Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Iis Dahlia, Marhaban Tiba, dan Ulah Warganet

Iis Dahlia, Marhaban Tiba, dan Ulah Warganet
Ilustrasi: NU Online
Ilustrasi: NU Online

Oleh Abdullah Alawi

Dua hari ini, di TikTok bemunculan potongan video penyanyi dangdut Iis Dahlia yang sedang menyanyikan lagu Opick berjudul Ramadhan Tiba, rekaman pada sebuah stasiun tv swasta. Potongan video itu mendapat perhatian banyak orang, terbukti yang menonton dan menyukai berjumlah belasan ribu. Bahkan ada yang sampai ratusan ribu.  

Karena mendapat perhatian banyak itulah, kemudian tak sedikit akun tergoda untuk turut mendompleng, meraup penonton dan like yang banyak pula dengan membagikan video serupa. Tak hanya itu, muncul pula versi lipsingnya. Anehnya, versi lipsingnya pun mendapat penonton dan like yang cukup lumayan. Mungkin inilah yang disebut viral atau setengahnya, atau seperempat viral. Saya kurang mengerti. 

Potongan video Iis Dahlia itu adalah pada bagian:  

Marhaban tiba, marhaban tiba, marhaban ya Ramadhan”. 

Pada mulanya saya tidak mengerti kenapa potongan video itu mendapat banyak perhatian. Karena itulah, yang saya lakukan adalah, pertama, memutar ulang video itu dan menyimak baik-baik kalimatnya. Kesimpulan saya, Iis Dahlia keliru melafalkan lirik itu. Saya lalu mencari lirik versi aslinya. Benar saja, seharusnya liriknya itu adalah, Ramadhan tiba, Ramadhan tiba, marhaban ya Ramadhan… 

Tapi bukankah siapa saja boleh keliru? Kenapa Iis Dahlia tidak boleh? Saya tak bisa menjawabnya. Lebih baik saya melakukan hal yang kedua. Ini bukan mencari jawaban, tapi iseng. Saya tergoda lari ke bagian komentar. Di situlah saya menemukan hal-hal yang masyaallah. Apakah itu? 

Baiklah, saya jambret satu komentar ke sini agar pembaca tahu. Tapi jangan deh, ini kan bulan puasa. Tak elok rasanya menyajikan hal yang demikian di bulan suci ini. Dan sebetulnya di bulan yang lain juga tidak boleh seperti itu. 

Yang jelas, begitulah, ribuan komentar berbaris, berbondong-bondong, dengan nada hampir serupa. 

Membaca komentar-komentar itu, saya masih belum mengerti duduk perkaranya. Kenapa warganet begitu bergairah melampiaskan unek-uneknya kepada Iis Dahlia? 

Alih-alih menjawab, kemudian saya lebih baik lari ke Instagram Iis Dahlia yang sudah bercentang biru. Konon akun yang sudah bertanda seperti itu terverifikasi milik yang bersangkutan. 

Saya menggeledah akun Instagram itu dengan memulai melihat salah satu foto Iis Dahlia dengan pakaian yang dikenakannya saat bernyanyi salah lirik itu. 

Lalu, saya tergoda untuk lari ke komentar. Dan lagi-lagi saya menemukan komentar-komentar yang masyaallah. Mulai dari iseng, menghujat, dan entahlah namanya. 

Agar pembaca tahu komentar-komentar itu, baiklah saya tuliskan beberapa di sini. Tapi jangan deh, ini kan bulan suci Ramadhan. Tak baik mengumbar kalimat yang seperti itu.    

Saya kemudian memeriksa beberapa postingan Iis Dahlia yang terbaru setelah foto yang saya lihat itu. Kali ini saya datang dengan sebuah asumsi yang kemudian terbukti. Artinya warganet melakukan hal serupa. 

Apa yang sebenarnya terjadi? Saya harus bertanya kepada siapa? 

Karena tak mendapat jawaban, saya balik kanan, kembali ke TikTok. Saya tergelitik pada salah satu komentar warganet. 

“Tiap tahun, akan diputar warganet…mudah bagi Allah mempermalukan orang yang suka mempermalukan orang lain,” ungkap salah satu akun. 

Komentarnya itu sungguh mengerikan. Dia menujum, video kesalahan Iis Dahlia itu akan diputar tiap tahun, mungkin tiap awal Ramadhan. Dan apakah maksudnya kalimat, mudah bagi Allah mempermalukan orang yang suka mempermalukan orang lain? 

Saya tidak tahu dan malas mencari tahu. Dan sebaiknya kita tak usah mencari tahu karena tidak tahu pun tak akan ada yang mempermasalahkannya. Pasalnya kasus itu tak ada hubungannya dengan pangan, sandang, dan papan kita. Buat apa buang-buang energi mencari tahunya. 

Namun, sebelum pamit saya mohon maaf, telah khilaf menuliskan komentar salah satu warganet di sini. Sebaiknya saya tidak menuliskannya. Sekali lagi, mohon maaf, anggap saja kalimat itu tak ada. 

Penulis adalah wartawan NU Online Jabar