Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Jejak Sejarah KH Abdullah Syathori Arjawinangun (2)

Jejak Sejarah KH Abdullah Syathori Arjawinangun (2)
Jejak Sejarah KH Abdullah Syathori Arjawinangun (2)
Jejak Sejarah KH Abdullah Syathori Arjawinangun (2)

Keluarga
Mbah Kiai Syathori melepas masa lajangnya dengan menikahi Ny. Hj. Masturoh binti Adzro’i bin Muhammad Nawawi (Ki Glembo).  Ny. Hj. Masturoh sendiri merupakan santri putri cerdas yang sejak kecil dibesarkan dan dididik oleh ibunya sendiri yaitu Ny. Hj. Miryati binti H. Said dan juga bersama dengan ayah tirinya, KH. Rofi’i bin KH. Nawawi Kali Tengah karena Ny. Hj. Masturoh ditinggal ayah kandungnya, KH. Adzro’i, sejak kecil. KH. Adzro’i dan KH. Rofi’i sediri adalah kakak beradik.

Pernikahan Mbah Kiai Syathori dengan Ny. Hj. Masturoh diduga kuat berlangsung pada tahun 1927. Mbah Hasyim Asy’ari hadir dalam acara akad nikah atas undangan KH. Rofi’i. Setelah melaksanakan akad nikah, atas dorongan orang tua dan mertuanya, Mbah Kiai Syathori pergi ke baitullah untuk menunaikan ibadah haji. Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, pesta pernikahan diselenggarakan secara meriah pada tahun 1928.

Selanjutnya untuk beberapa lama Mbah Kiai Syathori menetap di Kali Tengah Plered Cirebon. Ini dikarenakan selain Mbah Kiai Syathori mengikuti keluarga istrinya di Kali Tengah, juga karena Mbah Syathori mengikuti tradisi kesantrian dan keulamaan di Cirebon.

PENDIDIKAN
Menginjak usia remaja, orang tua Mbah Kiai Syathori mengirimkannya ke beberapa pesantren untuk menimba ilmu pengetahuan agama. Untuk pertama kalinya, Mbah Kiai Syathori menimba ilmu di pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, khususnya kepada KH. Ismail bin Adzro’i bin Nawawi dan juga kepada KH. Dawud, murid KH. Kholil Bangkalan.

Setelah dari Babakan, Mbah Kiai Syathori menimba ilmu di pesantren Ciwedus, Cilimus Kuningan, di bawah asuhan KH. Sobari (1916), yang juga murid KH. Kholil Bangkalan. KH. Sobari adalah ulama yang kharismatis pada zamannya, banyak ulama Jawa Barat yang belajar kepadanya. Selain Mbah Kiai Syathori, muridnya yang lain adalah KH. Sanusi yang kemudian menjadi ulama kharismatis di babakan ciwaringin dan KH. Abdul Halim. 

Mbah Kiai Syathori sangat mengagumi dan terpengaruh oleh KH. Sobari, terutama dalam melantunkan lagu-lagu barzanji (marhabanan) yang dilakukan secara ekspresif dan juga melalui sikap mencintai serta menghormati keluarga dan keturunan Nabi Muhammad SAW.

Merasa tidak puas hanya belajar di Pesantren Cirebon dan sekitarnya, Mbah Kiai Syathori melanjutkan belajar di Pondok Pesantren Jamsaren Solo, asuhan KH. Idris Jamsaren murid KH. Sholeh Darat Semarang. Secara bersamaan, Mbah Kiai Syathori juga sekolah di Mambaul ‘Ulum yang terletak di Kauman dekat Keraton Solo, Jawa Tengah. Madrasah ini didirikan atas kerjasama kolonial dengan Keraton Surakarta Hadiningrat, dengan tujuan meluluskan calon ulama sekaligus juga penghulu.

Di Jamsaren Solo inilah karakter keilmuan dan kealiman Mbah Kiai Syathori mulai terbentuk. KH. Idris di kenal sebagai kiai spesialis dalam bidang ilmu fiqh (Islamic Law) dan Bahasa Arab. Dari KH. Idris lah, Mbah Kiai Syathori banyak belajar dan rajin ngaji, menghafal, serta muthala’ah berbagai kitab. Bangunan pengetahuan (Epistemologi keilmuan) Mbah Kiai Syathori mulai terbentuk di sini.

Selanjutnya Mbah Kiai Syathori belajar di Pesantren Tebuireng yang waktu itu diasuh oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, murid istimewa KH. Kholil Bangkalan. Selain dikenal sebagai pendiri NU, Mbah Hasyim juga dikenal sebagai tokoh pembaharu pendidikan Pesantren.

Selain mengajarkan ilmu agama dalam Pesantren, Mbah Hasyim juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato. Meski sempat mendapat kecaman dari kolonial, Pesantren Tebuireng menjadi masyhur ketika para santri angkatan pertamanya berhasil mengembangkan pesantren di berbagai daerah.

Di Pesantren Mbah Hasyim inilah Mbah Kiai Syathori memiliki kesempatan langsung untuk belajar dan memperkaya kajian dan bacaan keilmuan. Kitab tafsir besar seperti Tafsir Baidlawi dan kitab-kitab yang dikembangkan di Makkah pada waktu itu dikenalkan dan dikaji di pesantren ini. Sebagai kitab yang digunakan sebagai pegangan mengaji di pesantren ini, sehingga memiliki sanad yang langsung (muthasil) sampai kepada penulisnya (Mushanif).

Dalam hal ini, Mbah Hasyim mengijazahi Mbah Kiai Syathori dengan kata-kata “ijazah ammah wa muthlaqah tammah’’ yang tertulis dalam kitab al-Kifayah al-Mustafid dengan maksud menerangkan sanad kitab karya KH. Mahfudz Termas.

Selain belajar, mengaji, dan muthala’ah di pesantren Tebuireng, Mbah Kiai Syathori juga di percaya Mbah Hasyim untuk mengajar Alfiyah ibn Malik. Di antara santri yang mengaji padanya adalah KH. Muhammad Ilyas, mantan Mentri Agama pada zaman Orde Lama, dan putra gurunya sendiri yang juga mantan menteri agama RI, yakni KH. Wahid Hasyim bin KH. Hasyim Asy’ari.

Mbah Hasyim senang dan kagum dengan cara mengajar Mbah Kiai Syathori. Hingga dalam suatu kesempatan Mbah Hasyim berkata di hadapan para santri: “Arek-arek Cirebon, Indramayu lan liyan-liyane, yen ora bisa belajar maring aku, cukup kae karo Syathori”.

Tidak hanya demikian, Mbah Kiai Syathori pun berniat belajar ke guru dari guru-gurunya, yaitu KH. Kholil Bangkalan. Mbah Kiai Syathori sempat bertemu pada pengajian pasaran bulan ramadhan di pesantren Madura.

Saat itu, KH. Kholil  membaca doa, para santri termasuk Mbah Kiai Syathori serentak mengamininya. Kemudian Mbah Kiai Syathori bertekad akan mengikuti pegajian KH. Kholil pada bulan Syawal berikutnya. Namun sebelum Syawal itu tiba, Mbah Kholil Bangkalan yang dikenal sebagai wali Madura Jawa itu berpulang ke rahmatullah pada tahun 1925.

Mbah Kiai Syathori memang sangat mengagumi KH. Kholil Bangkalan. Mbah Kiai Syathori menyatakan bahwa dalam tubuh dan perut gemuk Mbah Kholil, kalau dibedah, isinya nadzam Burdah dan Alfiyah. Mbah Kholil memang sejak muda dikenal hafal seribu deret Nadzam Alfiyah ibn Malik dengan sangat baik. Bahkan hafal meski dibaca secara terbalik, dari nadzam akhir secara runtut ke nadzam yang pertama, atau dalam istilah Jawa disebut nyungsang.

Editor: Muhammad Rizqy Fauzi
Sumber: FB Aswaja Qura An