski situasi sangat sulit, anak itu tetap meneruskan sekolah SD. Bangunan sekolah sama saja dengan rumah-rumah penduduk, yang membedakan keduanya hanyalah papan nama. Selain di SD, ia harus belajar agama, di Madrasah Manbaul 'Ulum. Tapi justru di madrasah itulah anak kecil mendapat banyak asupan buku dari salah seorang gurunya, Kiai Amir. Di situlah --perlu penekanan di madrasah, bukan di sekolah-- ia bergaul dengan buku-buku sejarah dan sastra. 

Tak hanya itu, ia harus belajar nahwu dan sorof (gramatika bahasa Arab), juga menghafal kitab Barzanji (biografi Nabi Muhammad). Dan ayahnya berencana mengirimnya ke sebuah pesantren di Lasem. Karena situasi darurat, niat itu urung. Akhirnya dibimbing secara ketat oleh ayahnya. 

Mahbub memang berasal dari keluarga yang taat beragama. Neneknya, penceramah agama yang berkeliling dari satu majelis ke majelis lain. Ayahnya, tokoh NU yang ketika zaman Jepang melarang seikerei sampai 45 derajat.  

Dari hari ke hari, anak itu menyimak revolusi fisik dari tahun 1946-1949.  Berbagai peristiwa terjadi. Belanda datang lagi dibonceng tentara sekutu. Niat awal mereka adalah melucuti tentara Jepang yang kalah perang. Tapi kenyataannya mereka ingin berkuasa kembali. Perlawanan terjadi dimana-mana. TKR terus bergerilya. Masyarakat sipil membentuk kesatuan laskar, misalnya Hizbullah yang dipimpin KH Zainul Arifin, Sabilillah pimpinan KH Masykur. 

Di sisi lain, benaknya yang kecil, mulai tumbuh pertanyaan, kenapa situasi negeri ini demikian sengsara. Kemakmuran, kesuburan, alih-alih jadi kesenangan, malah berbuah kesengsaraan. Hasil bumi dikeruk ratusan tahun. Keringat rakyat diperas kaya gombal yang sudah lama tak dicuci. Lalu setelah merdeka diraih, kenapa ada perjanjian Linggarjati dan Renville?  Apakah pemimpin republik ini tidak belajar sejarah? Bukankah dari dulu Belanda pembual ulung? Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin mengecap getirnya. 

Penulis: Abdullah Alawi