Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Kisah Umi Euis, Mendidik 10 Anak dan Mengurus Organisasi

Kisah Umi Euis, Mendidik 10 Anak dan Mengurus Organisasi
Umis Euis dan keluarganya (Foto: NU Online Jabar/Syam Iqna)
Umis Euis dan keluarganya (Foto: NU Online Jabar/Syam Iqna)

Tak banyak ibu rumah tangga yang memiliki banyak anak, tapi aktif di organisasi dan lembaga keagamaan. Di antara yang tak banyak itu saya temukan pada sosok Nyai Islahiyah, seorang ibu kelahiran Majalengka dan  menetap di Kota Cirebon sejak tahun 1993.

Ia kini berusia 51 tahun. Buah pernikahannya dengan KH Samsudin, ia dikaruniai 10 anak. Dilihat dari sisi usianya, ia diperkirakan sekitar dua tahun sekali melahirkan. Ia mengaku selalu melahirkan dengan normal, artinya tak pernah melalui caesar. Ia mengaku takut melahirkan dengan cara seperti itu. Tiap kali melahirkan, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. 

Baginya ini 10 anak adalah anugerah tak terkira dari Allah SWT karena dirinya dan suami merasa diberi kepercayaan penuh untuk mendidik putra-putrinya sampai dewasa.

“Dalam mendidik anak, saya selalu menerapkan pola kerja sama atas pekerjaan rumah yang dilakukan. Selain itu juga saya selalu mengajarkan kemandirian kepada semua anak agar kelak nanti ketika sudah tidak bersama umi bisa mandiri dan tidak selalu bergantung kepada orang lain," tuturnya.

Ia merinci, anaknya 3 laki-laki dan 7 perempuan. Mereka mendapat pendidikan sekolah umum dan pondok pesantren.

“Semuanya terlihat mandiri dalam melakukan aktivitasnya, di antaranya yang bungsu yaitu Assa El-Akhila Syam sudah terbiasa menyiapkan makan sendiri ataupun iseng-iseng membuat goreng-goreng kentang ataupun lainnya," terangnya.

Menurut dia, mendidik anak agar mandiri bukan berarti orang tua lepas sepenuhnya, bukan pula eksploitasi terhadap anak, tapi mengajarkan dan mendidik untuk bekal mereka masing-masing ketika dewasa.

“Alhamdulillah selama ini saya belum pernah memiliki pembantu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, tapi bisa diselesaikan oleh putra-putri saya dengan kerja sama dan silih asah, asih, asuh yang baik " ujarnya. “Yang selalu saya tekankan kepada anak-anak saya adalah jaga akhlak, jaga shalat, taat kepada Allah dan Rasulnya dan juga taat kepada orang tua,” tambahnya. 

Banyak anak, mengurus mereka, termasuk suami dengan tanpa pembantu, Umi Euis masih menyempatkan berorganisasi. Ia berkhidmah di badan otonom NU, mulai menjadi Ketua Fatayat NU Kota Cirebon 2014-2019, Pengurus PW Fatayat NU Jabar, Bendahara Muslimat NU Kota Cirebon, Pengurus MUI Kota Cirebon, dan Ketua Majelis Taklim Al-Ittihad Karyamulya.

Dalam berorganisasi pun tidak sekadar ikut-ikutan, tapi menjadi pemimpin utama. Karena itulah ia pernah mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Barat H. Ridwan Kamil saat mengikuti kegiatan Fatayat NU Jawa Barat sebagai aktivis organisasi yang memiliki anak banyak dibanding aktivis Fatayat lainnya. 

"Segala sesuatu harus dilakukan dengan tulus ikhlas dan lillahi ta'ala juga dibuat enjoy sehingga semua apa yang kita lakukan bisa terselesaikan dengan baik " pungkasnya.

Penulis: Syam Iqna
Editor: Abdullah Alawi