Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

KH Ramdan Fawzi, Ajengan Gondrong Penyembelih Hewan Kurban di PWNU Jawa Barat

KH Ramdan Fawzi, Ajengan Gondrong Penyembelih Hewan Kurban di PWNU Jawa Barat
KH Ramdan Fawzi (berkaus merah) saat akan menyembelih hewan kurban (Foto: NU Online Jabar/Iqbal)
KH Ramdan Fawzi (berkaus merah) saat akan menyembelih hewan kurban (Foto: NU Online Jabar/Iqbal)

Bandung, NU Online Jabar
PWNU Jawa Barat menyembelih hewan kurban sebanyak 10 sapi dan 2 kambing di halaman gedung Dakwah PWNU, Kota Bandung, Rabu (22/7). Hewan-hewan kurban itu, 5 di antaranya disembelih ajengan muda asal Bandung Barat, KH Ramdan Fawzi. 

Pengasuh Pondok Pesantren Robitoh Parongpong ini menjadi langganan penyembelihan hewan-hewan kurban tiap Hari Raya Idul Ahda yang dilaksanakan PWNU Jawa Barat.

Menurut Ajengan Ramdan, dirinya mulai dipercaya menyembelih hewan kurban di PWNU sejak 2013. Saat itu ia disuruh menjadi juru sembelih hewan kurban  oleh Sekretaris PWNU Jawa Barat almarhum Wahyu Wibisana.

Tiasa meuncit (bisa menyembelih, red.)?” tanya Pak Wahyu yang ditirukan Ajengan Ramdan. 

Tiasa (bisa, red.),” jawab Ajengan Ramdan waktu itu. 

Padahal ia sama sekali belum pernah menyembelih sapi sama sekali, tapi memiliki pengalaman menyembelih kambing beberapa kali. Menurut dia, meskipun hewan yang akan dihadapi lebih besar, tapi secara teoretis dalam penyembelihan sama saja. 

“Jadi, ini persoalan mental,” katanya. “Jika ditanya kenapa bisa menyembelih? Ya karena terpaksa, akhirnya terbiasa, lalu menjadi bisa,” lanjutnya. 

Karena mental itulah, tahun itu ia berhasil menyembelih 4 sapi PWNU pada Idul Adha tahun itu. Keberhasilan itu mengantarkan menjadi juru sembelih langganan PWNU tiap tahun, kecuali pada 2019. Tahun itu ia berada di Tanah Suci Makkah, melaksanakan rukun Islam kelima.   

Lebih lanjut ajengan berambut gondrong ini menceritakan pertama kali melakukan penyembelihan. Saat pulang kampung setelah mondok di Pesantren Siqayaturrahmah Selajambu, Kabupaten Sukabumi, pada tahun 2003, tetangganya meminta dirinya untuk menyembelih hewan untuk aqiqah.

Kebetulan tetangganya itu berprofesi sebagai seorang jagal. Penjagal itu mengatakan bahwa doa menyembelih ada di para ustadz, tapi teknik menyembelih ada di tukang jagal. Ajengan Ramdan mengakui itu. Ia pun meminta diajari teknik penyembelihan.  

“Tentu yang pertama berdoa, lalu alat penyembelihan harus tajam, tajamnya pakai banget, harus tajam pokoknya, kedua, cara merebahkan kambingnya. Jadi si lutut kaki kiri kambing berada di kepalanya dan dagunya ditarik tangan kiri supaya uratnya terpentang. Lalu golok di simpan di leher,” terangnya. 

Biasanya, lanjut Sekretaris DKM Masjid PWNU Jawa Barat ini, dengan posisi semacam itu, disertai golok atau pisau yang sangat tajam, urat-urat leher kambing langsung terputus dalam satu tarikan golok. 

“Sebaiknya satu tarikan golok terputus, maksimal tiga tarikan karena kalau lebih bisa makruh. Usahakan sebelum tiga tarikan, urat napas sama urat jalur makan si hewan terputus,” ungkapnya.

Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jawa Barat ini menekankan jangan mencoba menyembelih hewan dengan golok atau pisau yang tidak tajam karena khawatir akan menyebabkan hewan yang disembelih kesakitan dalam waktu lama. 

“Itu tidak boleh. Harus dipastikan alat sembelih tajam, harus sangat tajam,” tegas ajengan yang pernah berguru kepada Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Sukabumi KH Mahmud Mudrikah Hanafi ini.   

Oleh karena itu, ia memiliki golok khusus yang ketajamannya di atas rata-rata. Golok miliknya, sampai sapi ke-10 pun masih sangat tajam,” katanya, “harga golok saya di atas 1,5 juta,” tambahnya ketika ditanya harga golok itu.  

Pewarta: Abdullah Alawi