Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

KH Ushfuri Anshor (1): Riwayat Masa Kecil hingga Perjuangan Membangun Pesantren Al-Ishlah

KH Ushfuri Anshor (1): Riwayat Masa Kecil hingga Perjuangan Membangun Pesantren Al-Ishlah
KH Ushfuri Anshor (Foto: NU Online Jabar)
KH Ushfuri Anshor (Foto: NU Online Jabar)

Untuk kalangan warga Nahdliyin di Kabupaten Subang, pasti sudah tidak asing lagi dengan nama KH Ushfuri Anshor. Bahkan bukan hanya di Subang, namanya juga sudah dikenal di kalangan warga Nahdliyin Jawa Barat. 

Mengenai tahun kelahirannya, setidaknya ada dua versi. Pertama menurut biodata dari karya bukunya “Belum Terlambat Sebelum Kiamat, yang ditulis pada tanggal 04 Juli 1942. Sedangkan versi kedua pada tanggal 01 Januari 1942. Mengenai tentang dua versi tanggal lahirnya ini diperkuat langsung oleh salah seorang putranya, Imron Nurul Khoirot (50).

Menurut Imron, tanggal lahir KH Ushfuri memang mempunyai dua versi, dan Imron menganggap itu hal yang lumrah untuk orang-orang dulu yang menanggap bulan Masehi dan Hijriah sama.

“Ya, Bapak (KH Ushfuri) memang mempunyai dua versi tanggal kelahirannya. Itu karena biasanya bulan Hijriah itu dianggap bulan Masehi, ataupun sebaliknya. Tapi kalo di KTP yang dipakainya, yang tanggal 01 Januari tahun 1942,” keterangan Imron Nurul Khoirot melalui wawancara dengan NU Jabar Online.

Keturunan Kiai
KH Ushfuri ialah putra sulung dari pasangan Kiai Anshori dan Nyai Fatonah. Kiai Anshori ialah pendiri dan kepala desa pertama Desa Jatireja (sebuah desa dikawasan Subang Utara, desa perbatasan antara Subang dan Indramayu) Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang.

Menurut Imron, kakeknya itu ialah kiai yang memiliki kesaktian di luar nalar. Contohnya, ketika membersihkan hutan, babad alas, hanya dengan menggunakan tangannya saja, tidak menggunakan alat potong seperti golok atau gergaji.

“Sebelum jadi Desa Jatireja seperti sekarang ini, dulunya itu Jatireja hutan belantara. Lalu dibabad abis pohon-pohon besar hanya dengan menggunakan tangan saja, tidak menggunakan alat pemotong. Dan sekarang jadilah sebuah desa bernama Jatireja,” katanya.

“Itu kata orang-orang dulu, cerita orang tua pas saya kecil. Dan kata bapak juga. Terserah percaya atau tidak. Yang jelas, pada zaman dulu ilmu semacam itu sangat bermanfaat dan berguna, dibanding zaman sekarang,” lanjutnya.

Bukan hanya ilmu yang didapatnya buah jerih payahnya berguru ke berbagai kiai di beragam pesantren, KH Ushfuri mempunyai trah ilmu yang terdapat pada sosok ayahnya. Ibarat pribahasa, ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’. 

KH Ushfuri terlahir di lingkungan santri. Pada umur 12 tahun atau sekitar tahun 1952-1962, beliau menuntut ilmu di Pondok Pesantren Buntet Cirebon pimpinan KH Mustahdi Abbas. Dilanjut ke Pondok Pesantren Lirboyo pimpinan KH Mahrus ‘Aly pada tahun 1962-1963. Dan terakhir pada tahun 1963-1967, beliau menuntut ilmu di Pondok Pesantren ‘Abdul Fa’idl Blitar, pimpinan KH Ikhsan.

Setelah itu KH Ushfuri melancong ke pondok-pondok pesantren yang tersebar di Jawa Timur. Barulah pada tahun 1981 beliau mendirikan Yayasan Pondok Pesantren Al-Ishlah di Desa Jatireja, Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang, yang mana sampai hari ini Al-Ishlah masih berdiri, dan terus memberikan manfaat berupa kontribusi dalam mencerdaskan masyarakat.

Sebagai pengasuh langsung Al-Ishlah, KH Ushfuri sangat serius untuk menciptakan Al-Ishlah sebagai center of civilization. Itu terbukti dengan banyaknya pembangunan demi pembangunan gedung pusat pembelajaran yang dilakukan oleh KH Ushfuri dari 1981 hingga saat ini. 

Uniknya, pembangunan Pondok Pesantren Al-Ishlah yang dilakukan oleh KH Ushfuri tanpa memperoleh uang dari hasil pengajuan proposal bantuan atau meminta-minta sumbangan dari pihak lain.

Imron menjelaskan bahwa biaya untuk pembangunan Pondok Pesantren A-Ishlah yang dilakukan oleh KH Ushfuri bersumber dari rezeki dan karomah yang didapat langsung dari Allah SWT. Beliau melarang keras kepada santri-santrinya untuk membuat proposal dana bantuan.

“Andai, nih, andai, bapak menginginkan bangunan di Al-Ishlah bisa megah dalam satu malam saja, itu mungkin bisa saja terjadi. Tapi kan tidak mungkin juga kalau melihat masyarakat di sekitar. Nanti dikatanya bapak pakai ilmu hitam dan semacamnya,” kata Imron.

“Kalau bertanya sumbernya dari mana? Ya, jawabannya dari mana-mana. Selalu ada jalan rezekinya untuk melakukan pembangunan di Al-Ishlah,” lanjut Imron.

Dalam bentuk pendidikannya, Al-Ishlah adalah sebuah pesantren yang berfokus terhadap ilmu agama (Madrasah Diniyah), tapi Al-Ishlah juga menyediakan bentuk sekolah formal seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliah, dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Penyimpan Rahasia
Sebagai seorang yang dianggap Waliyullah, banyak cerita-cerita spiritual yang melekat pada sosok beliau. Dalam pandangan keluarga dan para santri, beliau dianggap mempunyai karomah tersendiri yang jarang orang lain ketahui. Imron menyebutkan bahwa KH Ushfuri adalah sosok yang pintar menyimpan rahasia. Tidak sembarangan orang bisa melihat langsung karomah yang dimilikinya.

“Tapi walau bagaimanapun, karomah bapak tetap diperlihatkan oleh Allah kepada kita. Misal, bisa mengajar di beberapa tempat dengan di waktu yang sama, Salat dan jalan di atas air, lipat bumi, dan mempunyai santri yang tak kasat mata oleh orang biasa seperti kita. Itu karomah yang pernah saya saksikan langsung. Dan saya yakin, bukan hanya saya yang pernah menyaksikan langsung karomah bapak. Ustadz yang sudah lama mengabdi disini, pasti sudah tidak aneh lagi dengan karomah yang bapak miliki,” kata Imron.

“Apalagi saya dan santri dulu pada tahun 1981 pernah menyaksikan langsung karomah yang dimiliki oleh bapak. Yaitu ketika Al-Ishlah baru berdiri dan dibredeli oleh ABRI- nya Orde Baru. Saya menyaksikan langsung ketika bapak dicari-cari oleh ABRI tapi tidak ditemukan, padahal bapak sedang i’tikaf di pengimaman masjid. Gusti Allah menutup mata luar penglihatan para ABRI itu,” lanjut Imron.

Baca Lanjutannya: KH Ushfuri Anshor (2): Demi NU dan Kisah Lolos dari Sergapan Tentara Orba

Pewarta: Ryan Sevian
Editor: Abdullah Alawi