Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Kisah Mengharukan Ketika Ibrahim bin Adham Dipertemukan dengan Anaknya (1)

Kisah Mengharukan Ketika Ibrahim bin Adham Dipertemukan dengan Anaknya (1)
Foto: NU Online.
Foto: NU Online.

Abu Ishak Ibrahim bin Adham adalah seorang raja Balkh yang memiliki daerah kekuasaan yang sangat luas. Dalam sejarah sufi ia dikenal sebagai seorang raja yang meninggalkan kerajaanya untuk menjalani hidup dengan kesendirian dengan mengembara. 

Dikisahkan bahwa ketika Ibrahim bin Adham pergi ke Makkah untuk menjalani hidup dengan kesendirian bermaksud ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT, ia meninggalkan seorang putra yang masih menyusui. 

Suatu ketika, putranya yang sudah tumbuh dewasa, menanyakan keberadaan sosok ayahnya kepada sang ibu. 

“Ayahmu telah hilang!” si ibu menjelaskan kepada putranya. 

Setelah mendapatkan penjelasan, ia bermaksud mencari ayahnya ke Makkah dengan mengumpulkan orang-orang yang hendak berangkat haji, dan menyeru bahwa ia siap memberikan biaya makan dan menyumbangkan unta untuk perjalanan ke Makkah. 

Singkat cerita, ia memimpin perjalanan bersama empat ribu rombongannya yang hendak pergi menunaikan ibadah haji. Dalam hati ia berharap agar ia dipertemukan dengan ayahnya pada saat di Makkah nanti. 

Sesampainya di Makkah, didekat pintu Masjidil Haram mereka bertemu dengan serombongan sufi yang mengenakan jubah dengan kain perca. 

“Apakah kalian mengenal Ibrahim bin Adham?” tanya putra Ibrahim.

“Ibrahim bin Adham adalah sahabat kami, ia sedang mencari makanan untuk menjamu kami,” sahut mereka. 

Putra Ibrahim kemudian meminta mereka agar bersedia mengantarkannya bertemu dengan Ibrahim saat itu juga. Kemudian, mereka membawanya ke bagian kota Makkah yang dihuni oleh orang-orang miskin. Di sana ia melihat ayahnya sedang memikil kayu bakar dengan kaki yang tanpa menggunakan alas. Air matanya berlinang tapi ia masih sanggup mengendalikan dirinya. 

Putra Ibrahim kemudian membuntuti ayahnya, sesampainya di pasar ia melihat ayahnya sedang menyeru, “Siapakah yang suka membeli barang yang halal dengan barang yang halal?”.

Seorang tukan roti menyahuti dan menerima kayu apai tersebut dan memberikan roti kepada ayahnya. Roti itu kemudian dibawa ayahnya lalu disuguhkan kepada para sahabatnya. 

Putra Ibrahim kemudian berpikir, “Jika kukatakan kepadanya siapa aku, niscaya ia akan melarikan diri,” Oleh karena itu, ia pun pulang kembali untuk meminta nasihat dari sang ibu. Sang ibu menasehati agar ia bersabar menunggu waktu sampai tiba saat ibadah haji datang. 

Singkat cerita, tiba waktunya untuk menunaikan ibadah haji. Putra Ibrahim pun berangkat ke Makkah. Ibrahim sedang duduk bersama para sahabatnya. 

“Hari ini di antara jamaah haji banyak terdapat perempuan dan anak-anak muda, maka jagalah mata kalian,” Ibrahim menasehati para sahabatnya. 

Para jama’ah memasuki kota Makkah dan melakukan thawaf, Ibrahim dan para sahabatnya melakukan hal yang sama. Seorang pemuda tampan datang menghampirinya dan Ibrahim terkesima memandangnya. Hal demikian kemudian dilihat oleh para sahabatnya.

Para sahabatnya terheran melihat tingkah Ibrahim, padahal ia baru saja menasehati para sahabatnya tetapi ia sendiri yang berbuat hal demikian. 

Para sahabatnya kemudian menegur Ibrahim dengan memohonkan ampunan kepada Allah SWT, “Semoga Allah mengampunimu”.

“Jadi kalian telah menyaksikan perbuatanku?” tanya Ibrahim kepada para sahabatnya. 

“Ya, kami telah menyaksikannya”.

Ibrahim kemudian mulai bercerita kepada para sahabatnya sampai kenapa ia bisa melakukan hal demikian. 

“Ketika pergi dari Balkh, Aku meninggalkan seorang anak yang masih menyusui. Dan aku yakin pemuda tadi adalah anakku sendiri,”

Kemudian keesokan hairnya, tanpa sepengetahuan Ibrahim, salah seorang sahabatnya mengunjungi perkemahan jama’ah dari Balkh. Di dalamnya berdiri sebuah mahligai dan di atasnya sedang duduk seorang pemuda yang sedang membaca Al-Qur’an sambil menangis. Sahabat Ibrahim kemudian meminta izin untuk masuk. 

“Dari mana engkau datang?” tanyanya.

“Dari Balkh,” jawab putra Ibrahim. 

“Putra siapakah engkau?”.

Putra Ibrahim menutup wajahnya lalu menangis, “Sampai kemarin aku belum pernah menatap wajah ayahku.” Katanya sambil memindahkan Al-Qur’an yang sedang dibacanya tadi.

“Walau demikian, aku belum merasa pasti apakah ia ayahku atau bukan. Aku khawatir jika kukatakan kepadanya siapa aku sebenarnya, ia akan menghindar kembali dari kami. Ayahku adalah Ibrahim bin Adham, raja dari Balkh,”

Sahabat Ibrahim kemudian membawanya untuk bertemu dengan Ibrahim. Ibunya turut menyertai mereka. Ibrahim sedang duduk di depan pojok Yamani bersama para sahabatnya. 

Begitu melihat Ibrahim, ibunya menjerit dan tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. 

“Inilah ayahmu!”.

Para sahabatnya menitikan air mata atas apa yang telah terjadi di hadapan mereka. Tetapi putra Ibrahim masih bisa mengendalikan diri, ia segera mengucap salam kepada ayahnya. Ibrahim pun menjawab kemudian memeluknya. 

“Agama apakah yang engkau anut?” tanya Ibrahim kepada putranya. 

“Islam”.

“Alhamdulillah, bisakah engkau membaca Al-Qur’an?”

“Ya,”

“Apakah engaku sudah mendalami agama ini?”

“Sudah”

Setelah itu Ibrahim hendak pergi tetapi sang putra tidak mau melepaskannya. Ibunya meraung keras-keras. Ibrahim menengadahkan kepalanya dan berseru:

“Ya Allah, selamatkanlah diriku ini”

Seketika itu juga putranya yang sedang dalam pelukan menemui ajalnya.

“Apakah yang terjadi Ibrahim?” para sahabatnya bertanya.

Wallahu a’lam bish shawab 

(Bersambung....)

Kisah di atas ditukil dari terjemahan kitab Tadzkiratul Auliya karya Fariduddin Attar penyair sufi asal Persia.
Penerjemah: Kasyif Ghoiby