Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Ketika Mahbub Djunaidi Bela Remy Sylado dengan Tulisan

Ketika Mahbub Djunaidi Bela Remy Sylado dengan Tulisan
Mahbub Djunaidi dan Remy Sylado
Mahbub Djunaidi dan Remy Sylado

Mahbubd Djunaidi adalah seorang jurnalis, sastrawan dan politikus kelahiran Jakarta 27 Juli 1933 dan wafat di Bandung 1 Oktober 1995. Namun, sebagaimana diungkapkan pada pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki pada 1974, ia lebih suka disebut sastrawan. 

Sebagai sastrawan di antara karyanya adalah Dari Hari ke Hari, Angin Musim, dan Maka Lakulah Sebuah Hotel. Konon, ia juga menulis cerpen, puisi, naskah drama, dan lagu-lagu organisasi badan otonom NU. 

Sebagai seorang jurnalis, Mahbub Djunaidi adalah Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat (1965-1970), dan Pimpinan Redaksi Duta Masjarakat (1960-1970), Ketua Dewan Kehormatan PWI (1963-1973). 

Saat menjadi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia, Mahbub Djunaidi pernah membela Remy Sylado dalam bentuk tulisan. Hal itu pernah diungkapkan Remy di gedung PBNU, kepada wartawan NU Online.  

Mahbub Djunaidi turun tangan membela Remy Sylado saat tersangkut kasus hukum atas tuduhan menghina Gubernur Jawa Barat di era Orde Baru. Mahbub Djunaidi sebagai wartawan senior membelanya dalam bentuk tulisan.

Berikut ini wawancara singkat Abdullah Alawi dengan Remy Sylado yang pernah dimuat NU Online pada 5 Agustus 2019

Bisa cerita tentang Mahbub Djunaidi? 

Dia pernah menulis di majalah saya dulu, majalah Top. Bandung sekarang jadi kota bakso. Tahun 70-an itu lagi banyaknya bakso di Bandung. Padahal dia sendiri tinggalnya di Bandung. 

Apa kesan tentang Mahbub Djunaidi? 

Waktu saya diadili kasus delik pers, Mahbub Djunaidi yang membela saya di pengadilan. 

Waktu itu Pak Mahbub sudah di PBNU ya?

Sudah. Kartu pers saya yang pertama itu kan Mahbub yang tanda tangan, tahun 66, dia Ketua PWI waktu itu kan. Terus sekjennya itu JS Hadis. Kenal? Orang Padang. Istrinya orang Manado. 

Pembelaan Mahbub Djunaidi bagaimana? 

Saya dipersalahkan karena  dituduh menghina Gubernur Jawa Barat. Mahbub Djunaidi nulis di PR sampai dua kali itu. Dua kali dia bela saya. Dia nulis di PR. Tidak ada larangan seorang wartawan senior membela wartawan junior, itu bunyi pertama kalimat pembelaannya. Waktu itu tanda tangan kartu pers PWI itu memang dia yang tanda tangan. Tahun 66 kan pers nasional kita itu diseragamkan oleh Suharto. Semua surat kabar yang cenderung ke politik tertentu itu harus memakai nama dari partai tertentu. Jadi misalnya Duta Masyarakat, NU punya yang di Jakarta, di seluruh Indonesia harus menggunakan Duta Masyarakat edisi misalnya, edisi Jawa Tengah, edisi Jawa Tengah. Di Jawa Barat edisi Jawa Barat. Waktu itu begitu. 

Alasan Mahbub Djunaidi membela itu apa ya kira-kira? 

Karena tidak sesuai dengan akal sehat. Iya. Hebat itu. 

Mahbub Djunaidi dijuluki orang sebagai pendekar pena. Memangnya keterampilan berbahasanya bagaimana? 

Oh iyalah, bahasanya kan mengalir betul. Plastis bahasanya. Sekarang yang bisa bahasa yang plastis begitu kan sekarang cuma Goenawan Mohamad.

Profil Singkat Remy Sylado

Remy Sylado merupakan seorang yang serbabisa. Ia dikenal sebagai sastrawan, wartawan, bisa bermain musik, melukis, dan teater. Selain sebagai pelaku dalam bidang-bidang itu, dia juga termasuk pengamatnya. 

Salah satu keunikan dia adalah kerap mengganti namanya. Remy Sylado sendiri adalah nama samaran atau nama pena yang kemudian menjadi beken hingga sekarang. Kadang namanya sering berupa angka-angka yaitu 23761. Angka itu bisa dibaca re mi si la do. Ia juga pernah menggunakan nama pena Alif Danya Munsyi. Sementara nama aslinya Yapi Panda Abdiel Tambayong. 

Remy Sylado lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1945. Masa kecilnya ia habiskan di Jawa seperti Semarang, Solo, Yogyakarta, Bandung. Dan sekarang tinggal di Bogor, Jawa Barat.