Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

KH Tajudin Subki, Ajengan Ahli Falak Itu Telah Berpulang

KH Tajudin Subki, Ajengan Ahli Falak Itu Telah Berpulang
KH Tajudin Subki dan KH Dasuki saat umroh bersama di tahun 2018 (NU Online Jabar/Foto: Dok. KH Dasuki)
KH Tajudin Subki dan KH Dasuki saat umroh bersama di tahun 2018 (NU Online Jabar/Foto: Dok. KH Dasuki)

Kota Bandung, NU Online Jabar
Awan mendung duka di nusantara masih terus bergelayut.  Satu persatu para sesepuh dan kyai dipanggil ke haribaan-Nya. Duka yang mendalam tatkala mendengar kabar wafatnya salah satu sesepuh ulama di kota Bandung, KH Tajuddin Subki atau biasa dipanggil Pangersa Aah, Sabtu 23/1.

“Betapa kita tidak kehilangan, selain sebagai Rois Syuriyah PCNU Kota Bandung beliau merupakan rujukan ulama dari hampir seluruh Jawa Barat, khususnya di Bandung,” ujar KH Dasuki, Wakil Sekretaris PWNU Jabar.

Santri Pangersa Aah sudah banyak yang menjadi kiai di daerahnya. Alumni Pesantren Khozanaturrohmah yang diasuh bukan hanya berasal dari Jawa Barat, namun ada juga yang dari luar Jawa.

“Saya mengenal beliau sebagai sosok yang bersahaja, alim dan dekat dengan kader muda.  Beliau adalah ulama ahli fikih dan tasawuf, sehingga terlihat sangat berhati-hati dalam berbagai hal. Beliau selalu merujuk kepada kitab kuning ketika menjawab suatu persoalan,” kenang KH Das.

“Pertengahan tahun 2018 kemarin kebetulan kami berangkat rombongan umroh bareng bersama para ulama sepuh dari berbagai daerah,” tambahnya.

KH Dasuki masih ingat betul bagaimana Pangersa Aah meskipun sudah sepuh tapi ketika di Makkah dan Madinah begitu sehat dan tiada lelah untuk beribadah, baik ketika di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi.

“Saat di Makkah dan Madinah saya beberapa kali main ke kamarnya dan berdiskusi banyak hal. Khususnya berdiskusi tentang ilmu falak yang merupakan keahlian beliau. Saat itu kita berdiskusi tentang karya Abu Ma'syar al-Falaki, mengenai ilmu 'adad, hisab jumal dan lainnya,” kenangnya.

Ingatan KH Dasuki kemudian terantuk pada momen Pangersa Aah menghitung namanya dengan metode hisab jumal dan kemudian menyarankan kepadanya untuk dzikir wirid tertentu sebagai pelengkap hitungan namanya.

Kepiawaian beliau dalam ilmu falak ini diakui oleh berbagai kalangan. Suatu waktu ada salah satu pengurus PWNU yang bercerita kepada KH Dasuki bahwa yang bersangkutan datang ke Kiai Tajuddin untuk berkonsultasi soal anaknya, dan disarankan untuk mengganti nama anaknya karena dianggap kurang cocok. Begitulah Pangersa Aah selalu menjadi rujukan dalam berbagai hal.

Lahu Al-Fatihah

Pewarta: Muhyiddin