Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

KH Ushfuri Anshor (2): Demi NU dan Kisah Lolos dari Sergapan Tentara Orba

KH Ushfuri Anshor (2): Demi NU dan Kisah Lolos dari Sergapan Tentara Orba
KH Ushfuri Anshor (Foto: NU Online Jabar)
KH Ushfuri Anshor (Foto: NU Online Jabar)

Dari mulai berdirinya Al-Ishlah, gerak-gerik KH Ushfuri selalu diawasi oleh intel-intel Orde Baru (Orba). Karena beliau membawa visi yang berbeda, yaitu visi untuk terus berada di barisan NU, yang mana pada saat itu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan dukungannya ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Baca: KH Ushfuri Anshor (1): Riwayat Masa Kecil hingga Perjuangan Membangun Pesantren Al-Ishlah

Kita ketahui, di masa Orba seluruh aspek telah dikendalikan dari pusat. Aspek yang dikendalikan termasuk dalam aspek hak pilih partai politik (parpol). Di masa itu, secara tidak langsung semua orang diharuskan memilih Partai Golongan Karya (Golkar), tulang punggung parpol Orba. Dengan teguh disertai pendirian dan komitmen yang tinggi, KH Ushfuri berani mengambil risiko untuk terus mengikuti arahan dari PBNU.

Karena keteguhan dan komitmennya itu, KH Ushfuri pernah didatangi oleh pasukan ABRI. Sampai pada akhirnya terjadi sebuah kejadian yang dimana para santri pada saat itu dilihatkan langsung oleh Allah SWT karomah KH Ushfuri. 

Dalam kesempatan ini, penulis mengambil keterangan dan wawancara langsung bersama saksi mata, Ustadz Shomadi (60). 

“Dulu pernah kejadian (1981), dan kejadian itu membuat Al-Ishlah didatangi oleh satu kompi ABRI. Al-Ishlah dibredeli, gitu, mungkin pribahasanya,” kata Shomadi memberikan keterangan kepada NU Online Jabar.

“Ceritanya gini, ya, ketika itu salah satu warga disini di sekitar Al-Ishlah ada yang mengadakan acara tahlilalan. Al-Ishlah dulu kan, sangat diawasi oleh pemerintahan setempat di sini. Kita tahlilan, eh, disangkanya konsolidasi politik. Kita didatangi aparatur desa di sini. Kita dibubarkan secara terpaksa. Jelas, para santri yang kebetulan mengisi tahlilan itu tidak terima. Dan terjadilah cekcok sampai pada kekerasan adu jotos. Yang menjadi masalah jadi panjang, pihak aparatur ada yang terluka parah ketika adu jotos dengan santri,” kata Shomadi.

“Ini, nih, masalah yang menjadi berkepanjangan. Pihak aparatur desa melaporkan Al-Islah ke keamanan ABRI di Subang. Laporan itu disebutkan berupa penganiayaan yang dilakukan oleh santri Al-Ishlah kepada pihak aparatur desa. Seperti ada kesempatan, tidak lama beberapa jam setelah pelaporan itu, malam-malam para aparatur keamanan (ABRI) datang dan mencari Pak Kiai,” lanjut Shomadi.

Shomadi melanjutkan bahwa pada malam itu Al-Ishlah dibredel, dan sosok KH Ushfuri orang yang paling dicari. Namun gusti Allah tidak membiarkan walinya itu didiskriminasi begitu saja, Shomadi yang menyaksikan langsung kejadian itu, karomah KH Ushfuri diperlihatkan kepada santri yang ada pada saat malam kejadian itu.

“Gini, nih, saya pertama-tama dan keempat santri lainnya diberikan mandat oleh Pak Kiai untuk kabur ke Cirebon. Awal-awal saya menolak, karena khawatir meninggalkan Pak Kiai.Tapi akhirnya Pak Kiai memastikan, kalau dirinya akan aman-aman saja,” imbuh Shomadi.

“Tapi benar saja, sebelum saya berangkat kabur, dari kejauhan, saya lihat Pak Kiai i’tikaf di mimbar pengimaman salat masjid. Dan apa yang kami lihat? Kami melihat para ABRI itu masuk ke masjid untuk mencari Pak Kiai. Tapi anehnya, mungkin, Pak Kiai seperti tidak terlihat dan tidak diringkus. Pak Kiai tetap fokus i’tikaf di masjid,” lanjut Shomadi.

Hari demi hari sudah dilalui dari kejadian malam itu. Ketika kembali dari Cirebon, Shomadi merasa bersyukur karena KH Ushfuri aman-aman saja berada di Pondok Pesantren Al-Ishlah dan tidak terluka sedikit pun karena kejadian malam itu.

“Itulah sedikit cerita karomah yang saya ketahui tentang beliau (KH Ushfuri). Saya dan santri lainnya, sudah menganggap dia sebagai waliyullah. Dan saya yakin, masih banyak karomah-karomah yang ada pada dirinya, harus butuh waktu yang panjang untuk menceritakan tentang karomah beliau,” pungkas Shomadi.

Saat dimintai keterangan langsung perihal kejadian itu, KH Ushfuri mengucapkan bahwa kejadian itu kejadian lama, dan dirinya sudah tidak ingat betul akan kejadian itu.

“Itu kan, kejadian lama, sudah lupa juga saya. Kalau misalkan apa yang disampaikan oleh mereka (Imron & Shomadi) seperti itu, ya, mungkin memang seperti itu kejadiannya,” jelas KH Ushfuri kepada NU Online Jabar.

“Tapi, kalau misal bersinggungan dengan urusan hak pilih, memang benar, saya sebagai warga NU digariskan memilih partainya orang NU. Pada saat itu kan, PBNU wajib memilih PPP, ya sudah, saya sebagai warga NU yang baik harus ikut anjuran itu, kepada santri saya harus mendukung PPP,” tegas KH Usfuri. (Bersambung)

Pewarta: Ryan Sevian
Editor: Abdullah Alawi