Kolband NU Ciparay Tahun 1964-1967 (Bagian 1): KH Imam Syafi’i Sang Kreator

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
KH Imam Syafi'i (kedua dari kiri) bersama adik dan kakaknya; dari kiri KH Ma'mun Sarbini, Hj. Latifah, dan KH E. Zaenal Muttaqin atau Ajengan Engking seorang tokoh NU legendaris di Ciparay (Foto: KH Umar Faruk)
KH Imam Syafi'i (kedua dari kiri) bersama adik dan kakaknya; dari kiri KH Ma'mun Sarbini, Hj. Latifah, dan KH E. Zaenal Muttaqin atau Ajengan Engking seorang tokoh NU legendaris di Ciparay (Foto: KH Umar Faruk)

Dalam catatan Rijal Mumazziq yang dimuat di Alif.id menyebutkan bahwa di era 1950-an, drumband semakin popular. Berawal dari grup musik militer, drumband kemudian menjadi grup musik resmi, penyampai lagu-lagu perjuangan, mars kepartaian, dan simbol propaganda. 

“Bisa dibilang, setiap partai politik punya “orkestra berjalan” ini,” tulisnya pada tulisan berjudul
Drumband NU: Syiar Islam dan Sarana Propaganda.

NU sebagai salah satu partai politik pada masa itu, yang memiliki organisasi sayap pemuda (GP Ansor), mengaktifkan grup drumband. Menurut Rijal, masih dalam catatan yang sama, GP Ansor memiliki grup drumband jauh sebelum tahun itu. Rijal menyebut pada tahun 1937 sudah ada grup drumband Gp Ansor. 

“Saat Muktamar NU digelar di Malang. Anshoru Nahdlatoel Oelama (ANO) tampil elegan dengan mendelegasikan drumband yang dipandegani oleh BANOE (Barisan Ansor NO),” tulisnya. “Seorang pemuda cakap, Hamid Rusydi, tampil jadi mayoret,” lanjutnya. 

Pada bagian selanjutnya, Rijal menyebut pada tahun 1960-an, keberadaan drumband diperhitungkan. 

“Latihan-latihan dijadwalkan sesering mungkin, seleksi anggota dijalankan dengan ketat, peralatan dimodernisasi, dan atraksi mayoret menjadi tontonan yang ditunggu-tunggu. Sebagian partai politik, seperti PNI, Partai NU, dan PKI juga mengirimkan anggotanya belajar teknik drumband mutakhir ke akademi militer. Maklum, drumband tentara dianggap sebagai prototype ideal, baik dari segi postur anggota, teknik bermain, pilihan lagu dan pukulan yang menghentak, hingga atraksi yang rumit dan memukau,” jelasnya.

Kolband Kreasi KH Imam Syafi’i
Di Ciparay, Kabupaten Bandung pada tahun 1960-an, NU sudah lama tertanam. NU ke daerah ini diperkenalkan KH Abdullah Cicukang, kelahiran kampung Lebakbiru, Ciheulang, tepatnya di Pesantren Al-Husaeni yang didirikan Mama AJengan Husen pada 1912. KH Abdullah Cicukang memperkenalkan NU ke tanah kelahirannya setelah menjadi santri Tebuireng yang dipimpin pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. 

Baca: Anak Cucu Mama Ajengan Husen Ciheulang dan NU

Jadi, pada tahun, 1960-an, NU di Ciparay memasuki tahap generasi kedua awal, digerakkan oleh anak-anak dari adik dari KH Abdullah Cicukang. Salah seorang generasi kedua itu adalah Umar Faruk. Ia adalah mayoret kolband dari tahun 1964 sampai 1967. 

Kolband adalah kependekan dari kohkol band. Kohkol adalah kentungan, alat pengiring sebelum memukul beduk sebelum azan dikumandangkan. Kohkol ada yang terbuat dari kayu ada pula yang dari bambu. 

“Kolband merupakan buah dari pemikiran KH Imam Syafi’i (wafat 2008),” kata KH Umar Faruk di Pesantren Al-Husaeni, Senin (28/9). 

KH Umar Faruk menjelaskan, KH Imam Syafi’i memiliki agak berbeda dibanding kakak-kakak dan satu adiknya. Selain menguasai ilmu agama, ia memiliki kecenderungan lebih pada kemasyarakatan, khususnya kaum muda, dan memiliki apresiasi seni. 

“Saya sering mendengar Lesbumi, Pertanu, Mabarot NU, tapi secara kepengurusan organisasinya tidak tahu. Bahkan KH Imam Syafi'i suka bikin teater/drama panggung, pernah pentas di hadapan Masjid Agung Ciparay. Kalau tidak salah pada waktu itu dari NU ada Lesbumi, dan dari PKI ada Lekra,” kata KH Umar Faruk, Rabu (30/9). 

KH Umar Faruk tidak mengetahui KH Imam Syaf’’i itu aktif di Lesbumi atau tidak, tapi ia pernah mendengarnya. Yang jelas, uwaknya itu memiliki apresiasi terhadap seni. Salah satu buktinya pernah mengadakan pementasan, bahkan di hadapan sebuah masjid. 

Dari penjelasan KH Umar Faruk, bisa diambil kesimpulan, seorang kiai memiliki kesadaran untuk menjadikan seni sebagai alat perjuangan bahkan dakwah. Hal ini memperkuat apa yang diceritakan Rahmatullah Ading Affandie (RAF) dalam kisah autobiografinya Dongeng Enteng ti Pasantren. Dalam dongeng itu, diceritakan saat RAF menjadi santri di sebuah pesantren, sang kiainya memiliki cita rasa seni yang tinggi, menyukai tembang Kembang Kaung dan menonton tonil (seni teater) yang dilakonkan santrinya, RAF.   

Penulis: Abdullah Alawi