Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Ketika Djamaluddin Malik Bicara Film di Jepang dengan Bahasa Padang

Ketika Djamaluddin Malik Bicara Film di Jepang dengan Bahasa Padang
Djamaluddin Malik (kanan)
Djamaluddin Malik (kanan)

Hari ini 8 Juni, 51 tahun wafatnya H. Djamaluddin Malik. Dia adalah tokoh NU, pengusaha, politikus, dan produser film pendiri Pendiri Perseroan Artis Indonesia (Persari). 

Ayah Camelia Malik ini lahir di Padang, Sumatera Barat 13 Februari 1917. Wafat di Munchen, Jerman, pada usia di 53 tahun, saat berobat penyakit komplikasi yang dideritanya di kota itu. 

Pada masa kecilnya, pada situasi penjajahan Belanda, ia turut serta dengan orang tuanya hijrah ke Jakarta. Di kota inilah, pada masa mudanya, ia pernah aktif di GP Ansor Kebun Sirih. 

Di kota ini pula, ia mengembangkan bakat wirausaha yang membawanya menjadi seorang pengusaha di kemudian hari. Pada saat yang sama, dia memiliki perhatian besar kepada kesenian, terutama teater. Dia mendirikan kelompok sandiwara Panca Warna. 

Aktivitasnya pada kelompok kesenian pada masa revolusi fisik, terekam pada buku karya KH Saifuddin Zuhri, Guruku "Orang-orang dari Pesantren": 

"Tadinya anak buah saya bermaksud, jika sudah sampai di daerah Republik, rombongan akan membubarkan diri. Lalu kami menerjunkan diri dalam badan-badan perjuangan. Ada yang di Hizbullah (pimpinan KH Zainul Arifin) ada yang barisan pemberontakan rakyat (Pimpinan Bung Tomo) dan sebagainya.”

Kiai Saifuddin menuliskan bahwa orang yang menjadi saksi atas ucapan Djamaluddin Malik itu adalah KH Fattah Yasin, laskar Hizbullah yang bergabung ke Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), dirinya dan KH Wahid Hasyim.   

Menurut Kiai Saifuddin, percakapan itu terjadi di Yogyakarta saat ibu kota pindah dari Jakarta sejak 4 Januari 1946 hingga 28 Desember 1949. Saat itu wilayah Indonesia menyempit akibat perjanjian Renville pada 8 Desember 1947. 

Aktif di kelompok teater, Djamaluddin sepertinya merasa tidak berjuang untuk Tanah Airnya. Karena itulah, ia bersama kelompoknya berniat menetap di Yogyakarta dan akan turut mengangkat senjata untuk terjun ke kelaskaran dan tentunya meninggalkan pentas sandiwara.

Namun, niatnya itu ditolak KH Wahid Hasyim, ayahnya Gus Dur itu. Ia punya pandangan lain tentang perjuangan. Menurutnya, berjuang tidak harus dengan senjata atau kelaskaran. Perlu ada yang berjuang di di berbagai lapangan dan bidang, termasuk dalam kesenian. 

Lagi pula, menurut Kiai Wahid, anggota kelaskaran sudah sangat banyak, sementara orang-orang yang berjuang lewat seni, khususnya sandiwara, masih sangat kurang. Padahal itu amat penting dalam perjuangan besar.

Menurut Kiai Wahid, dalam sebuah pementasan sandiwara, rakyat bisa bertemu dan berkumpul. Pada saat itu, laskar-laskar bisa menyusup. 

Karena itulah Kiai Wahid menyarankan supaya Djamaluddin segera ke Jakarta yang waktu itu sudah dikuasai Belanda. Kemungkinan besar, kelompok sandiwara tidak akan dicurigai.

Pandangan kiai jenius, putra Rais Akbar NU Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari ini diterima Djamaluddin Malik. Dia pun memantapkan diri dengan berjuang terus lewat kelompok sandiwaranya. 

Tak heran kemudian pada masa kemerdekaan, ia jadi Ketua Umum Lesbumi pertama, sebuah lembaga kebudayaan yang didirikan atas restu para ulama NU pada 28 Maret 1962. Pada masa kepemimpinannya, Lesbumi diperkuat budayawan Usmar Ismail (mendirikan Perfini), Asrul Sani, Anas Ma'ruf, dan lain-lain. 

Selain pernah menjadi anggota DPR RI dari partai NU, menjadi Ketua III PBNU. 

Sisi Lain Djamaluddin Malik
Pada buku "Djamaluddin Malik Melekat di Hati Banyak Orang" yang saya baca tahun lalu, Djamaluddin Malik bagaikan hidup di antara dunia yang berbeda. 

Di satu sisi, sebagai orang film, ia hidup bersama para artis dengan segala macam watak dan kebiasaannya. Di sisi lain, sebagai aktivis NU, dia harus bergaul dengan para kiai. 

Situasi semacam ini sering merepotkan pembantu rumah tangga, termasuk istrinya. Misalnya, setelah para artis mengadakan pesta di rumahnya, tiba-tiba para kiai mengabarkan akan berkunjung. Maka mau tak mau Djamaluddin Malik meminta agar seluruh sisa-sisa makanan dan minuman para artis itu dibersihkan. Jangan sampai ketahuan para kiai. Ini pula konon yang menyebabkan perceraian dengan istrinya. 

Ia juga dikenal sebagai orang yang suka membantu. Gampang merogoh kocek untuk para seniman saat dan kiai. Hari ini bisa banyak uang, esok tidak punya sama sekali. Hari ini punya lima sarung, besoknya tak punya sehelai pun. Ia juga termasuk salah seorang yang menjadi donatur peringatan Harlah NU ke-40 di Gelora Bung Karno pada tahun 1966.

Suatu ketika, ia mendapatkan undangan untuk berbicara film di negeri Jepang. Ia ditemani Usmar Ismail. Saat berpidato di hadapan mereka, Djamaluddin Malik malah menggunakan bahasa Padang.  

Usmar Ismail terperanjat atas ulah sahabatnya itu. Tak hanya itu, apa yang dikatakan Djamaluddin Malik pun bukan tentang film, melainkan apa saja diungkapkan dalam bahasa ibunya itu. 

Melihat gelagat kurang baik, Usmar kemudian memperlakukan diri sebagai penerjemah pidatonya ke dalam bahasa Inggris. Padahal tentu saja bukan menerjemahkan karena apa yang dikatakan Djamaluddin Malik tidak berkaitan sama sekali.  

Tentu saja Usmar menjelaskan pandangan-pandangannya tentang film kepada orang Jepang tanpa memperhitungkan perkataan Djamaluddin Malik. 

Atas jasa-jasanya dalam bidang kebudayaan, pemerintah mengukuhkannya sebagai penerima Bintang Mahaputra Kelas II/Adipradhana. 

Penulis: Abdullah Alawi