Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Kampungku yang Berdebu

Kampungku yang Berdebu
Suasana kampung (Foto: NU Online Jabar/Nasihin)
Suasana kampung (Foto: NU Online Jabar/Nasihin)

Oleh Nasihin

Sungai bersih itu kini menjadi kotor. Rumpun-rumpun bambu berganti fondasi batu. Selokan kecil meliuk melewati pohon kelapa dan rumput liar, itu pun berganti menjadi dinding rumah dan arena ngobrol.

Bilik rumah dan kayu setengah lapuk menghadap ke barat. Depannya berdiri pohon pisang dan bunga asoka. Halaman becek ketika hujan yang sekarang berganti menjadi setengah beton. Kolam kering ketika kemarau, debu menguap ke udara di lindas kaki-kaki mungil bermain kejar-kejaran, tapi itu dulu ketika sore beranjak maghrib.

Pohon randu kokoh menjatuhkan kapas, bahkan bisa menjadi obor ketika listrik belum ada. Rumah tak berjejer pengap seperti sekarang, berpencar dengan lampu teplok mengecil ditiup angin. Musola kecil beralas bambu yang dirajang, bertangga kayu beberapa pijak, kolam kecil tempat berwudhu, sajadah motif lama yang jauh dari empuk.

Isya berlalu tak ada yang berbincang apalagi berdebat, hanya radio saluran AM, berbunyi gemerisik yang sekarang dihantam saluran internet dan Android yang yang selebihnya penuh dengan hawa nafsu.

Jalan desa bergelombang tanpa aspal, kendaraan adalah benda aneh untuk anak-anak, motor pun terhitung jari. Hanya mobil pick up berkeliling kampung, speaker murah bercerita film-film lama dengan klise kusut acara nanti malam.

Delman dengan nada kaki kuda memecah pagi, sebelum berjubel kendaraan berasap membuat sesak nafas seperti tahun ini. Bermain melintas jalan, tanpa takut motor cc besar membunyikan klakson. Tak ada daging dan makanan instan, berburu jamur atau kerang sarapan pagi sebelum berangkat sekolah.

Kampung ini berubah drastis, orang-orang berbicara keras bahkan kasar, menggunjing kadang mencibir, tak seasri dan setentram dulu, walaupun sekarang masih langit dan hujan yang sama, tanpa rumah beton dan muka-muka masam serta putus asa.

Kiai menjadi panutan yang diikuti, fatwanya dirindukan dengan pakaian sederhana dengan songkok yang agak kusam. Tapi itu dulu sebelum sebelum paham barat menjalar di alam pikiran penduduk yang lugu.

Bale rumah tempat menebar sapa dan senyum, sesekali tempat berkumpul membuat makanan khas hari raya, pohon katuk dan daun kedongdong itu sudah mati puluhan tahun lalu, berganti bunga warna-warni yang entah apa namanya.

Kisah ini bukan untuk menyalahkan apa dan siapapun, bukan pula puisi atau sajak, hanya bercerita kisah anak, dan sahabatku yang dulu selalu asyik bermain dozer dari kaleng sarden yang tak semegah robot ultraman dari negara sakura itu.

Dia hanya ingin bercerita, pernah melihat langit pekat tertutup abu Galunggung, pernah melihat musola yang ramai ketika maghrib walau harus mengecingkan mata karna lampu sumbunya hampir habis minyak tanahnya.

Dia hanya ingin bercerita pernah melihat laut yang indah di Lombok, mendaki Semeru, dan bermalam di tepi Ranu Kumbolo. Bercerita nama kampung, desa, dan kecamatannya telah berganti nama. Dia rindu debu jalan dan Burung Pipit yang telah lama hilang. Rindu dongeng dan senda gurau tanpa harus mata tak berkedip menatap game online seperti sekarang.

Tapi ini tetap kampung kelahiranku katanya, "Aku tetap mencintainya apapun itu, jaman telah berubah namun kenangan dan nasehat jaman tak pernah hilang." Dia menutup ceritanya sebelum berlalu untuk istirahat, malam semakin dingin dan sepi, malam Sabtu jam 22:11 WIB, diapun berlalu bersama kisah-kisah lamanya dan harapan untuk kampungnya.

Penulis aktif sebagai Pengurus Lesbumi PCNU Kabupaten Bandung