Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

KH Yusuf Muhammad Ungkap Kemunduran Spirit Juang Umat Islam

KH Yusuf Muhammad Ungkap Kemunduran Spirit Juang Umat Islam
Tangkapan layar KH Yusuf Muhammad saat menyampaikan taushiyah pada Jamu Sehat
Tangkapan layar KH Yusuf Muhammad saat menyampaikan taushiyah pada Jamu Sehat

Bandung, NU Online Jabar 
Mustasyar PWNU Jawa Barat KH Yusuf Muhmmad menjelaskan perilaku umat Islam terhadap Al-Qur’an yang mengakibatkan kemunduran spirit berjuangnya. Ia memulai penjelasannya dengan kewajiban umat terhadap kitab suci itu, yaitu mengimani sebagai sumber ajaran dan pedoman hidup. 

“Jelas Al-Qur’an merupakan salah satu kitab suci penyempurna kitab suci sebelumnya bahkan oleh karena itu mengimani Al-Qur’an tentu merupakan salah satu rukun iman yang wajib dipenuhi,” katanya pada Jabar Bermunajat untuk Indonesia Sehat (Jamu Sehat) yang digelar secara virtual Senin (7/6) malam. 

Menurutnya, hal itu sudah menjadi pengetahuan hampir setiap Muslim, tetapi dalam pelaksanaannya boleh jadi ini sering terlupakan karena pengaruhnya terjadi begitu signifikan. 

“Ketika kita mengimani Al-Qur’an setidak-tidaknya ada dua hal, beriman bahwa Al-Qur’an itu wahyu suci Allah. Oleh karena itu, takzim kita kepada yang suci tentu merupakan ukuran keimanan kita,” katanya pada kegiatan yang digelar JQHNU Jawa Barat itu. 

Namun, faktanya betapa banyak umat Islam memperlakukan Al-Qur’an dengan cara tidak semestinya. 

“Tidak sedikit yang menaruh mushaf Al-Qur’an sejajar dengan pantatnya, di depan tempat duduknya tanpa ada alas, itu hal biasa. Padahal Al-Qur’an itu tidak bisa disejajarkan dengan apa pun. Bukankah para ulama dan kiai kita kalau numpuk buku-buku saja itu Al-Qur’an tidak boleh ada di bawah?” tegasnya. 

Kedua, ketika umat Islam mengimani Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan yang terbaik bagi kehidupan manusia seharusnya saat mendapatkan sebuah masalah maka harus mencarinya kepada Al-Qur’an juga. 

“Rasulullah SAW menasihatkan; jika ada masalah, tanyalah kepada Al-Qur’an. Kalau Al-Qur’an tidak ada, bertanyalah kepada hadits. Dalam hadits pun tidak ada, maka barulah melakukan ijtihad-ijtihad,” jelasnya. 

Namun, pada kenyataannya umat Islam karena kurang familier dengan Al-Qur’an maka ketika masalah mereka mencari solusi-solusi pada hal lain. 

“Barangkali para ilmuan cukup bisa menjabarkan soal ini karena semakin jauhnya umat Islam dengan Al-Qur’an, semakin tipisnya keimanan umat terhadap Al-Qur’an inilah sehingga menyebabkan salah satu kemunduran spirit juangnya umat islam,” jelasnya. 

Pewarta: Abdullah Alawi