Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

JQHNU Depok Siap Luncurkan Metode Menghafal Al-Qur’an Utawi Iki Iku

JQHNU Depok Siap Luncurkan Metode Menghafal Al-Qur’an Utawi Iki Iku
Kiri: ketua PCNU Depok Kanan: Kia Jazim (Foto: NU Online Jabar/Ikmal)
Kiri: ketua PCNU Depok Kanan: Kia Jazim (Foto: NU Online Jabar/Ikmal)

Depok, NU Online Jabar
Pimpinan Cabang Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffzh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Kota Depok tengah siap meluncurkan Metode Menghafal Al-Qur’an Utawi Iki Iku pada malam tasyakuran hari lahir (harlah) Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffzh Nahdlatul Ulama (JQHNU) ke-70 di Gedung PCNU Kota depok (18/1). Metode ini disusun oleh Rais Majelis Ilmi JQHNU Kota Depok, KH Jazim Hamidi, MA.

“Metode ini lahir karena kegelisahan saya tentang dikotomi santri kitab dan santri tahfizh. Masing-masing merasa nyaman dan cukup dengan kemampuannya. Yang santri kitab puas dengan kitabnya, yang santri Al-Qur’an puas dengan Al-Qur’annya. Nah, santri Al-Qur’an tidak cukup hanya hafal, namun tahu isi Al-Qur’an. Karena ulama terdahulu selain hafal Al-Qur’an juga memiliki karya tulis,” tuturnya.

Menurutnya, metode ini sudah ada sejak munculnya pesantren. 

“Sebenarnya, ini bukan metode baru. Saya hanya mencoba merekonstruksi metode yang sudah ada. Metode  Utawi Iki Iku, itu sama dengan model ngapsahi di pesantren Jawa atau ngalogat di Sunda.

Kiai Jazim mengaku, metode ini akan terus disempurnakan. Bahkan tantangannya adalah bagaimana caranya metode ini bisa diterima di Kota Depok yang penduduknya heterogen.

“Di Depok ini kan penduduknya ada yang pakai bahasa Indonesia, Betawi, Jawa dan Sunda. Ini tantangannya. Dengn berjalannya waktu akan disesuaikan,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Jazim memotivasi  para penghafal Al Qur’an agar tidak cepat merasa puas dengan hafalan yang sudah dimiliki. Menurutnya, jika seseorang sudah disebut Hafizh, ia akan menjadi rujukan. Maka perlu mengupdate yang terkait dengan Al Qur’an lebih dalam dan luas lagi.

Lebih lanjut, Kiai Jazim menjelaskan bahwa metode yang ditulisnya ini banyak mengadopsi simbol-simbol yang dipakai pesantren ketika memberi makna pada kitab kuning. “Misalnya mim adalah mubatada’ (adapun), Kha’ adalah khabar (adalah) fa’ adalah fail (apa atau siapa  dan seterusnya,” imbuhnya. 

Pada malam tasyakuran tersebut, metode ini dipresentasikan di depan para hafizh JQHNU Kota Depok. Selain itu, metode ini juga sudah diterapkan  kepada putrinya yang saat ini sedang menghafal Al Qur’an di usia SMP. 

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Depok, Ustadz Achmad Solechan, M.Si turut hadir dan memberikan apresiasi hadirnya metode tersebut. Serta memotivasi kepada penghafal Al Qur’an agar terus meningkatkan kemampuannya terkait Al Qur’an.

“Para pengahafal Al-Qur’an itu sudah memiliki kelebihan yang melekat pada dirinya. Serta orang yang otoritatif ketika bicara tentang AL Qur’an. Maka sudah seharusnya melahirkan program-program yang baru dan bersinergi dengan lemabaga yang berafiliasi dengn NU. Sehingga hadirnya JQHNU bisa dirasakan oleh masyarakat di Depok ini”, pesannya.

Pewarta: Moch Ikmaluddin
Editor: Abdullah Alawi