Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Kibarkan Bendera NU di Puncak Gunung Pangrango, Pendaki Indramayu Serukan Indonesia Damai

Kibarkan Bendera NU di Puncak Gunung Pangrango, Pendaki Indramayu Serukan Indonesia Damai
wawan
wawan

Indramayu, NU Online Jabar
Puncak Gunung Pangrango di Bogor Jawa Barat dengan ketinggian 2.958 MDPL pagi itu, Ahad (22/11) pukul 06.00 WIB masih diselimuti kabut, cuaca dingin menusuk tulang dan puluhan pendaki yang berhasil mencapai puncak tertinggi gunung itu pun tengah melakukan berbagai ritual untuk mensyukuri keberhasilannya bisa menikmati keindahan dan kebesaran Allah yang sangat menakjubkan, ada yang bersujud syukur, ada yang menangis, ada yang berteriak se kencang-kencangnya dan ada pula yang mengibarkan bendera merah putih serta tidak lupa mengabadikan kenangan indah tersebut dalam jepretan kamera.

Di antara puluhan pendaki itu nampak seorang pendaki asal Indramayu yang bernama Wawan Firmansyah. Dirinya turut larut dalam keharuan karena bisa mencapai puncak tertinggi Gunung Pangrango yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tersebut. Namun berbeda dengan para pendaki lainnya, Wawan melakukan aksi pengibaran bendera Nahdlatul Ulama yang sengaja ia bawa dari rumah, bersama seorang temannya yang membawa bendera merah putih ia berteriak kencang “NU adalah penjaga NKRI, Indonesia harus damai,”.

Aksi yang dilakukan Wawan tersebut sontak menarik perhatian para pendaki lainnya, namun dengan tenang ia terus mengibarkan bendera NU dengan tekad ingin mengabarkan kepada seluruh rakyat Indonesia melalui puncak tertinggi gunung Pangrango bahwa kedamaian harus diwujudkan, hindarkan segala caci maki dan permusuhan.

“Walaupun tidak bisa didengar oleh seluruh rakyat Indonesia, tetapi saya yakin pesan ini akan diterima oleh alam, dibawa oleh angin dan dikabarkan kepada seluruh seluruh anak negeri di seantero negeri tercinta ini. Semoga Indonesia tetap aman, damai dan terhindar dari segala perpecahan yang dapat merusak keutuhan NKRI,” ungkap Wawan Firmansyah dengan penuh keharuan. 

Pria asal Indramayu yang kini bermukim di Puri Cikarang Asri, Sukarukun, Sukatani, Bekasi itu kepada NU Online Jabar, Senin (23/11) menceritakan maksud dan tujuannya membawa bendera NU hingga ke puncak Gunung Pangrango.

“Saya ini kader NU dan saya adalah alumni Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) ke-6 yang digelar di Kecamatan Patrol pada bulan Oktober lalu, setelah mengikuti MKNU saya merasa terpanggil untuk turut membesarkan Nahdlatul Ulama dengan cara saya sendiri. Karena saya hobi mendaki maka saya bertekad untuk bisa mengibarkan bendera NU di puncak Pangrango, saya ingin meneriakkan kepada dunia bahwa NU adalah penjaga NKRI. Kami tidak ingin negeri ini pecah dan kami ingin kedamaian, seperti damainya puncak gunung ini,” ujar Wawan.

Wawan menceritakan, dirinya berangkat dari rumahnya pada hari Jumat pukul 22.00 WIB sampai di base camp pendaftaran pendakian yang berada Kebon Raya Cibodas Cianjur pada pukul 24.00 WIB. Ia bersama tiga orang temannya Syarifudin, Asropi Hijri dan Muhammad Dikri Pamungkas, beristirahat sejenak sambil menunggu datangnya pagi. Tepat pada pukul 06.00 mereka mulai melakukan pendakian.

“Medan yang kami hadapi sangat berat karena turun hujan sehingga kami harus berhat-hati serta menjaga kondisi fisik masing-masing. Dalam guyuran hujan kami mencoba menerobos dinginnya pagi dan alhamdulillah sampai ke tempat peristirahatan yang dikenal dengan sebutan Kandang Badak jam 12 siang. Kami memutuskan untuk beristirahat dan mulai memasang tenda untuk menginap sambil memulihkan tenaga dan bersiap untuk naik ke puncak pada pukul 04.00 dini hari,” ujar Wawan.

Tepat Ahad pagi (22/11) pukul 04.00 mereka mulai bergerak naik ke puncak dan bersiap menaklukkan medan yang sangat berat, karena jalanan terjal dan harus melewati Tanjakan Setan dengan kemiringan 90 derajat.

“Kami harus merangkak perlahan dengan berpegangan pada tali dan harus berkonstentrasi tinggi karena jika lengah sedikit saja maka taruhannya adalah nyawa. Alhamdulillah setelah melalui perjuangan panjang kurang lebih selama dua jam, tepat pada pukul 06 pagi kami bisa menginjakkan kaki di puncak Gunung Pangrango. Rasa bahagia, haru dan bangga bercampur menjadi satu,” tutur Wawan. 

“Mendaki gunung sebenarnya sudah hobi saya semenjak SMA dilanjut waktu kuliah di universitas Darul Ulum Jombang. Karena kecintaan terhadap NU dan teman saya Syaripudin juga sama-sama mempunyai pandangan yang sama, yaitu ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa NU bisa hadir di puncak gunung yang tidak semua orang bisa melakukannya,” tambahnya. 

Di akhir ceritanya, Wawan Firmansyah mengungkapkan rasa bahagianya karena bisa mengibarkan bendera NU di puncak.

“Para pendaki banyak yang memperhatikan saya karena saya mengibarkan bendera NU dan merah putih. Mereka pada umumnya hanya mengibarkan bendera merah putih saja, tapi di situlah kebanggaan saya bahwa saya bisa menyandingkan bendera merah putih dan bendera NU di Puncak Pangrango,” ujarnya.

“Dengan aksi pengibaran bendera NU di puncak gunung, saya ingin mengenalkan NU dari hal terkecil. Kalau kita belum bisa mengajarkan amalan NU kepada umat, cukup tunjukkan bahwa saya orang NU, karena sekarang saya merasa ada kalangan yang berusaha menenggelamkan NU untuk menghancurkan Indonesia,” pungkas Wawan.

Pewarta: Iing Rohimin
Editor: Abdullah Alawi