Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

KH Muammar ZA Inspirator Bacaan Qiraah Sab’ah Indonesia

KH Muammar ZA Inspirator Bacaan Qiraah Sab’ah Indonesia
KH Muammar ZA saat muda
KH Muammar ZA saat muda

Oleh M. Sakdillah

Suatu waktu, pada masa Orde Baru, ibu penulis mengikuti acara nasional yang dihadiri oleh Presiden Soeharto di Hotel Borobudur Jakarta. Duduk di sebelah kirinya seorang pria ganteng, bertubuh tidak terlalu besar. Kulitnya bersih, mengenakan kopiah hitam, berkacamata, dan berjas rapi. 

Ibu tampak biasa saja tidak memperhatikan pria ganteng yang duduk di sisinya itu. Ia asyik dengan dirinya sendiri mengikuti sesi demi sesi acara. 

Ketika sang MC menyebutkan nama KH Muammar ZA untuk membacakan Al-Qur’an sebagai pembuka acara, pria ganteng di sisi ibu langsung berdiri dan maju ke podium. Sontak, ibu kaget, “Lho, ternyata dia Muammar?” katanya, bergumam dalam hati. Ibu tampak senang menampakkan wajah histeria ketika bercerita pengalaman menarik dan mengejutkan itu.

Maklum, ibu orang desa yang biasa mendengarkan lantunan suara merdu KH Muammar ZA hanya melalui kaset-kaset “tape recorder” dan corong pelantang di masjid setiap akan ada acara pengajian ibu-ibu Muslimat atau menjelang shalat Jumat tiba. Ibu mungkin adalah salah seorang yang mengalami hal yang sama, meskipun dia juga sering mendampingi Bapak menyambut tamu-tamu nasional di pendopo kabupatenan.

Lantunan suaranya yang menggema di masjid-masjid seantero Nusantara (Asia Tenggara) belum tergantikan hingga kini. Sifatnya yang pendiam dan tidak banyak tingkah membuat dirinya jauh dari gosip-gosip negatif, kecuali cerita-cerita yang sedikit lucu (karena tubuhnya yang mungil di antara orang-orang Arab) ketika sedang mengikuti kompetisi Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat internasional. Manakala lawan-lawan tandingnya adalah orang-orang Arab atau Afrika yang memiliki tarikan dan simpanan napas yang panjang, kelebihan KH Muammar ZA bukan saja pada napasnya yang panjang, namun pada oktaf suara yang stabil.

Bagi sebagian para kiai pesantren yang mengajarkan tahfidz Al-Qur’an, santri-santri yang hendak mempelajari “Tujuh Dialek Bahasa Arab” yang dikenal dengan Qiraah Sab’ah dalam mengeja bacaan Al-Qur’an itu harus melalui tahapan-tahapan selektif. Tidak semua santri diperbolehkan dan diberikan kesempatan belajar. Hanya santri-santri yang biasanya sudah menyelesaikan tahapan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Kalau belum lancar hafalan Al-Qur’an 30 juz,  maka tidak diperbolehkan untuk mempelajari Qiraah Sab’ah tersebut. 

Hal ini yang menyebabkan KH Muammar ZA belum mendapat simpati yang besar dari sebagian para kiai pada masa itu. Masih banyak yang kurang menaruh respek padanya. Para kiai khawatir pembaca-pembaca Al-Qur’an (qari) yang tidak mengerti Qiraah Sab’ah akan mengikuti gaya bacaan KH Muammar ZA tanpa menggunakan ilmu. Belum lagi, pada tahap musabaqah sendiri, tidak semua kiai setuju dengan adanya lomba seni membaca Al-Qur’an tersebut, meskipun dengan tujuan mulia untuk syiar dan dakwah.

Dalam mengenang masa-masa kejayaan “tape recorder” era 1980-an, KH Muammar ZA memang memiliki kualifikasi tersendiri. Namanya sama populer dengan penyanyi-penyanyi dangdut yang digemari oleh masyarakat awam hingga ke pelosok-pelosok desa seperti H. Rhoma Irama atau Elvi Sukaesih. Mereka seakan terbius oleh lantunan lagu yang memiliki irama mendayu dan kadang menghentak nyaring dari Al-Qur’an yang dibacakannya. 

Namun demikian, sejalan dengan waktu, ketika perguruan-perguruan tinggi khusus Al-Qur’an mulai tumbuh seperti Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, atau Institut Ilmu Al-Qur’an An-Nur, Bantul, Yogyakarta, memasukkan Qiraah Sab’ah ke dalam kurikulum dan dikaji sebagai ilmu, polemik pembacaan Qiraah Sab’ah kian berkurang. 

Berkat KH Muammar ZA salah satunya, setiap orang dapat mempelajari Qiraah Sab’ah sebagai ilmu, tanpa harus melewati proses yang sulit. Bisa saja, KH Muammar ZA adalah pelopor sekaligus inspirator yang memasyarakatkan Qiraah Sab’ah di Indonesia. Kini, umat Islam Indonesia, bahkan internasional, sudah memahami duduk persoalan tentang Qiraah Sab’ah tersebut dan mereka masih dapat menikmati suara indah KH Muammar ZA.

Nama lengkapnya adalah KH Muammar Zainal Asyikin (disingkat ZA), lahir pada 14 Juni 1954 di Pamulihan, Warungpring, Moga, Pemalang. Sejak usia tujuh tahun, ia sudah menjadi peserta lomba qiraah di Pemalang pada 1962. Pada 1967, ia menjuarai Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Secara berturut-turut (1967, 1972, 1973), ia menjuarai MTQ tingkat nasional mewakili DIY. Dan, puncak prestasinya di tingkat internasional diraih pada 1979 dan 1986.

KH Muammar ZA, Pengasuh Pondok Peasntren Ummul Qura Tangerang itu, telah menjadi ikon bagi warga NU secara khusus apabila ditilik dari aspek sejarah MTQ, meskipun ia terlahir dari siklus dan alam masyarakat desa yang sangat kental dengan tradisi NU.

MTQ adalah tradisi yang lahir dari kultur NU, pertama diselenggarakan pada 1940 di Bandung oleh Jam’iyyatul Qurro wal Huffadz, lembaga yang kemudian menjadi badan otonom (Banom) NU. Sejak 1968, MTQ diselenggarakan secara nasional atas promosi Menteri Agama, KH Muhammad Dahlan (Ketua PBNU), kala itu. MTQ pertama kali diselenggarakan di Makassar dan sudah dapat dinikmati keberkahannya oleh semua kalangan, tidak hanya sebatas warga NU saja. MTQ kedua diselenggarakan di Banjarmasin pada 1969. Pada 1970, MTQ kembali diselenggarakan di Jakarta dengan suasana yang sangat meriah.

Penulis adalah Nahdliyin, pernah nyantri di Tebuireng