Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

KH Yahya Masduki Babakan Ciwaringin dalam Tiga Fragmen

KH Yahya Masduki Babakan Ciwaringin dalam Tiga Fragmen
Almaghfurlah KH Yahya Masduki Babakan Ciwaringin Cirebon. (Foto: dok. Keluarga/Desain: Ami)
Almaghfurlah KH Yahya Masduki Babakan Ciwaringin Cirebon. (Foto: dok. Keluarga/Desain: Ami)

Oleh Olib Yahya
Barokah Menggembala Kambing Kiai

Suatu hari Ibuku, yang merupakan adik dari Kiai Yahya, pergi ke pasar menggunakan kendaraan umum. Ketika sedang berada di kendaraan, ada seorang lelaki paruh baya bertanya. 

Penumpang lelaki: Bu, tadi sepertinya naik dari daerah Babakan, kenal tidak dengan teman saya namanya Yahya, dulu pernah di ngaji Jombang.
Ibu: Ya, saya kenal, kebetulan itu kakak saya.
Penumpang lelaki: Oh... ya… sekarang dia di mana?
Ibu: di rumah saja, ngurus santri.
Penumpang lelaki: Ha? Yahya punya santri? Dia bisa baca kitab?
Ibu: Ya iya, Pak. Dia juga punya pondok dan santri, bahkan ngaji kitab besar-besar.
Melihat si penumpang lelaki yang semakin keheranan, ibuku kembali bertanya. Memang Bapak kenal?
Penumpang lelaki: Ya saya kenal dia, kebetulan saya pernah bareng di Tebuireng. Di sana, dia tidak pernah ngaji, kerjaannya ngurus bangunan dan menggembala kambing milik kiai. Makanya saya heran, kok dia punya santri bahkan bisa baca kitab besar.

Setoran
Saya dan kedua kakak saya pernah mengaji langsung kepada Kiai Yahya Masduki. Sistem pengajian yang diterapkan sangat ketat dan akurat. Materi yang diberikan berupa tulisan yang ditulis di papan tulis, setelah beberapa kali dibaca dan diterangkan, oleh beliau langsung dihapus. Setelah itu kami maju hapalan satu persatu dengan apa yg tadi dituliskan.

Bisa dikatakan, hanya santri yang berani dan pinter saja yang mengaji praktek kepada beliau. Istilahnya ngaji praktek, karena metode yang diterapkan ketika santri mengaji adalah membaca kitab kuning kosongan, membaca lafadznya saja tanpa diberi makna, tentu tidak sekedar membaca, tapi sesuai dengan kaidah gramatikal bahasa Arab.
Meski tidak ditanya tentang nahwu shorofnya, tapi ketika salah membaca satu huruf sekalipun, maka sudah dipastikan santri akan mendapatkan teguran keras, bahkan bentakan sangat menusuk. Entah dibilang kumprung, dan lain-lain. Intinya si santri disuruh belajar ilmu alat (Nahwu-Shorof) lagi.

Gus Dur
Dari cerita saudara yang pernah diajak ke PBNU, dulu semasa Gus Dur menjadi Ketua Umum, jika berkunjung dan akan menemui GD baik di kantor PBNU atau di rumah, Kang Yahya (begitu biasa beliau dipanggil) seperti punya free ticket alias tanpa basa-basi atau berurusan dengan protokoler. Bahkan tanpa antri, langsung bisa ketemu Gus Dur. Itu karena baik Gus Dur maupun stafnya, sudah kenal baik dengan Kang Yahya. 

Bahkan jika mengundang Gus Dur ke Babakan Ciwaringin, untuk kepentingan berbagai acara, entah Imtihan, Ahirussanah atau acara semacamnya, bisa dipastikan ia akan datang. Di samping memang sudah kenal, ternyata Gus Dur sangat menghormati gurunya. Ya, Gus Dur adalah murid khusus KH Masduki Ali, ayahnya kang Yahya. Kiai Masduki adalah santrinya Kyai Hasyim Asy'ari. Jika Kiai Hasyim berhalangan, maka yang membadali atau menggantinya mengajar ngaji di pesantren adalah Kiai Masduki. 
 

Penulis adalah Kasatkorcab Banser Kabupaten Cirebon.