KH Lukman Hakim Pencetus Metode ILHAMQU untuk Cepat Hafal Al-Qur’an (Bagian 5)

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
KH Lukman Hakim
KH Lukman Hakim

Metode ILHAMQU yang dicetuskan oleh seorang ulama muda dan hafiz asal Kabupaten Cirebon, yaitu KH Lukman Hakim, memiliki berbagai keunggulan, selain mampu dengan mudah dan cepat bagi para calon hafiz dan hafizah (penghafal) untuk menghafal kitab suci, juga mampu mendatangkan kerianggembiraan dan memunculkan motivasi yang kuat karena mengetahui 7 keajaiban menghafal Al-Qur’an. 

Selain itu, menurut Kang Lukman, para penghafal Al-Qur’an juga harus mengetahui 7 hambatan menghafal Al-Qur’an. Bagi sebagian orang, menghafal al Qur’an sungguh “tidak bersahabat”. Setiap hari harus menghafal, belum lagi repot menjaganya. Atau, muncul ketidakpedean, meragukan diri sendiri, untuk bergegas menghafal al Qur’an. Dalam dunia sains, perasaan ini disebut mental block. Apa itu? Hambatan yang diciptakan oleh kita sendiri. Kok bisa? ya, karena 88-90 persen tindakan kita setiap hari ditentukan oleh pikiran bawah sadar sedangkan pikiran sadar hanya memengaruhi sebesar 10-12 persen saja. 

“Sebenarnya, kita dikendalikan oleh pikiran bawah sadar dalam bertindak, bersikap, mengambil keputusan, berbicara, berpikir, dan segudang aktivitas lainnya. Yuk, saatnya kita menyimak tujuh hambatan yang menjadi dinding tebal sehingga orang berpikir ribuan kali untuk menghafal al Qur’an. Berikut ini kita coba uraikan satu persatu 7 hambatan tersebut lengkap dengan cara menghadapi atau kunci solusinya,” ungkap Kang Lukman.

1. Hafal Al-Qur’an, Sulit dan Tidak Mungkin 

Hambatan pertama dalam menghafal Al-Qur’an adalah munculnya perasaan sulit dan tidak mungkin, padahal menghafal itu seperti latihan. Pernahkah anda mencoba lari satu putaran mengelilingi lapangan sepakbola? Pertama kali mencoba, mungkin terasa amat berat. Tapi jika diulang dan terus diulang hingga terbiasa, maka lari satu putaran tidak terasa susah. Begitu juga menghafal. Pertama kali menghafal terasa berat, tapi dengan melakukannya secara rutin hal itu bukan lagi masalah. Dalam berlari, anggota tubuh sedang menyesuaikan diri, maka saat menghafal sesungguhnya otak kita juga sedang beradaptasi. Kuncinya, cobalah dan rutinkan. 

“Hari ini, kita telah hafal al Fâtihah dan beberapa surat, iya kan? Tentu menghafalnya berawal dari satu ayat ke ayat yang lain. Dulu saja kita mampu, maka sekarang tentunya lebih mampu. Sebab, kita lebih unggul dari sebelumnya. Pengetahuan, pengalaman, wawasan, dan kedewasaan kita sudah jauh meningkat. Ini berbeda dengan kita pada masa kanak-kanak, atau anak-anak seperti Musa, di mana semua hal itu masih di level terendah. Pengetahuan kita rendah, pengalaman tak banyak, wawasan masih sempit, dan kedewasaan yang belum tumbuh. Katakanlah kita berkomitmen menghafal satu ayat sehari maka dalam satu tahun kita akan hafal 365 ayat. Apalagi, kalau sehari hafal 2-3 ayat, maka hafal tiga puluh juz bisa dicapai dalam jangka sekitar lima tahun. Menghafal tak perlu ngebut, pelan asal sampai tujuan: menjadi ahlullah, keluarga Allah,” beber Kiai yang aktif memberikan pelatihan Metode ILHAMQU ke berbagai kalangan masyarakat ini. 

2. Malas Menghapal Al-Qur’an 

Hambatan kedua dalam menghafal Al-Qur’an adalah merasakan ‘malas’ tak berujung. Sebagai manusia, tentu ini wajar-wajar saja. Namun, atas nama manusia, malas mesti dilawan. Nabi Muhammad sampai berdoa agar dihindarkan dari rasa malas. Karena memang malas tidak ada obatnya. “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan usia jompo, perbuatan dosa dan hutang, fitnah kubur dan azab kubur, fitnah neraka dan azab neraka, keburukan fitnah kekayaan, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kemiskinan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Masih Dajjal”, ini doa yang beliau panjatkan. 

“Malas sendiri dianggap sebagai penyakit kekurangan atau kehilangan motivasi. Oleh karena itu, temukan kembali motivasi itu. Setelah itu, bergeraklah dan jangan ditunda lagi. Begitu juga dalam proses menghafal. Sesaat setelah malas ini muncul, diamlah sejenak. Temukan motivasi pertama dan ujung dari mimpi anda. Bismillah, beranjak dan melangkahlah,” ujar Kiai yang dikenal rendah hati dan supel dalam bergaul ini.

3. Usia Tak Menunjang

Hambatan ketiga dalam menghafal Al-Qur’an adalah soal umur atau usia seseorang. Usia memang menjadi ‘hambatan’ paling tebal untuk menghafal. Yang muda aja sulit, apalagi saya? Coba flashback saat Al-Qur’an pertama kali turun. Berapakah usia nabi saat itu? Ya, usia nabi sudah kepala empat, 40 tahun. Usia yang tak muda lagi. Sahabat Abu Bakar, Umar, dan sahabat senior lainnya, lebih tua dari Nabi. Pertanyaanya, apakah mereka berhasil hafal Qur’an? Jawabannya, iya.

“Kita juga yakin, bahwa kecerdasan menurun seiring usia yang makin menua. Benarkah demikian? Baik, kita mulai dari temuan riset modern. Joshua Hartshrone, peneliti dari Departement of Brain and Cognitive Science Massachusetts Institute of Tehchnology (MIT), dan Laura Germine seorang psikiater sekaligus ahli perkembangan saraf Massachusetts General Hospital (MGH) menemukan fakta bahwa puncak (ketajaman) kognitif manusia beragam. Usia boleh jadi tua, tapi puncak kognitif akan berbeda satu sama lain (Hartshorne & Germine, 2015). Ketajaman kognitif (daya ingat) memang menurun seiring usia karena tak pernah dilatih. Oleh karena menghafal al Qur’an bisa dijadikan media menjaga ketajaman otak meski usia terus bertambah,” tegas Kang Lukman.

Kang Lukman mencontoh seorang penghafal Al-Qur’an bernama Masrukhin yang Hafal Al-Qur’an setelah pensiun. Masrukhin lahir di Jombang 63 tahun silam tepatnya 6 Juni 1956, Masrukhin adalah purnawirawan TNI yang saat ini menjadi satpam di MQ Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Sembari menjaga keamanan, ia melihat hilir-mudik santri yang sedang menghafal Al-Qur’an. Melihat mereka, dalam hatinya terbersit hasrat menggebu ingin meniru mereka: hafal Al-Qur’an. Namun, pikirannya bergejolak, apakah ‘manusia’ seusianya mampu?  Untuk menghilangkan kegalauan ini, ia memutuskan berkonsultasi. Untungnya, ia mendapat wejangan luar biasa: menghafal Al-Qur’an tak kenal usia. 

Akhirnya, ia memutuskan menghafal Al-Qur’an sejak 12 Februari 2011. Tak butuh waktu lama, 4,5 tahun setelahnya, 20 Desember 2015, ia berhasil menghafal 30 juz.  Puncaknya, ia pun diwisuda bersama para penghafal Qur’an yang usianya jauh lebih muda darinya. 

“Kok bisa ya? Rupanya, pak Masrukhin punya motivasi tinggi. Kalau yang lain bisa, kenapa saya tidak. Motivasi lainnya, beliau ingin berdampingan dengan Nabi Muhammad sekaligus menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat,” tutup Kang Lukman.

Penulis: Iing Rohimin
Editor: Abdullah Alawi