Jelang Hari Santri, RMI PWNU Jawa Barat Gelar Halaqoh KH. Zainal Musthafa

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
Dari kiri ke kanan: Gus Mansur, Teh Hirni Kifa Hazefa, Endi Suhendi, Kiai Arwani Syaerozi, Kiai Amin Maulana, Kiai Atam Rustam, dan Iip Yahya. (Foto: Fahmi)
Dari kiri ke kanan: Gus Mansur, Teh Hirni Kifa Hazefa, Endi Suhendi, Kiai Arwani Syaerozi, Kiai Amin Maulana, Kiai Atam Rustam, dan Iip Yahya. (Foto: Fahmi)

Bandung, NU Online Jabar

Menyambut Hari Santri 22 Oktober 2020, Rabithah Ma'ahid Islam (PW RMI) PWNU Jawa Barat menyelenggarakan Halaqoh Hari Santri dengan tema Meneladani Kepahlawanan KH. Zainal Musthafa Sukamanah, Sabtu (17/10) di Ruang Rapat PWNU Jabar.

Halaqoh ini menghadirkan KH. Atam Rustam, M.Si dan Hirni Kifa Hazefa, M.I.Kom., CEC,  keduanya cucu KH Zainal Musthafa.  Selain menjadi Ketua yayasan KH Zainal Musthafa, Kiai Atam juga menjabat Ketua PCNU. Kabupaten Tasikmalaya. Sedangkan Teh Hirni saat ini menjadi Ketua PW Fatayat NU Jabar. Hadir pula KH. Dr. Amin Maulana, MA (Ketua RMI PWNU Jabar), KH. Dr. Arwani Syaerozi, LC., MA (Wakil Ketua RMI PBNU), M Ali Mansur Syadzili (inteletual muda), dan Iip D Yahya (Penulis Biografi Ajengan Sukamanah). Halaqah ini dibuka dengan tahlil yang dipimpin oleh Rais Syuriah PWNU KH. M. Nuh Addawami dan dibuka resmi oleh Ketua PWNU KH. Hasan Nuri Hidayatullah. Halaqah ini dipandu oleh Sekretaris PW Rmi Jabar Endi Suhendi, M.Pd.

Dalam sambutannya, Gus Hasan menyambut baik halaqah ini untuk mengingatkan bahwa santri Jawa Barat memiliki momen penting yang harus dikenang dan dijadikan teladan, yakni peristiwa Perlawanan Sukamanah.

“Santri berperan penting dalam perjuangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Mata rantai sejarah ini tak boleh putus agar generasi masa depan tidak terombang- ambing," pesan Gus Hasan.

Sementara itu Ajengan Atam mendeskripsikan sejarah hidup KH Zainal Musthafa termasuk sanad keilmuannya. Kiai  rwani mengungkap betapa peran para kiai di Jawa Barat begtiu penting dalam proses kemerdekaan Indonesia.

“KHZ Musthafa di Tasikmalaya mengajarkan pada kita, bahwa ber-NU adalah sikap membela dan mempertahankan kemerdekaan," tegasnya.

Teh Hirni menggambarkan dari penuturan ayahnya, bagaimana konsistensi kakeknya yang sejak muda berjuang mendirikan pesantren mengalami masa penjajahan Belanda dan Jepang. Sedangkan Gus Mansur lebih menyoroti bagaimana kita harus meneladani riyadloh lahir bathin yang dilakukan Ajengan Sukamanah.

Sebagai penutup, Iip D. Yahya, menyoroti sejumlah kelemahan dalam penelitian kiai dan pesantren. Terdapat hal-hal khusus dalam diri kiai dan pesantren yang tidak bisa disamakan secara sosiologis dan antropologis dengan penelitian sejarah umum.

“Pekerjaan rumah kita adalah bagaimana meneliti kekhasan kiai dan pesantren, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat saat penelitian," terangnya. 

Dalam sejumlah dokumen Ajengan Sukmanah yang diteliti Iip, banyak ditemui kesimpulan yang “aneh”, yang bermula dari pertanyaan yang salah.

“Sekalipun sudah banyak hasil riset dan buku tentang KH Zainal Musthafa, ternyata masih terbuka peluang untuk melakukan penelitian lanjutan. Masih banyak aspek dari perjalanan beliau yang belum terungkap,” pungkas Iip.

Pewarta: Muhyiddin
Editor: Abdullah Alawi