Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

KH Mahmud Mudrikah Hanafi,  Ahli Jam’ul Jawami’ dari Sukabumi

KH Mahmud Mudrikah Hanafi,  Ahli Jam’ul Jawami’ dari Sukabumi
Pengasuh Pondok Pesantren Siqoyaturrahmah KH Mahmud Mudrikah Hanafi (Foto: Facebook Ponpes Siqoyaturrahmah Sukabumi)
Pengasuh Pondok Pesantren Siqoyaturrahmah KH Mahmud Mudrikah Hanafi (Foto: Facebook Ponpes Siqoyaturrahmah Sukabumi)

Beberapa hari lalu, halaman Facebook Ponpes Siqoyaturrahmah Sukabumi mengajak para santri, alumni dan muhibbin untuk mengikuti pengajian bulanan KH Mahmud Mudrikah Hanafi. Salah satu kitab tersebut Jam’ul Jawami’. 

KH Mahmud Mudrikah Hanafi merupakan salah seorang ulama yang alim dikenal memiliki keluasan ilmu, tidak hanya menurut para santrinya, tapi para kiai lain. Tak sedikit para kiai mengikuti pengajian yang diampunya setiap bulan. 

Tentu saja, dia tak hanya menguasai satu kitab karena setiap ilmu itu saling berkaitan. Namun, kajian Jam’ul Jawami’, terbilang menonjol di samping kitab-kitab lain dalam berbagai fan ilmu yang biasa dikaji di pesantren. 

Pada pengajian bulanan, selain kitab Jam’ul Jawami’, dia juga membuka kajian Bugiyah, Alfiyah,  Tafsir Munir juz 2, Jami'us Shogir, Tanwirul Qulub, Ihya Ulumuddin juz 1, Aurodul Waqiah,  Minhajul Abidin, Iqna, dan Qolyubi.

Pengasuh Pondok Pesantren Siqoyaturrahmah yang dipanggil Ama Siqoy oleh para santrinya ini lahir di Sukabumi Selatan atau daerah Jampang Kidul, tepatnya di Desa Cibadak Kecamatan Pabuaran pada tanggal 8 Agustus 1945 dari pasangan KH Hasbulloh dan Ibu Hj Syamsiah. 

Sejak lahir dan tumbuh besar, Ama Siqoy berada di lingkungan pesantren yang tentunya kental tradisi keilmuan Ahlussunah wal Jamaah yang mendarah daging dalam tradisi Nahdliyin. 

Menurut Ama Siqoy, kakek dari pihak ibunya bernama KH Hanafi berhasil mendidik keturunannya menjadi pemuka agama dan mampu mendirikan pondok pesantren. Kiai pertama yang mendirikan pesantren di wilayah Jampang adalah ayahnya. 

Sementara kakek dari pihak bapaknya bernama KH Ahmad Soleh, merupakan keturunan Dalem Cikundul, Cianjur generasi kesepuluh dari R. Aria Wiratanudatar. 

KH Ahmad Soleh, semasa hidupnya sampai wafat menjalankan tirakat puasa sunah selama 30 tahun. Tirakat itu sebagai upaya dirinya agar mendapatkan  anak cucunya yang siap mengurusi ajaran Islam Ahlussnah wal Jama'ah.

Riwayat Mencari Ilmu
Ama Siqoy pernah menimba ilmu di beberapa pesantren di antaranya, di Pesantren Cibeureum Darul Hikam kepada Mama Ajengan KH Mahmud Zamakhsari. Kemudian melanjutkan ke Pesantren Cikaret. Selanjutnya ia berguru kepada Mama Ajengan KH Tubagus Ahmad Bakri As-Sampuri Purwakarta (Mama Sempur), salah seorang ulama karismatik Sunda, dan produktif menulis sejumlah kitab, keturunan kesultanan Banten. 

Selanjutny Ama Siqoy berguru kepada KH Ahmad Syuja’i yang dikenal dengan panggilan Mama Ciharashas, Cianjur. Mama Ciharashas merupakan ulama terkemuka yang banyak melahirkan tokoh ulama di Jawa Barat. Ia wafat di Makkah saat menjalankan ibadah pada tahun 80-an. 

Selain berguru di ulama-ulama Jawa Barat, Ama Siqoy juga pernah berguru ke salah satu ulama Makkah Said Alwi Al-Maliki sewaktu dirinya menunaikan ibadah haji bersama istrinya Hj. E. Kuraesin pada 1982, selama 6 Bulan. 

Sementara riwayat pendidikan formalnya, Ama Siqoy hanya pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR).

Perjuangan melalui NU
Ama Siqoy ditempa Mama Ciharashas agar selalu berjuang untuk NU. Pada masa pergolakan Gestapu tahun 1965 dirinya tengah menjabat sebagai Ketua GP Ansor Sukabumi pernah diutus oleh mama Ciharashas ke Lubang Buaya selama empat hari empat malam bersama dengan rombongan lain. 

Sebagaimana kita ketahui pada peristiwa akhir September dan awal Oktober tahun 65 NU mengeluarkan pernyataan resmi yang menuntut pembubaran PKI  dan organ-organnya dan menyerukan keterlibatan umat Islam untuk mendukung ABRI dalam aksi penumpasan PKI. 

Semenjak itu Ama Siqoy mulai berkhidmah di NU sampai sekarang. Saat ini ia adalah Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Sukabumi. 

Pada masa kepemimpinannya, bersama KH Abdul Basith dan dilanjut masa kepemimpinan KH Ansori Fudholi serta pengurus yang lain berhasil mendirikan bangunan kantor NU.

Menurutnya berjuang di NU itu harus dengan sungguh-sungguh tapi tidak perlu ingin dilihat banyak orang karena sudah begitu seharusnya prinsip orang NU. 

“Orang NU itu dari dulu kalau berjuang tidak pernah menonjolkan diri walaupun berjuang sekuat tenaga,” tuturnya lagi dengan nada tegas.

Keberhasilannya memimpin NU saat ini adalah dengan terbentuknya MWCNU di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Sukabumi, bahkan beberapa MWC sudah mampu memiliki kantor sendiri. 

“Semua MWCNU sudah terbentuk, malah sebagian sudah ada kantornya. organisasi itu bisa maju kalau sudah punya sekretariat atau kantor, alhamdulillah dengan berusaha sekuat tenaga sudah mampu terbangun, semoga ke depan mampu sampai selesai,” tuturnya.

Ama Siqoy tentu saja selalu mengikuti perkembangan NU dengan menghadiri forum seperti muktamar NU di antaranya Muktamar NU Ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. Ama Siqoy turut menyaksikan ketegangan NU waktu itu.

“Yang Ama saksikan Soeharto itu ingin menghancurkan dan menghabisi NU, tapi karena NU itu karomah, malah semakin kuat,” tegasnya.

Menurut ceritanya, selama masa Orde Baru ia pernah beberapa kali dipanggil ke Kodim beserta beberapa santri untuk diinterogasi karena pergerakannya di NU. Hal ini menunjukkan sikap intimidatif rezim Orde Baru terhadap hal-hal di luar yang dikehendakinya 

Selain aktif menggerakkan NU, Ama Siqoy juga menjadi salah satu deklarator PKB di Sukabumi beserta kiai lainnya. Sampai hari ini dirinya masih intens mengawal kegiatan-kegiatan partai itu. 

Dalam salah satunya kisahnya, selepas acara di Pondok Pesantren Al-Masthuriyah, Ama Siqoy pernah bareng bersama Gus Dur berkunjung ke Jampang Tengah ketika Gus Dur hendak menemui salah satu sahabat mondoknya waktu di Pesantren Tambak Beras. 

Membangun Pesantren
Pada tahun 1972 Ama Siqoy mendirikan Pondok Pesantren yang kemudian diberi nama Siqoyaturrahmah yang beralamat di Jalan Selabintana Km 5 Selajambu Kabupaten Sukabumi. Pesantren ini berdiri diatas lahan kurang lebih 4000 m tanah wakaf dari para tokoh dan kiai setempat. 

Saat ini santri yang mukim tidak kurang dari 250 Santri, dan sudah menghasilkan banyak alumni terkemuka yang tersebar di Sukabumi serta daerah lain dengan tidak meninggalkan jejak gurunya yaitu untuk tetap aktif dan berkhidmah di NU seperti yang di amanatkan Mama Ciharashas kepadanya.

Pesantrennya sendiri mempunyai khas kajian yaitu ushul fiqh. Kajiannya kitab Jam’ul Jawami-nya masyhur di kalangan pesantren Jawa Barat. Dalam pengajian kitab itu, tidak hanya santri yang mukim yang mengaji, tapi kiai-kiai dari beberapa daerah juga turut serta.   

Penulis: Amus Mustaqim
Editor: Abdullah Alawi