Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download
HARI DISABILITAS INTERNASIONAL

Jangan Hakimi Anak Berkubutuhan Khusus dengan Cacat

Jangan Hakimi Anak Berkubutuhan Khusus dengan Cacat
Logo Hari Disabilitas Internasional 2020 (Tirto.id)
Logo Hari Disabilitas Internasional 2020 (Tirto.id)

Oleh Moch Ikmaluddin 
Disabilitas atau keterbatasan diri dapat bersifat fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional, perkembangan dan atau perpaduan di antara hal tersebut.
Masalah yang timbul di masyarakat adalah menghakimi mereka dengan stigma “sinis” kepada anak berkebutuhan khusus, misalnya, sebagai anak idiot, bahkan cacat. Hal ini tidak seluruhnya benar.

Dalam buku Pembinaan Anak Berkebutuhan Khusus yang ditulis oleh Rafael Lisinus dan Pastiria Sembiring menjelaskan ada sembilan jenis anak berkebutuhan khusus (ABK). Yaitu, anak dengan gangguan penglihatan, pendengaran, gangguan bicara, gangguan kecerdasan di bawah rata-rata, gangguan anggota gerak, gangguan  perilaku emosi, anak berbakat, gangguan belajar praakademik dan gangguan belajar akademik. Jadi, masing-masing ABK memiliki keunikan tersendiri. Perlakuannya pun berbeda. Kondisi mereka tidak bisa disamakan. 

Nah, apa saja yang perlu diperhatikan terkait keunikan anak berkebutuhan khusus ini.

Bagi Orang Tua dan Keluarga
Mendeteksi sejak dini setiap fase perkembangan anak. Hal ini bisa dimulai sejak janin dalam kandungan. Orang tua dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an shalawat dan dzikir. Memastikan makanan yang dimakan memenuhi kriteria halal dan thayib. Rajin memeriksakan ke dokter, sehingga bisa diketahui perkembangannya. Misalnya detak jantungnya dan gerakan janin selama di dalam kandungan.

Setelah lahir, orang tua diharapkan terus memantau bahkan mencatat perkembangan balitanya. Memastikan perkembangan gerak, bicara, bahasa, sosialisasi dan kemandirian pada balita. Memberikan stimulus sesuai tahap perkembangannya. Jika ditemukan “penyimpangan” tumbuh kembang balita, maka intervensi (penangan) akan lebih mudah.

Jika ditemukan “penyimpangan” tumbuh kembang balita, orang tua jangan panik. Segeralah berkonsultasi kepada psikolog atau kepada orang yang memiliki pengalaman mengasuh ABK. Biasanya respon pertama orang tua adalah menolak (denial). Hal ini justru menghambat penanganan secara dini. Biasanya orang tua tidak bisa menerima kondisi tersebut. Keluarga dan orang-orang terdekat sangat diharapkan dapat memberikan motivasi kepada saudaranya agar kuat secara mental. 

Namun tidak dipungkiri, justru stigma negatif sering kali muncul dari keluarga sendiri. Misalnya dikait-kaitkan dengan perilaku kedua orang tuanya. Ini jangan sampai terjadi.

Faktor Lingkungan
Selain orang tua dan keluarga, lingkungan atau masyarakat juga perlu memiliki pemahaman yang benar terkait kondisi anak berkebutuhan khusus (ABK). Jika di lingkungan kita atau di keluarga kita memiliki anak ABK, maka jangan sampai kita mengucilkannya. Justru memahami kondisinya

Menurut beberapa buku bimbingan dan konseling untuk ABK menjelaskan, ada beberapa faktor penyebab ABK. Pertama, faktor herediter (kelebihan kromosom) yang disebabkan oleh kesamaan gen pada pasangan suami istri. Kedua, faktor infeksi. Ketiga, faktor keracunan secara langsung terkena anak atau melalui ibu saat hamil. Keempat, trauma. Yaitu faktor tidak terduga yang langsung terjadi pada anak. Seperti proses kelahiran yang sulit, serta bencana alam. Kelima, kekurangan gizi. Jadi tidak tepat jika memberikan stigma negatif baik langsung kepada anak maupun kepada orang tuanya.

Penerimaan
Jika memang di keluarga atau di lingkungan kita terdapat ABK, maka bagi orang tua dan keluarga tidak perlu malu. Apalagi menyembunyikan anak tersebut. Bahkan ada yang sampai mengurung anak tersebut karena malu. Orang tua harus bersabar dan selalu positif thingking. Di balik kekurangannya, Allah menyiapkan keistimewaan bagi mereka.

Jika kita melihat sejarah, tidak sedikit orang yang “memiliki kekurangan” namun di balik itu diberikan karunia oleh Allah yang sangat luar biasa. Sebut saja, Abdullah ibnu Ummu Maktum, seorang sahabat Rasul yang tidak bisa melihat namun memiliki ingatan yang kuat dalam menghafal Al-Qur’an. Al-Amidi, seorang ilmuwan asal Suriah yang menciptakan sebuah sistem penulisan kaum tunanetra. Ada lagi, Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah yang lebih dikenal deangan nama imam Tirmidzi. Ia seorang ahli hadits sekaligus murid imam Bukhari. Dan masih banyak lagi.

Di kalangan Nahdliyin, presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid memiliki penglihatan yang semakin menurun karena sebuah penyakit. Namun tidak ada yang bisa membantah bahwa beliau adalah seorang yang jenius. Beliau seorang kutu buku, hafal ratusan nomer telepon di luar kepala. Bahkan suatu ketika Gus Dur “tertidur” ketika rapat dengan menterinya. Namun begitu bangun beliau tau dan “nyambung” dengan apa yang sedang dibicarakan.

Pada intinya, ABK tidak ingin dikasihani, namun perlu dihargai. Karena mereka punya hak yang sama dengan anak-anak seusianya.

Selamat Hari Disabilitas Internasional.

Penulis adalah guru ngaji di Sekolah Inklusi Depok