Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Lebaran sebagai Lebar-an

Lebaran sebagai Lebar-an
Ilustrasi (NU Online)
Ilustrasi (NU Online)

Oleh Yahya Ansori

Kata ibu saya dulu, lebaran itu artinya kita anggap semuanya selesai. Kita selesaikan persoalan, kita selesaikan sengketa, kita selesaikan duka, kita selesaikan persoalan antarkita dengan saling memaafkan. Tapi benarkan semua itu terealisasi di setiap momen Lebaran? Jawabnya tentu bisa iya bisa tidak.

Kenapa Islam mewajibkan  zakat? Salah satunya untuk menjembatani soal lebarnya duka bagi si miskin. Kenapa menyuruh kita silaturahim agar menjawab problem ketersambungan empati atas perasaan pribadi-pribadi. Tapi apakah semua bisa terselesaikan melalui lebaran? Tentu tidak.

Hidup ini soal perspektif yang tiap individu punya cara pandang unik, sesuai dengan perasaannya, sesuai dengan kepentingannya, sesuai dengan kebutuhannya, sesuai dengan hasratnya, sesuai dengan pengetahuannya. 

Lebaran yang merindukan semua nya bisa selesai bisa jadi tak selalu terealisasi. Kita tonton kekejaman Israel dengan perasaan haru, sedih tapi ada juga yang melihat dengan perspektf berbeda. Yang jual senjata tentu meraup untung, yang memobilisasi dana juga terus menghitung, sementara kita khawatir terhadap merajalelanya Covid-19 seperti India yang makin genting.

Seperti semangat Lebaran yang harusnya berfokus pada ikhtiar membuat semua bahagia, seperti itulah harusnya peran agama-agama.  Kalau terus  berperang, menciptakan kebencian, permusuhan, semangat membunuh tanpa inisiasi bagaimana berdamai kita tak selesai dalam berlebaran.

Sekali lagi manusia itu unik tak akan pernah selesai kita fikirkan dengan jutaan kejadian dan kemungkinan. Kadang bukannya dapat terselesaikan dengan teknologi malah justru teknologi membuat kita saling menghancurkan. Kalau nanti artificial intellegence menilai kita secara independen mungkin dia bingung manusia ini apa-apaan.

Penulis adalah jurnalis NU Online Jabar