Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

KH Afifuddin Muhajir Sosok Tawadhu, Manut Guru, dan Pembelajar

KH Afifuddin Muhajir Sosok Tawadhu, Manut Guru, dan Pembelajar
KH Afifuddin Muhajir (Foto: NU Online)
KH Afifuddin Muhajir (Foto: NU Online)

Oleh Moch. Ikmaluddin 

Saya bukanlah santri Sukorejo. Tidak ada pula hubungan dengan teman yang nyantri di sana. Hanya saja, dulu ketika di Kajen saya punya teman asal Situbondo. Namanya Faiq. Putra seorang kiai. Namun ia tidak menampakkannya. 

Ketika kelas tiga Aliyah, ia saya lihat "mempeng" menghafal Al-Qur'an dan sering azan di Masjid Kajen. Belakangan ia kuliah di Mesir dan punya bakat untuk ngaji mujawad.

Saya hanya santri kecil penikmat pengajian beliau melalui live streaming. Tidak lebih dari itu. 

Pada akhirnya, malam sebelum penganuegerahan Doktor Honoris Causa KH Afifuddin Muhajir, saya bisa menonton podcast yang menghadirkan beliau yang dipandu Ustadz Wahid Sumenep yang nampak sedikit "kikuk" di depan gurunya. Dan sekuat tenaga menahan diri agar pertanyaan-pertanyaan "ceplas-ceplosnya" tetap bisa dikontrol.

Kembali ke kiai yang merupakan Rais Syuriyah PBNU ini, saya melihat ada keistimewan-keistimewaan dalam diri beliau. Sekali lagi hanya saya dasarkan pada "haliyah" selama mengaji virtual dan podcast yang hanya beberapa menit itu. Tentu ini tidak ideal.

Pertama, beliau orang yang tawadhu. Ketika ditanya oleh pemandu acara misalnya, apakah Kiai Afif punya cita-cita menjadi tokoh internasioanal maupun nasional? 

Beliau menjawab tidak ada. Beliau hanya mengutip kitab Ta'lim tentang dua syarat berhasilnya menuntut ilmu. Yang pertama adalah cita-cita yang tinggi dan kedua adalah kesungguhan. 

Beliau menampik yang pertama, sedangkan yang kedua, beliau mengiyakan hanya saja menurutnya belum maksimal. Di sini letak ketawadhuan beliau yang justru menegaskan keluhuran beliau.

Kedua, sosok yang nurut bahkan pasrah dengan guru. Ketika ditanya tentang apakah ada kendala biaya sehingga tidak belajar ke luar negeri? Beliau menjawab tidak. Karena sejak kecil beliau sudah berada pada tanggungan Kiai As'ad Syamsul Arifin. Bahkan untuk menikah, beliau menunggu titah dari Sang Guru, Kiai As'ad Syamsul Arifin.

Ketiga, pembelajar. Lebih dari 40 tahun, usianya digunakan untuk belajar dan mengajar. Beliau istiqamah mengajarkan kitab kuning yang dibarengi dengan istilah ilmiah-ilmiah populer. Saya sangat menikmati pengajian virtual beliau. Perkara yang susah dibahasakan dengan penjelasan yang mudah. Ini cocok sekali dengan saya yang tidak kuat mikir yang berat-berat. Maka sangat pas jika beliau mendapat penganugerahan Doktor Honoris Causa.

Selamat Kiai Afif. Semoga senantiasa diberikan kesehatan dan penjagaan Allah. Amin…

Penulis adalah pewarta NU Online Jabar dari Depok