Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

KH Hasan Nuri Hidayatullah, Kiai Muda Visioner (Bagian 1)

KH Hasan Nuri Hidayatullah, Kiai Muda Visioner (Bagian 1)
Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah (Foto: NU Online Jabar)
Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah (Foto: NU Online Jabar)

Nama KH Hasan Nuri Hidayatullah atau lebih dikenal dengan Gus Hasan merupakan nama yang tidak asing lagi bagi kebanyakan penduduk di wilayah Karawang, Jawa Barat, khususnya Kecamatan Cilamaya. Kiai ini dikenal sebagai sosok muda yang santun, cerdas, progresif, dan visioner. Walaupun usianya masih relatif muda, namun keilmuannya sangat mumpuni layaknya kiai-kiai sepuh lainnya. Hal ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dari pendidikan yang ditempuhnya baik dari lingkungan keluarga maupun pesantren lainnya.

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan
Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, begitulah pepatah yang pas untuk menggambarkan pribadi Gus Hasan. Beliau merupakan putra hasil pernikahan KH Ibrahim Majid, seorang kiai dari Banyuwangi dan Nyai Hj Sa’adatul Ukhrowiyah (putri pendiri Pesantren Manba’ul Ulum Berasan Muncar, Banyuwangi).

Semenjak kecil, pesantren menjadi lingkungan yang sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian Gus Hasan. Tata laku yang diajarkan oleh sepuh-sepuhnya menjadikannya seorang pribadi yang sangat mencintai ilmu dan mengayomi masyarakat.

Pendidikan kecilnya dia habiskan di Pesantren Manba’ul ulum Berasan, Muncar, Kabupaten Banyuwangi pimpinan KH Iskandar (Askandar), yang notabene kakeknya sendiri. Sebagaimana layaknya kehidupan pesantren pada umumnya, walaupun merupakan putra seorang kiai, serta merupakan cucunya sendiri, Gus Hasan dididik dengan kesederhanaan dan kebersahajaan. Kecintaannya terhadap teman-temannya sesama santri menjadikan Gus Hasan lebih memilih tinggal di asrama santri daripada tinggal di rumah kakeknya (ndalem)-sebutan untuk rumah kiai di Jawa. Kehidupan santri yang ala kadarnya, serta jauh dari kesan mewah.

Sikap rajin, ramah dan mudah bergaul menjadikan Gus Hasan banyak disenangi oleh teman-temannya. Di tambah lagi dengan kecerdasan yang dimilikinya. Jika mendapati temannya kesulitan dalam dalam belajar, dia tak sungkan-sungkan membantunya. Di mata mereka, ia menjadi tempat bertanya tentang banyak hal.

Sikap suka membantu temannya tidak hanya dia tunjukkan dalam hal-hal yang bersifat pelajaran, namun juga dalam segi materiil. Dia tak jarang mentraktir teman-temannya ketika datang kiriman bekal dari orang tuanya. Dalam pandangan teman-temannya, ia merupakan sosok yang suka berbagi serta tidak pelit. Sikapnya yang demikian, tak pelak menjadikannya sebagai sosok santri yang istimewa dimata teman-temanya. Di mana ada Gus Hasan, di situ pasti teman-temannya berkumpul.

Selama di pesantren, dalam hal belajar Al-Qur’an, Gus Hasan dibimbing langsung oleh neneknya, sedangkan dalam ilmu fiqih dia dibimbing oleh KH Hasan Sadzili yang notabene pakde-nya. Dalam hal ini bukan hanya nasab Gus Hasan yang jelas, tetapi sanad keilmuannya pun terlihat secara jentre (jelas).

Pendidikan dasar dia lalui dengan segudang pengalaman masa kecil yang menarik. Setelah pendidikan dasar dia tamatkan. Keingintahuannya yang tinggi terhadap lingkungan pesantren di luar daerah kelahirannya menjadikannya dia lebih memilih melanjutkan pendidikan menengahnya di Jakarta, yakni Pondok Pesantren Ash-Shidiqiyah Pimpinan KH Noer Iskandar yang notabene pamannya sendiri.

Pendidikan dan kehidupan Jakarta yang sangat berbeda dengan lingkungan pesantren di Jawa Timur menjadikannya sebagai pribadi tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan. Corak dan kultur kehidupan Jakarta yang kompleks sebagai muara budaya dari berbagai daerah serta sarat dengan perbedaan dengan Jawa Timur menjadikannya luwes dalam menilai serta menyikapi segala perbedaan yang ada di lingkungan santri.

Sikapnya yang demikian menjadikannya sosok yang dianggap mampu membawahi organisasi siswa (OSIS) SMP. Selama menjadi pengurus OSIS, Gus Hasan banyak memberikan teladan bagi siswa-siswa lainya. Dia tunjukan kepada teman-temanya bahwa organisasi bukanlah penghalang suksesnya seseorang. Tetapi justru dengan berorganisasi maka kesuksesan yang kita dambakan akan semakin mudah kita raih. Banyak ilmu yang tidak kita dapatkan di ruang kelas, namun akan kita dapatkan melalui wadah organisasi.

Setelah tamat dari SMP, Gus Hasan melanjutkan pendidikan SMA di pesantren yang sama. Kesukaannya terhadap organisasi dan kemampuannya dalam pengetahuan agama menjadikannya diamanahi sebagai ketua Rohis tingkat SMA se-Jakarta Barat.

Berbekal keuletan dan kedisiplinan yang selalu menjadi prinsipnya, ia banyak menorehkan prestasi, baik dalam lomba-lomba yang diadakan oleh pesantren maupun lembaga lainnya, di antaranya adalah sempat menjadi juara lomba muhadlarah antarsantri yang diadakan oleh pesantrennya.

Menuntut Ilmu di Kota Nabi
Pada tahun 1997, setelah lulus dari pendidikan menengah Gus Hasan melanjutkan pendidikannya di rubbat Al-Jufri, Madinah Arab Saudi. Pilihan melanjutkan ke kota Nabi Muhammad, selain karena kehausannya terhadap ilmu agama, juga atas dorongan keluarganya agar selain belajar, nantinya bisa menunaikan ibadah haji.

Berbekal restu orang tua dan keinginannya memperdalam pengetahuan agama yang begitu kuat, serta tekadnya untuk tidak mengecewakan keluarganya, ia menjalani pendidikanya dengan penuh kesungguhan. Selama mesantren di Al-Jufri, banyak masyayikh yang dia datangi untuk menimba ilmu di antaranya Habib Zein bin Smith, Habib Salim bin Abdullah As-Syatiri dan Syekh Musthofa At-Turki.

Bersama beberapa temannya, dalam memanfaatkan waktu emas selama belajar di Madinah, Gus Hasan menunaikan rukun Islam kelima. Pada tahun-tahun berikutnya pun dia selalu menyempatkan untuk melaksanakan ibadah haji. Sehingga, selama 4 tahun keberadaannya di Madinah, ia tidak hanya mendapatkan banyak ilmu dari para masyayikh, tetapi juga pengalaman yang tidak kalah hebatnya adalah membimbing jamaah untuk melaksanakan ibadah haji. (Bersambung)

Penulis: Ali Khosim
Editor: Abdullah Alawi