Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Isim Rebo Wekasan ala Syekh Muhammad Umar Bashri Pesantren Fauzan

Isim Rebo Wekasan ala Syekh Muhammad Umar Bashri Pesantren Fauzan
(Foto: NU Online Jabar)
(Foto: NU Online Jabar)

Oleh Muhammad Salim
Jelang akhir bulan Safar atau sering disebut bulan Sapar bagi orang sunda, tentunya mayoritas Muslim Indonesia yang didominasi oleh warga Nahdliyin sering menyelenggarakan “rebo wekasan”. 

Di mana Rebo artinya hari Rabu, dan Wekasan artinya akhir, maksudnya kegiatan Rabu terakhir di bulan Safar yang menjadi waktu diturunkannya bala (bencana) atau wabah dari langit.

Menjelang Rebo Wekasan tahun ini, saya menemukan catatan almarhum Ajengan H Maksum tentang isim yang sering dibuat pada malam Rabu, ia merupakan kakek dari istri saya yang berasal dari Kampung Sukagalih Desa Cipangramatan Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut.

Ia pernah mondok di Pesantren Sarongge, Cigintung-Singajaya dan Pesantren Hidayatul Faizin (Urug) Bayongbong pimpinan KH Wajihadin.

Dalam catatannya, dituliskan bahwa isim tersebut merupakan ijazah dari as-Syekh al ‘Alim al ‘Alamah an-Nabil al-Darokah al ‘Amil al Arif Billahi Ta’ala Asy Syekh Muhammad Umar Bashri yang merupakan ayahanda dari KH Wajihadin. 

Catatan tersebut ditulis di Pesantren Hidayatul Faizin Urug Nangoh Desa Cikedokan Kecamatan Bayongbong, Garut pada tanggal 26 Safar 1378 H atau bertepatan dengan tanggal 10 September 1958 M.

Selain tulisan isim tersebut, ada juga tulisan niat shalat tadfa’ul bala (tolak bala) dari dua versi, yakni versi dari Pesantren Hidayatul Faizin dan versi Pesantren Sarongge.

Pada waktu saya masih mondok di Fauzan sekitar tahun 2003 silam, para santri senior di malam Rebo Wekasan setelah shalat Isya, mereka nampak khusyuk menuliskan sesuatu, saya melihat tulisan yang mereka buat bermacam-macam, ada yang bentuknya bulat, persegi, dan segitiga. 

Di hadapan tempat mereka menulis, terlihat kertas-kertas yang dibuang setelah diremas. Sehingga sayapun memberanikan diri untuk bertanya. 

“Kang kenapa kertasnya dibuang?,” tanya saya

Saralah jang (salah nak),” jawab santri senior tersebut

“Apanya yang salah?,” tanyaku kembali

“Tulisannya ada yang salah, seharusnya tidak boleh pake titik, malah pake titik. Terus ada huruf yang harusnya bolong seperti huruf Fa, Qof, Mim, Tha, Ha dan lain-lain, ini malah tidak,” tegasnya

“Terus garis yang membentuk tabel seharusnya tidak boleh tersambung, ini malah tersambung, jadi saya buang semuanya, karena membuat isim ini harus sekali jadi,” tambahnya.

Dari hal tersebut, ia hanya bisa menulis beberapa lembar saja isim yang sesuai dengan aturan yang diterimanya dari Ajengan.

Selain aturan itu, orang yang membuat isim tersebut juga diharuskan bersuci dahulu, serta penulisan isim hanya berlangsung sejak masuk malam rabu sampai sebelum terbit fajar.

Dari hal tersebut saya menyimpulkan bahwa membuat isim penolak bala ala Pesantren Fauzan yang sekarang sudah menjadi budaya di lingkungan pesantren, baik bagi santri dan alumninya. Biasanya mereka menulis isim ba’da shalat Isya disertai dengan keadaan suci dan menghadap kiblat.

Kemudian aturan dalam membuat isim penolak bala ala Pesantren Fauzan, ia harus menuliskan dengan teliti dengan tidak membuat kesalahan, seperti membuat wafaq azimat huruf-huruf yang biasanya belubang, maka harus kelihatan lubangnya.

Pada tabel yang menjadi pusat wafaq azimat, setiap garisnya tidak boleh bersambung, sebagaimana pada contoh gambar di atas.

Selain harus bolong atau berlubang, juga tidak boleh menggunakan syakal dan titik pada setiap huruf yang biasanya harus ada. Jika aturan-aturan tersebut tidak dilakukan, maka harus membuat yang baru.

Karena jika ada satu saja huruf yang tidak bolong, atau malah diberi syakal dan titik, maka isim tersebut dianggap gagal. 

Penulis adalah Kontributor NU Online Jabar asal Garut