Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Kabar Duka, Pak Wagirun Tak Akan Pernah Datang Lagi ke Kantor NU Kota Bandung 

Kabar Duka, Pak Wagirun Tak Akan Pernah Datang Lagi ke Kantor NU Kota Bandung 
Pak Wagirun
Pak Wagirun

Oleh Abdullah Alawi  

Apa yang harus saya ceritakan tentang Wagirun, tiada lain hanyalah tentang kebaikan. Mungkin sebagian orang berkata bahwa kebaikan adalah relatif. Menurut situ baik, menurut sini buruk. Kata yang kanan setengah alim, ujar yang kiri separuh brengsek. 

Memang demikian. Tapi menurut saya, itu tidak berlaku untuk Pak Wagirun. Kalau tak percaya, tanya saja kepada orang-orang dekatnya, kepada para kiai NU di Kota Bandung. 

Iya, Pak Wagirun adalah staf di PCNU Kota Bandung. Namun, menurut kesaksian Sekretaris PCNU Kota Bandung KH Wahyul Afif Al-Ghofiqi, ia melampaui tugasnya. 

Baca: Pak Wagirun, Banser yang Juga Staf PCNU Kota Bandung Tutup Usia

“Hitungan kerja dia bukan dengan hari, tapi dengan hati,” ungkapnya. “Kita tak mampu menilainya dengan apa yang dia kerjakan,” lanjutnya. 

Aktivitasnya di PCNU lebih karena panggilan dan pengabdian. Kalau dia ingin mencari kekayaan tentu saja sudah lari sejak 20 tahun lalu. 

Sepertinya Pak Wagirun mencari keberkahan, dan menurut saya, ia memperolehnya. Secara sederhana, hitungannya adalah dia sebagai suami mampu menghidupi keluarga, punya rumah, dan menyekolahkan anak-anak tanpa harus menjadi ASN, pekerja pabrik atau sales. Sementara sebagai pribadi, dia disayangi para ajengan dan teman-teman. 

Menurut sejawatnya di Staf PCNU Kota Bandung selama 9 tahun, Abdussnai Ramdhani, Wagirun adalah orang ikhlas, tidak memilih-milih pekerjaan yang paling gampang, tidak pernah melihat orang menyuruh, melainkan tujuan dari suruhannya.

“Saya menangis ketika mendengar dia meninggal pagi tadi. Saya langsung ke rumah duka,” katanya. 

Lagi-lagi Kang Sani menyebut almarhum dengan kata yang semakna dengan ikhlas, yaitu orang tanpa pamrih. Apalagi jika menyangkut NU dan para ajengan. 

“Saya sepuluh tahun lebih muda darinya. Dia mau disuruh yang lebih muda kalau itu untuk kepentingan NU dan ajengan,” katanya.

Aktivitas Wagirun dengan NU Kota Bandung dimulai sejak menjadi Banser pada tahun 1999. Waktu itu, PCNU Kota Bandung berada di Jalan Yuda. Karena intensitasnya ke kantor, ia diminta PCNU untuk menjadi staf kesekretariatan sejak 2003. 

Ketika kantor PCNU Kota Bandung pindah ke Jalan Sancang dan kepengurusan berganti, Wagirun tetap menjadi staf yang tak tergantikan. Ia menjadi staf sampai akhir hayatnya. 

Jadi staf PCNU, Wagirun bertugas menjadi penggerak pengajian Sabtuan para kiai yang sudah berlangsung sekitar 17 tahun. Ia yang menghubungi kiai, mengatur jadwal, sekaligus membersihkan aula lantai dua PCNU. 

Orang zaman sekarang mungkin bertanya kapan orang yang beraktivitas semacam itu bisa kaya? Namun, yang jelas ia menjalaninya sampai napas terakhir. Apakah dia tidak tahu tentang kekayaan? Mari kita periksa latar belakangnya. 

Dia adalah seorang sarjana lulusan Institut Agama Islam Negeri Sunan Gunung Djati (sekarang Universitas Islam Negeri) Bandung, anggota Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung, dan Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Assyuhada. Pada saat mahasiswa, ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Bandung, kemudian di Banser Kota Bandung. 

Dengan aktivitasnya semacam itu, dia tentu punya imajinasi dan tahu hitungan tentang kekayaan. Tapi dia memilih mendapatkan kekayaan sesuai keyakinannya dengan berkhidmah di tempat yang tak bergelimang uang.

Bagi orang yang pernah dididik pesantren yang menjalankan ajaran para gurunya, orang semacam itu adalah cara hidup mencari keberkahan. Bagi orang pesantren, keberkahan bahkan lebih mahal daripada uang dalam jumlah apa pun. 

Menurut saya, Wagirun orang semacam itu. Bagaimana tidak, seorang lulusan universitas, pengurus MUI, Ketua DKM, membersihkan kantor NU belasan tahun. Bahkan, sebagai lulusan pesantren yang terampil membaca kitab kuning, seharusnya dia meminta kepada para kiai untuk menjadi salah seorang di syuriyah atau minimal menjadi ketua atau anggota lembaga. Namun, ia tak melakukannya. 

Sekali lagi, yang dicarinya bukan itu. Bayangkan saja, ia sebagai Ketua DKM, bisa baca kitab kuning, mengerti ilmu falaq, bisa menjadi khatib jumat, tapi itu tak menghalanginya untuk rutin membersihkan lantai dan toilet masjid. 

Mengenal Pak Wagirun Sejak 2012
Saya termasuk orang kehilangan almarhum. Saat masih bujangan, belasan kali saya menginap di kantor PCNU Kota Bandung, baik beberapa tahun di Yuda maupun setelah pindah ke Sancang. Saya menjadi saksi aktivitas dan kebaikan-kebaikannya yang telah saya ceritakan di atas.

Saya memanggilnya Uwa mengikuti orang-orang PCNU menyapanya. Saya tak tahu nama aslinya karena saya menganggap uwa di situ berati paman. Tentu saja saya pernah mendengar nama Wagirun setiap di kantor PCNU. Namun tidak tahu nama itu mengacu kepadanya. 

Makanya, ketika mendengar Wagirun meninggal siang ini, reaksi saya biasa-biasa saja. Namun, ketika disodorkan sebuah foto, saya langsung terperanjat. Ya Allah, Si Uwa meninggal dunia. 

Meskipun saya tak tahu nama aslinya bahkan kalau dia tak bernama sama sekali, tetap Wagirun orang baik. Kata orang, apalah artinya sebuah nama, mawar pun walau tidak bernama mawar tetap harum baunya. Wagirun walaupun tidak bernama Wagirun tetap saja Wagirun yang baik. 

Saat saya di PCNU, selintas-selintas saya mengobrol dengannya, di antaranya adalah tentang asal daerahnya bearal dari Kebumen, Jawa Tengah. Tapi tidak pernah mengobrol panjang. Dia akan segera beraktivitas lagi dengan tugas-tugasnya. 

Terakhir bertemu dengannya sekitar 9 bulan lalu. Lagi-lagi saya tak banyak mengobrol dengannya. Padahal tempat aktivitas saya dengannya tidak jauh. Seharusnya saya sering bertemu dengannya agar kebaikannya tertular. 

Hari-hari Terakhir Pak Wagirun di PCNU 
Wagirun terakhir ke kantor PCNU pada Jumat 4 Juni lalu. Ia pulang setelah kiai terakhir pulang. Ia pulang setelah memastikan tugas-tugasnya selesai. Tugas terakhirnya di kantor NU hari itu adalah memastikan pengajian rutin Sabtuan para kiai bisa terlaksana, mulai dari narasumber sampai kebersihan ruangan. 

Namun, pada Sabtu ia tak bisa hadir ke acara yang belasan tahun dikelolanya itu. Ia mengabarkan kepada Sekretaris PCNU Kota Bandung bahwa dirinya tak akan menghadiri pengajian karena sakit. Ia izin beristirahat di rumah. 

Pada Senin, Wagirun mengabarkan bahwa kesehatannya belum membaik. Begitu juga pada Selasa dan Rabu. Ia meminta izin beristirahat. Tentu saja pengurus PCNU membolehkannya. 

Menurut Abdussani Ramdhani, berdasarkan keterangan dari istri almarhum, pada Kamis pagi (10/6) sekitar pukul 07, Wagirun merasa kesulitan bernapasnya. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit. Namun, sebelum sampai ke tempat tujuan, napasnya sudah berhenti. Ia tutup usia sekitar pukul 08.00. 

Beristirahatlah, Pak Wagirun. Engkau memang tak akan pernah datang lagi ke kantor PCNU, tapi kebaikanmu selalu datang, dan bahkan bersemayam di PCNU.

Penulis adalah Redaktur NU Online Jabar