Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Kaum Santri: Sarungan dan Hafalan

Kaum Santri: Sarungan dan Hafalan
Ilustrasi: NU Online
Ilustrasi: NU Online

Oleh Sakdillah 

Kaum santri identik dengan sarung karena keseharian mereka memang pakai sarung. Kata mereka, pakai sarung malah isis, adem. Apa-apa gampang, luwes. Maka, tak heran, jika kemudian kaum santri dapat julukan "kaum sarungan".

Kata santri di sini memiliki konotasi yang sedang belajar, mengabdi, dan menimba ilmu di pondok pesantren. Kalau santri menurut definisi Gus Mus sedikit lebih luas, kalangan yang mau mengaji di manapun berada.

Sarung memang bukan identik santri saja sebenarnya, melainkan bagian dari budaya. Jika ada kesempatan nonton film The Lady, mahasiswa-mahasiswa di Myanmar kuliah dengan menggunakan sarung. Tapi, tak apalah, memakai celana memang bagian dari warisan kolonial, demikian asumsi dan hipotesis yang dapat digunakan.

Sering, seorang santri kalau pulang ke kampung, baik waktu liburan atau sudah boyong, mereka ditanya, "Mondok di mana?", "Berapa lama?", dan "Sudah hafal apa?"

Menghafal masih menjadi trend belajar mayoritas kaum santri di pesantren di Indonesia. Metode belajar ini sebetulnya berangkat dari tradisi belajar di Timur Tengah. Masih ingat, ketika hendak belajar di sana, akan dituntut harus memiliki modal hafalan Al-Qur'an. 

Maka, tidak heran, jika kuat hafalan (tsiqah) menjadi salah satu prasyarat untuk menjadi ahli hadis. Bahkan, dengan jumlah hafalan beberapa hadis akan mendapat gelar seperti Al-Hafidh. Kalau penghafal Al-Qur'an disebut "hamil Al-Qur'an", orang yang membawa (hafalan) Al-Qur'an. Berbeda seperti di Indonesia, orang yang hafal Al-Qur'an dipanggil "Al-Hafidh". 

Metode menghafal ini benar-benar diterapkan di Timur Tengah. Orang yang lemah hafalan akan tersisih dari pentas ilmiah. Maka, tidak heran, orang-orang Indonesia kebanyakan hanya menyelesaikan kuliah setingkat strata satu (biasanya bergelar Lc), sedikit yang bisa selesai strata dua atau strata tiga. 

Orang Indonesia yang memiliki kualifikasi demikian di era sekarang diantaranya adalah Prof. Quraish Shihab, Prof. Said Aqil Siroj, dan Prof. Said Aqil Al-Munawwar. Mereka kebetulan "min jumlati al-habaib", kalangan berdarah Arab atau keturunan Rasulullah Saw. 

Kebetulan? Ya, ras Arab memang memiliki stok "memori" berkapasitas besar, berbeda dengan ras Melayu. Hal ini mungkin dapat dilihat dari konstruksi "torax", kerangka kepala yang besar secara genetik. 

Demikian, kalau ada orang Indonesia yang berhasil kuliah dengan baik di Timur Tengah dapat dipastikan hafalannya juga baik. Kalau tidak, mungkin dia kuliah di University of America yang berbeda metode belajarnya.

Bagaimana dengan bangsa-bangsa di Eropa? Mereka sebetulnya memiliki memori hafalan yang juga kuat seperti ras Arab, tapi mereka menggunakan metode analisis. Tidak perlu banyak hafalan, cukup banyak data untuk dianalisa. Semakin banyak data semakin akurat pula data-data yang dianalisa. Maka, tidak heran, jika kemanapun mereka pergi, mereka akan mengumpulkan data. Termasuk, membawa hasil-hasil karya budaya di berbagai negeri. Soal data mereka jago.

Yang cukup istimewa sebetulnya orang-orang China. Mereka memiliki postur dan kerangka tubuh tidak menjanjikan dari segi hafalan. Tapi, mereka memiliki ketelatenan. Mereka memiliki tipe yang rajin, sama seperti ras Melayu. 

Saking rajinnya, suku bangsa China memiliki jumlah abjad paling banyak (sekitar 5000an. Bandingkan dengan abjad Arab yang hanya memiliki 28 huruf). Termasuk, rajin mengumpulkan data. Bangsa China termasuk yang paling lengkap menuliskan data sejak pada masa lalu yang jauh.

Kaum santri yang tinggal di pesantren masih menggunakan tradisi hafalan. Tidak buruk dengan metode ini, tapi masih sering terbatas pada pengulangan-pengulangan. Padahal, hafalan dalam tradisi pesantren dapat memperkuat analisis data. Semakin banyak hafalan semestinya dapat memproyeksikan lebih besar data. Hanya saja, perlu penambahan-penambahan metode analisis untuk memperkuat hafalan menjadi lebih produktif dalam memproyeksikan ilmu-ilmu pengetahuan.

Penulis adalah pemerhati kebudayaan dan keislaman