Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Ketika Wartawan Santri Menulis Judul Berita Ala Kang Iin Rohimin

Ketika Wartawan Santri Menulis Judul Berita Ala Kang Iin Rohimin
Iing Rohimin dalam sebuah kegiatan Media Center PWNU Jabar (Foto: NUJO)
Iing Rohimin dalam sebuah kegiatan Media Center PWNU Jabar (Foto: NUJO)

Kuningan, NU Online Jabar
Menjelang akhir sesi materi, sedikit Kang Iing menyampaikan yang saat itu menjadi pemateri dalam kegiatan Madrasah Kader NU Kuningan pada Rabu, (13/10) dan bertempat di Gedung IPHI Kuningan. Menurutya ia beruntung karena telah nyasar menjadi wartawan, khususnya menjadi wartawan santri.

“Untung saja saya nyasar, kalau saya tidak nyasar mungkin tidak akan ada santri yang jadi wartawan disini,” ucap beliau pada audiensi. 

Lanjutnya, ia menjelaskan bahwa ada perbedaan antara wartawan santri dengan wartawan biasa. Misalnya dalam menuliskan judul berita.

“Beda kalau wartawan dari santri itu, kalau wartawan biasa nulis berita begini: ‘Oknum guru ngaji cabuli santrinya’.” tuturnya.

Menurutnya, jika hal tersebut dilakukan oleh seorang wartawan, wartawan tersebut dianggapnya sebagai wartawan kurang ajar.

Sebagai wartawan santri ketika menuliskan sebuah judul berita ia tidak pernah membawa guru ngaji maupaun santri, menurutnya judul yang pas adalah “Laki-laki bejat hamili anak di bawah umur,” ucapnya dengan tegas.

Hal tersebut dikarenakan jika wartawan memakai kata guru ngaji sebagai objek memberitaan maka akan merusak citra guru ngaji.

“Gitu, laki-laki bejad saja, masa guru ngaji sebagai subjek pemberitaan rusaklah nama guru ngaji semua,” pungkasnya.

Selain hal diatas yang mencoreng nama guru ngaji. Biasanya dalam pemberitaan hampir semua wartawan selalu menggunakan diksi yang seakan-akan memperhalus kata dari tindakan bejad yang dilakukan oleh pelaku. Menggunakan diksi yang menggambarkan kesalahan pelaku merupakan tindakan tepat, karena pembaca akan fokus pada si pelaku.

Pemberitaan yang berkaitan dengan kekerasan seksual seperti pemerkosaan biasanya  menggiring opini yang seakan-akan menyalahkan korban akibat judul yang tidak memihak korban.

Setiap bentuk kekerasan seksual tidak ada kata torelir untuk memihak kepada pelaku. 

Pewarta : Sri Melynda
Editor: Muhammad Rizqy Fauzi