KH Abun Bunyamin Berbisnis demi Membangun Pesantren Al-Muhajirin

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
KH Abun Bunyamin (Foto: NU Online Jabar)
KH Abun Bunyamin (Foto: NU Online Jabar)

Purwakarta, NU Online Jabar
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta KH Abun Bunyamin menyebutkan bahwa program One Pesantren One Product (OPOP) sangat positif karena akan mendewasakan ekonomi, pola pikir baru, inovasi dan kemandirian.

Akhir September lalu, Al-Muhajirin menjadi tuan rumah pelatihan dan magang program OPOP karena pada tahun sebelumnya Al-Muhajirin menjadi juara OPOP tingkat Jawa Barat.

“Pada tahun lalu, Al Muhajirin menjadi juara terbaik tingkat Jawa Barat, sehingga membuat Al-Muhajirin menjadi tuan rumah OPOP. Terdapat 50 peserta dari 50 pondok yang mengikuti magang di sini. Kita siapkan segala sesuatunya, agar peserta merasa cukup dan puas,” ungkapnya saat ditemui Jabar NU Online di kediamannya, Jalan Veteran, Purwakarta, Sabtu (3/10).

Para peserta, lanjut Wakil Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat ini, ditempatkan di beberapa sektor bisnis Al-Muhajirin, seperti di Baitul Mal wa Tanwil (BMT), kooperasi, pabrik roti, Muhajirin Mart, dan percetakan. 

Al-Muhajirin sudah mengelola bisnis tersebut sejak lama, bahkan menurutnya, modal membangun pondok pun dari bisnis tersebut.

“Bapak merintis dari 1984, waktu itu sudah punya toko dan alat-alat percetakan, mengelola catering dan penyedia makan catering di Rumah Sakit Bayuasih,” jelasnya.

Menurutnya, bisnis tersebut sempat terbengkalai akibat bertambahnya kesibukan, sehingga dijalankan kembali oleh anak-anaknya. Selain itu, Al Muhajirin juga melakukan bisnis di sektor peternakan, seperti ternak ayam, domba dan sapi.

“Tapi sekarang ayam lagi dihentikan dulu karena kandangnya terlalu dekat dengan kandang domba. Memelihara sapi biasanya lima bulan sebelum Idul Adha, sehingga ketika Idul Adha sudah bisa dijual. Bapak fokus di KBIH, membimbing umrah dan haji, baik jamaah lokal maupun Arab Saudi,” tuturnya.

Berkaitan dengan program OPOP, Kiai Abun menyebut terdapat lima hal yang harus disiapkan pondok dalam menghadapi program tersebut. 

Pertama, personil yang siap untuk dilatih, punya basic pendidikan yang memadai, kedua punya partner yang bisa dijadikan teman untuk sama-sama berkembang. Ketiga, harus ada lokasi yang cukup, karena di Jabar itu banyak pondok yang area tanahnya sempit sehingga harus memiliki area yang cukup untuk pondok dan ekonomi. Keempat harus ada pemodalan dan kelima keterampilan,” jelasnya.

Kiai Abun berharap program OPOP harus terus dikembangkan, ditingkatkan dan harus ada pemerataan. Jangan memaksakan semua pondok untuk mampu. Sehingga modal yang diberikan tidak sia-sia. Lebih baik dialihkan kepada pondok-pondok yang betul-betul siap mengelola.

Pewarta: Riki Baehaki
Editor: Abdullah Alawi