Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Jejak Sejarah KH Abdullah Syathori Arjawinangun (3)

Jejak Sejarah KH Abdullah Syathori Arjawinangun (3)
KH Abdullah Syathori Arjawinangun
KH Abdullah Syathori Arjawinangun

Mendirikan Pesantren
Setelah beberapa lama tinggal di Kali Tengah Plered Cirebon, Mbah Kiai Syathori kemudian pindah ke daerah asalnya yaitu Arjawinangun Cirebon. Perpindahan ini dimungkinkan karena dua hal. Pertama, karena permintaan ayahandanya KH. Sanawi agar beliau mengembangkan ilmu di daerah asalnya.
Kedua, karena Kali Tengah Plered pada dasarnya adalah daerah perdagangan dan bisnis, sementara pribadi Mbah Kiai Syathori tidak terlalu cenderung pada bisnis. Karena itu, Mbah Kiai Syathori memilih Arjawinangun karena kecenderungannya pada pengembangan keilmuan. Ini terjadi pada tahun 30-an.
Mbah Kiai Syathori, pendiri dan pengasuh Pesantren Arjawinangun, adalah sosok Kiai yang tidak terlepas dari karakter dan prilaku khas para kiai Pesantren.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
Mbah Kiai Syathori bukan hanya kiai Pesantren yang bergelut dengan lembaran-lembaran kitab kuning, tetapi juga aktif dalam ranah sosial dan politik dengan telibat aktif di NU antara tahun 50-an hingga 70-an. Mbah Kiai Syathori pernah menjadi Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Beliau juga dikenal dengan ide-ide dan langkah progresifnya. Sebut saja sikap yang diambilnya dalam menghadapi persoalan pada saat itu, di mana orang diharamkan menulis al-Qur’an dengan kapur tulis karena takut debunya diinjak-injak saat dihapus. Hampir seluruh Kiai Cirebon mengharamkan menulis al-Qur’an dengan kapur tulis. Namun Mbah Kiai Syathori menghalalkan dan melakukannya.

Selain itu, Mbah Kiai Syathori juga dikenal sebagai kiai kharismatik, santri kesayangan, dan santri teladan Mbah Hasyim Asy’ari. Karena itulah, Mbah Kiai Syathori sangat dihormati, disegani, dan menjadi rujukan umat dan birokrasi negara dalam hal-hal yang terkait dengan hukum syara’. Menurut para santrinya, masyarakat sangat segan dan hormat kepada beliau.

Melakukan Pemberdayaan Perempuan
Mbah Kiai Syathori juga melakukan langkah-langkah khusus, yang sekarang ini bisa disebut Pemberdayaan Perempuan. Ini dilakukan dengan menyelenggarakan pengajian keagamaan secara khusus bagi perempuan. Mbah Kiai Syathori dikenal sangat tekun dan teliti dalam memperhatikan, memelihara, dan mengembangkan pengajian dan madrasahnya. Jika memiliki jadwal mengajar, beliau tidak pernah meninggalkan kelas, sampai para siswanya memahami dengan baik apa yang disampaikannya.

Beliau mendedikasikan seluruh hidup dan waktunya untuk mengajar dan mengembangkan Pesantren. Setiap waktu shalat, beliau selalu memimpin para santrinya berjama’ah, kecuali ada udzur. Sehabis jama’ah Subuh, beliau mengajarkan al-Qur’an kepada para santrinya sampai pukul 06.30. Selanjutnya, dari 08.00 – 10.00 beliau mengadakan pengajian kitab dengan pola madrasah untuk santrinya yang dewasa.

Setelah itu, beliau mengadakan pengajian kitab dengan pola yang sama untuk para santri yang kecil hingga pukul 12.00. Setelah istirahat sejenak, beliau memimpin shalat Dzuhur. Mulai sekitar pukul 13.00, kegiatan beljar mengajar bagi para santri dilakukan lagi sampai pukul 17.00. Setelah jama’ah Maghrib, beliau kembali mengadakan pengajian kitab kuning sampai pukul 20.00. Waktu yang tersisa dipergunakan untuk istirahat, kadang untuk menerima tamu.

Di usia 50-an, Mbah Kiai Syathori semakin istqomah hidupnya. Kegiatannya tidak lain di seputar musalah, Pesantren. Dan setiap habis sholat Jum’at, beliau berziarah ke maqbarah ayahnya, KH. Sanawi. Setelah itu, beliau mampir ke rumah-rumah penduduk, untuk sekedar berbincang-bincang ringan, menyelami dan melayani masalah yang mereka hadapi.

Editor: Muhammad Rizqy Fauzi
Sumber: FB Aswaja Qura An