Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

KH Adlan Aly dan Jejak Tarekat Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari

KH Adlan Aly dan Jejak Tarekat Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari
KH Adlan Aly: NU Online
KH Adlan Aly: NU Online

Oleh M. Sakdillah

Secara formal, Hadratussyekh KHM Hasyim Asy'ari, selanjutnya ditulis Hadratussyekh, tidak mendaku telah mengamalkan salah satu tarekat tertentu. Namun, suatu kemustahilan jika memang demikian. Karena, dalam pengertian yang lebih luas, tarekat merupakan pemantik segenap aktivitas kehidupan seorang muslim, baik secara umum maupun khusus, apalagi ulama sekaliber dan sebesar Hadratussyekh. Sehingga belakangan telah menimbulkan banyak spekulasi tentang tarekat yang menjadi pegangan (ageman) Hadratussyekh sebagai pimpinan tertinggi umat Islam (Rais Akbar) Indonesia.

Berbicara tentang tarekat memang sangat menarik belakangan ini, tidak dalam perspektif normatif ajaran, melainkan sebuah fenomena sejarah yang berkembang pesat ke segenap penjuru dunia. Tidak dapat dipungkiri, perkembangan tarekat lebih banyak didominasi oleh para zuriyah Rasulullah Saw dari berbagai klan. Mereka dikenal dengan sebutan “Ahlul Bait” atau “Habaib”, sebagaimana Bani Sanusiyah, Bani Fathimiyah, Bani Haddadiyah, dan lain-lain yang terlibat langsung terhadap politik kekuasaan pasca kejatuhan kota Baghdad pada 1258 M. 

Memang, ada kemiripan dan kedekatan tradisi antara Syiah dan sebutan Ahlul Bait, namun Ahlus Sunnah wal Jam’ah memberi batasan tegas dalam menerima Ahlul Bait sebagai zuriyah sekaligus sahabat-sahabat yang tidak memiliki pertalian darah dengan Rasulullah Saw seperti Salman Al-Farisi dan Bilal bin Rabah. Berbeda dengan kalangan Syiah yang hanya menerima kalangan zuriyah Rasulullah Saw saja dengan menolak eksistensi para sahabat.

Menjelang seratus tahun usia NU (1926-2026), reaktualisasi memerlukan suatu rumusan yang cermat dalam mengantisipasi perubahan zaman, baik berupa refleksi diri dari segi sejarah perkembangan, ilmu-ilmu, pengetahuan dan teknologi, pemikiran, spiritualitas, serta tatanan baru dunia telah memberikan tantangan yang patut dipikirkan. Dalam hal ini, NU tidak saja berbicara pada tataran fiqh internal umat Islam saja, melainkan juga tentang politik kebangsaaan, hubungan antar lintas agama yang telah dibangun sejak lama, serta politik kebangsaan dan kemanusiaan.

Berbicara tentang KH Adlan Aly, selanjutnya ditulis Mbah Dlan, tentu tidak terlepas dari rangkaian tarekat yang melibatkan Hadrastussyekh sebagai gurunya. Hal ini berdampak pada keorganisasian NU secara umum, terutama Jam’iyyah Ahli Al-Tariqah Al-Nahdliyah (JATMAN). Sebab, tali estafet dan benang merah, baik sanad, keilmuan, maupun tarekat umat Islam Indonesia terimplementasikan kepadanya.

Adalah suatu kemustahilan jika Hadratussyekh tidak memahami persoalan-persoalan keagamaan dan sosial yang melanda umat Islam di dunia sejak kejatuhan kekhalifahan Turki Usmani. Ketika negara adidaya tersebut terpecah-pecah menjadi beberapa bagian negara bangsa sebagaimana saat ini. Respons politik, sosial, dan keagamaan untuk mengantisipasi situasi tersebut melalui Jam’iyyah Nahdlatil Ulama adalah tepat dan tidak salah pilih.

Begitu pula respons Hadratussyekh terhadap dunia tasawuf melalui jaringan pertalian ruh umat Islam melalui tarekat. Penerimaan Hadratussyekh melalui Qanun Asasi NU yang mencantumkan tasawuf Imam Al-Ghazali (wafat 1111) dan Syekh Abu Al-Qasim Al-Junaid Al-Baghdadi (830-910) adalah Hadratussyekh sebenarnya melek terhadap dunia spiritual yang justeru dianggap sebagai biang kerok kemunduran umat Islam.

Tuduhan-tuduhan bid’ah, khurafat, dan tahayul terhadap tarekat direspon positif dengan menghadirkan pemahaman Al-Ghazali dan Al-Baghdadi tersebut. Artinya, tarekat tidak haram untuk diamalkan bagi warga NU. Kendati prinsip-prinsip tasawuf NU tidak terlepas dari aktivitas-aktivitas syariat yang berlandaskan pada rujukan atau “maraji” yang jelas, sesuai dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang bersifat referensial, meminjam istilah Moh. Abed Al-Jabiri (1935-2010) sebagai kerangka rujukan (Al-Ithar Al-Marji’iyyah) sebagai ciri khas.

Memang, teks akan mati tanpa dibaca. Dan, salah satu cara menghidupkan teks adalah menghadirkan pengarangnya melalui cerita-cerita sastra. Upaya menghidupkan sosok pengarang melalui karya-karya sastra yang merepresentasikan personifikasi seorang Hadratussyekh. Demikian, Mbah Dlan adalah sosok hidup penjaga tradisi yang mewakili sosok spiritual Hadratussyekh ketika Pesantren Tebuireng telah ditinggal wafat.

Tradisi rihlah spiritual atau lelaku bagi kaum santri adalah melakukan perjalanan dan pengembaraan, baik berziarah atau bersilaturahim kepada kiai-kiai yang masih hidup dan dianggap lebih sepuh. Menjalin komunikasi batin yang umum dalam dunia tarekat ini biasa disebut sebagai metode barzakhi, komunikasi antara peziarah yang masih hidup dan orang yang sudah berada di alam kubur (barzakh).

Demikian pula dengan Hadratussyekh yang sering berziarah ke makam-makam tertentu meskipun sekadar membaca tahlil. Jejak rihlah spiritual ini dapat dijumpai di pesantren-pesantren “wingit” yang pernah disinggahi oleh Hadratussyekh seperti Pesantren Mojosari Nganjuk (tempat gurunya, KH Zainuddin, dimakamkan).

Dan, beberapa tempat lain yang dianggap memiliki nilai sejarah seperti goa Hira untuk melakukan tirakat. Pun, menjalin komunikasi dengan Syekh Ahmad Nahrawi Muhtarom di Banyumas (mursyid tarekat Syadziliyah di pulau Jawa), di samping guru utama, Syekhana Muhammad Kholil Bangkalan (mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah). Di antara wirid-wirid Hadratussyekh sebagai lelaku masih tersimpan rapi oleh seorang santri di Bojonegoro.

Syahdan, KH Saiful Bachri, santri Pesantren Tebuireng yang pernah “menangi” (hidup sezaman) dengan Mbah Dlan semasa di Pesantren Tebuireng menuturkan ceritanya.

“Saya pernah mengaji kitab Nashaih Al-‘Ibad tahun 1988 pada bulan puasa kepada beliau selepas sholat dhuhur. Tapi, kitabnya tidak ada maknanya sama sekali, karena waktu ngaji saya selalu ketiduran kecapekan. Maklumlah selain puasa juga baru pulang dari sekolah. Anehnya, waktu tahun 1997, saya pernah diminta mengajar kitab Nashaih “Al-‘Ibad tersebut di Sidoarjo dengan menggunakan kitab yang sama ketika saya mengaji kepada Mbah Dlan dulu. Walau tanpa makna, saya mampu membaca dan menjelaskan kitab Nashaih Al-‘ibad itu tanpa kesulitan.”

"Pada kesempatan lain,” tutur pengasuh Pondok Pesantren Al-Qura’an Asy-Syahadah Surabaya itu, “kebiasaan saya waktu subuh biasanya ngetan (makan ketan) dan ngopi di (pasar) Cukir (depan Pondok Pesantren Puteri Walisongo asuhan Mbah Dlan). Saat saya jalan ke Cukir, saya berpapasan dengan Mbah Yai Adlan. Setelah dekat, saya cium tangan beliau bolak balik. Terasa, tangannya begitu lembut seperti kapas. Saya sangat ingat, saat saya mencium tangan beliau, terdengar doa, "Barakallah!" Selang satu atau dua hari kemudian perubahan terasa pada diri saya. Malam yang biasanya tertidur lelap, saya terbangun dan (muncul) keinginan melaksanakan sholat Tahajud kuat sekali. Mulai saat itu, saya membiasakan sholat malam dan hasilnya luar biasa (saya tidak bisa cerita yang bagian ini). Makanya, sekarang, kalau ada murid saya mencium tangan saya, saya selalu berdoa, "Barakallah!"”

Mbah Dlan adalah wali yang masyhur di zamannya. Usianya cukup panjang. Wiridan ilmiah yang dijalankannya adalah membaca kitab Fath Al-Qarib. Kitab fiqh mazhab Syafi’i. Ia seorang yang zuhud, wirai, dan mampu menjaga pandangan.

“Saya tidak pernah melihat Mbah Yai Adlan kalau berjalan itu melihat langit. Selalu tertunduk ke tanah,” jelas KH Saiful Bachri, melalui pesan WhatsApp. 

Di samping itu, Mbah Dlan juga sosok yang memiliki jiwa solidaritas sosial yang tinggi. Apabila ada orang yang meninggal dunia, Mbah Dlan selalu datang lebih dahulu dengan membawa sumbangan yang dibutuhkan oleh anggota keluarga yang tertimpa musibah sebelum tetangga si mayat datang. Entah, Mbah Dlan dapat kabar dari mana? Kealiman, kefaqihan, kewaskitaan, dan karomahnya disaksikan banyak orang. Sosok yang sudah sempurna merepresentasikan figur Hadratussyekh ke dalam dirinya. Jika orang mempertentangkan antara fiqh dan tasawuf, maka fiqh dan tasawuf tersebut sudah terintegrasi dengan baik ke dalam dirinya. Jika orang menjalani laku tasawuf (tarekat) dengan menjauhkan diri dari kehidupan sosial (zuhud), maka Mbah Dlan sudah menjalani hidup sepi di tengah keramaian (dar anjuman).  

Tebuireng, 17 Rabiul Awal 1411 (6 Oktober 1990). Langit seperti menangis, ketika mursyid tarekat berusia hingga 90 tahun itu tutup usia. Ribuan jamaah berdatangan dari berbagai penjuru dan kalangan kelas sosial. Sholat jenazah dilakukan bersaf-saf secara bergantian. Mursyid tarekat kelahiran 3 Juni 1900 itu adalah putera KH Ali bin Syekh Abdul Jabbar Maskumambang yang telah mengalir di dalam dirinya darah Pangeran Sambu bin Pangeran Benawa bin Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir. Tokoh legendaris yang, menurut Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), telah menitiskan darah kiai-kiai pendiri pesantren di seantero pulau Jawa. Menyaksikan spiritualitas Mbah Dlan sama melihat spiritualitas Hadratussyekh.

Penulis adalah Nahdliyin, pernah nyantri di Tebuireng