Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Kang Ayip Muh dalam Kenangan Santrinya

Kang Ayip Muh dalam Kenangan Santrinya
Almagfurlah Habib Muhammad bin Yahya dan Jenal. (Foto: Istimewa/Desain: M Iqbal)
Almagfurlah Habib Muhammad bin Yahya dan Jenal. (Foto: Istimewa/Desain: M Iqbal)

Kota Cirebon, NU Online Jabar
Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Kalimat itu segera teringat kembali ketika saya bersua Jenal. Kami bertemu secara tak sengaja di sebuah warung kopi di keramaian lalu lintas Kota Cirebon yang padat. Di pagi Jumat yang cerah (18/12) itu, saya seperti bertemu seorang senior. 

lalu lintas Kota Cirebon yang padat. Di pagi Jumat yang cerah (18/12) itu, saya seperti bertemu seorang senior. 

Setelah berbasa-basi soal asal-usul dan dan latar belakang, Jenal terlihat antusias mendengar saya seorang santri. Obrolan pun semakin mengalir.

"Saya juga pernah jadi santri. Kurang lebih satu tahun saya mengaji di Pesantren Jagasatru yang diasuh Kang Ayip Muh. Saat itu Presiden RI masih Megawati," tutur Jenal yang bekerja sebagai penjual material bangunan itu.

Selain mengikuti jadwal mengaji yang padat, tutur Jenal, setiap sore ia bermain bola di lapangan Kasepuhan. Terkadang ketika suntuk, malam harinya ia menonton bioskop di Galaxi, yang sekarang sudah menjadi sebuah mall. Tentu saja tindakannya itu berbuah takzir oleh dewan asatidz. Menonton film adalah sebuah pelanggaran bagi santri.
Ia juga bercerita terkait sosok Kang Ayip Muh, nama akrab dari Habib Muhammad bin Yahya. Tokoh berpengaruh di Cirebon pada masanya. Uniknya, ia enggan dipanggil Habib. Lebih senang dipanggil Kang Ayip. Dengan sapaan akrab itu, masyarakat tidak merasa canggung ketika bersilaturahim.

"Kang Ayip Muh adalah sosok yang menjadi panutan masyarakat Cirebon pada saat itu,” lanjut Jenal. “Segala macam masalah yang terjadi di masyarakat, beliau selalu mampu menjawab dengan kealiman ilmu dan akhlaknya. Nasehat-nasehatnya diterima dengan baik oleh masyarakat," sambungnya.

Pengajian mingguan yang digelar oleh Kang Ayip Muh,  menurut Jenal, dihadiri berbagai lapisan masyarakat Cirebon. Warga berbondong-bondong datang dengan menyewa angkot. Bisa sampai puluhan angkot yang membawa jamaah untuk hadir di pengajian.

"Kang Ayip Muh itu bijaksana," ujar Jenal. “Beliau mampu menjaga identitas dan marwah pondok pesantren dengan tidak menerima bantuan-bantuan dari pemerintah maupun partai politik untuk perkembangan pembangunan Pondok Pesantren Jagasatru,” lanjutnya. 

Keberkahan dari kealiman Ayip Muh, menurut Jenal, diingat dan dirasakan oleh masyarakat luas. 

“Contohnya seperti saya ini. Walaupun tidak lama mengaji kepada beliau, saya merasakan manfaat sebagai santri. Saya jadi tahu soal dosa. Alhamdulillah, saya bisa menjalani kehidupan yang baik," pungkasnya.

Penulis: M Iqna Syam
Editor: Iip Yahya