Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Kiai Abbas Buntet, Nasionalis dan Penggerak NU Cirebon (Bagian 3-Habis)

Kiai Abbas Buntet, Nasionalis dan Penggerak NU Cirebon (Bagian 3-Habis)
KH Abbas Abdul Djamil Buntet Pesantren Cirebon. (NU Online)
KH Abbas Abdul Djamil Buntet Pesantren Cirebon. (NU Online)

Oleh Ahmad Faiz Rofii
Tradisi keilmuan antara guru dan murid semasa belajar di Jawa Timur yang harmonis, menjadikan para santri yang berasal dari Cirebon, setelah pulang dan mukim, mereka juga menjadi penyebar NU.
Cirebon adalah salah satu daerah perintis dalam perkembangan NU di Jawa Barat. Hal itu dapat dibuktikan, sebelum NU berdiri, ada sejumlah kiai Cirebon yang sudah mempunyai hubungan dekat dengan KH Hasyim Asy’ari, baik yang belajar di Tebuireng atau Bangkalan Madura. Hal ini membuat kesamaan madzab berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah. Dengan demikian, ketika NU dideklarasikan, otomatis kiai-kiai di Cirebon dengan sendirinya mengikuti. Di antaranya adalah KH Amin Sepuh (Babakan Ciwaringin), KH Syatori (Arjawinangun), dan KH M. Abbas Abdul Jamil (Buntet Pesantren).

Kiai Abbas adalah santri angkatan pertama Tebuireng tahun 1899 bersama KH Wahab Hasbullah. Setelah di Tebuireng, ia menjadi salah satu penggerak NU di Cirebon. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya Madrasah Abna'oul Wathan pada tahun 1928.

Saat itu, Pesantren Buntet tidak bisa dipisahkan dari NU dengan menjadikan pesantren sebagai pusat pengembangan NU tahap awal untuk wilayah Jawa Barat khususnya Cirebon. Ini yang kemudian diikuti oleh KH Mas Abdurrahman (Menes Pandeglang Banten), KH Junaidi (Jakarta), dan KH Ruhiyat (Tasikmalaya). Atas dasar itulah maka pada 12 Rabius Tsani 1350/27 Agustus tahun 1931, Buntet Pesantren menjadi lokasi Muktamar NU ke-6.

Baca juga: Kiai Abbas Buntet, Jago Silat yang Dermawan (2)

Selanjutnya keaktifan Kiai Abbas tercatat dalam Verslag Congres Nahdlatoel Oelama yang ke-38. Ia adalah salah satu utusan perwakilan Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon dalam rangka menghadiri Mukmatar NU di Menes Banten pada tahun 1938. Kemudian terlihat juga dalam Muktamar NU ke-15 di Surabaya pada tahun 1940. Ia hadir bersama perwakilan Syuriah dan Tanfidziyah dari PCNU Kabupaten Cirebon.

Kiai Abbas bergaul akrab dengan beberapa tokoh terkemuka, dari kalangan Islam dan nasionalis. Seperti KH M Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri. Juga tokoh seperti H. Samanhudi (Pendiri SDI), HOS. Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantoro, dan Dr Soetomo, menjadikannya sebagai tokoh yang disegani pada saat itu. 
Hal demikian bukan tanpa sebab. Ia dikenal sebagai kiai kharismatik dengan kealiman dan keteduhan spritualnya. Namanya dikenal baik di kalangan pesantren dan tokoh nasional saat itu. 

Pada masa perkembangan Sarekat Islam, Kiai Abbas menjabat sebagai ketua hukum atau syuriah dalam struktur Sarekat Islam. Di masa penjajahan Jepang, Kiai Abbas menjabat sebagai anggota Tjuo Sangilin (semacam Dewan Legislatif Pusat) juga sebagai anggota Syuu Sangikai (Dewan Legislatif Daerah). Meski sebagai anggota dewan, ia selalu menentang kebijakan Jepang khusuanya yang terkait akidah. 

Posisi Buntet
Buntet pesantren adalah basis perjuangan rakyat sejak zaman Mbah Muqoyyim, selain menjadi pusat pengembangan ilmu keislaman. Di tempat ini Kiai Abbas mencetak para kader pejuang bangsa yang anti penjajah. Mereka dididik menjadi sosok pemberani dan militan.

Tidak heran jika saat itu Buntet menjadi markas sentral pergerakan nasional dengan membentuk pasukan Hizbullah dan Sabilillah. Atas inisiasi NU yang kemudian lahirlah fatwa resolusi jihad untuk bersama-sama mempertahankan Republik Indonesia dengan melawan sekutu. Para ulama-kiai-santri keluar dari pesantren untuk memimpin pertempuran melawan penjajah yang ingin kembali merebut kedaulatan republik.

Baca juga: Kiai Abbas Buntet, Pembaharu Pendidikan Islam dari Pantura (1)

Pertempuran Surabaya 1945 adalah bukti nyata peran besar Kiai Abbas dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sosok kiai nasionalis dan kharismatik. Kecintaanya terhadap tanah air membuktikan bahwa nasionalisme kiai pesantren patut untuk diperbincangkan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi kiai Abbas, nasionalisme adalah suatu komitmen bersama dalam menantang segala bentuk penjajahan yang harus dilawan. Oleh sebab itu, mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara adalah sebagian dari iman. Syarat mutlak menjadi bangsa yang merdeka adalah harus lepas dari belenggu kolonialisme. Nasionalisme yang menjadi kesadaran bersama  untuk mempersatukan umat Islam dalam rangka berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Sikap dan perilaku Kiai Abbas dalam menentang penjajah, terlihat dari pendahulunya yakni Mbah Muqoyyim. Ia selalu non-koperatif terhadap penjajah. Perlawanan dan pelariannya semasa hidupnnya, menjadikannya sosok yang disegani sekaligus dibenci penjajah. Inilah yang menjadi acuan bagi Kiai Abbas untuk terus melanjutkan sikap dan kedigdayaanya. Tidak terkecuali bagi para generasi selanjutnya di Buntet Pesantren Cirebon, seperti KH Mustahdi Abbas, KH. Mustamid Abbas KH. Abdullah Abbas dan KH. Nahduddin Royandi Abbas, yang mempunyai pengaruh besar di wilayah lokal maupan nasional.

Demikian selayang pandang sosok Kiai Abbas Buntet Pesantren Cirebon. Ia wafat pada malam ahad, 1 Rabiul Awal 1330 H/1946. Wafatnya Kiai Abbas bertepatan dengan ditandatanganinya Perjanjian Linggajati yang saat itu banyak disesalkan sejumlah tokoh karena dianggap merugikan bangsa Indonesia. 

Terkait wafatnya Kiai Abbas, saat itu pihak Belanda sempat tidak percaya. Pada hari Idul Fitri, konon Belanda mencari kebenaran isu tersebut. Kemudian mereka mendatangi makam Kiai Abbas dan berniat untuk membongkarnya. Namun, berkat sisasat keluarga, upaya itu berhasil digagalkan.

Makam Kiai Abbas terletak di Makbaroh Gajah Ngambung, Buntet Pesantren. Hingga kini makam tersebut selalu ramai dikunjungi keluarga, santri, alumni, dan para peziarah dari berbagai daerah.

Penulis adalah Alumni Pondok Buntet Pesantren Cirebon. Kini aktif sebagai tim media PAC Ansor Gebang.

Bahan Bacaan:
Anam, Choirul. Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama (Surabaya: PT. Duta Aksara Mulia, 2010).
Fealy, Greg. Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967 terjemahan Farid Wajidi dan MA. Bachtar (Yogyakarta: Lkis, 2003).
Hadi, Munib Rowandi Amsal, Kisah-kisah dari Buntet Pesantren Cirebon (Cirebon: Kalam, 2012).
Herlina Lubis, Nina dkk. Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat (Bandung: Yayasan Sejarawan Masyarakat Indonesia, 2011).
Sujati, Budi. Sejarah dan Perkembangan Nahdlatul Ulama Jawa Barat (Brebes: Rahmadina Publishing, 2020).
Van Bruinessen, Martin, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, (Yogyakarta: Gading Publishing, 2012).
Van Bruinessen, Martin, NU Tradisi Relasi-Relasi Kuasa dan Pencarian Wacana Baru, terj. Farid Wajidi (Yogyakarta: Lkis, 2008).
Zaini Hasan, Ahmad, Perlawanan dari Tanah Pengasingan: Kiai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara (Yogyakarta: Lkis, 2014).
Zuhri, Saifuddin, Berangkat dari Pesantren, (Yogyakarta: Lkis, 2013).
Zuhri, Saifuddin, Guruku Orang-orang dari Pesantren, (Yogyakarta: Lkis, 2012).