Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Ideologi Pesantren Cipasung (1): Mengaji sebagai Tarekat

Ideologi Pesantren Cipasung (1): Mengaji sebagai Tarekat
KH Ruhiat sedang mengajar ngaji
KH Ruhiat sedang mengajar ngaji

Oleh Muhammad Rizqi Romdhon

Dalam rangka haul yang ke-44 almaghfurlah KH Ruhiat, pendiri Pondok Pesantren Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya, kami ingin berpartisipasi dengan mempersembahkan curat-coret yang merupakan kegelisahan hati atas hilangnya identitas dan jatidiri pada beberapa santri dan alumni Cipasung. 

Beberapa santri dan alumni Cipasung seakan-akan tidak mengamalkan ruh dari inti pengajaran dan pendidikan yang diajarkan oleh Cipasung. Oleh karena itu, dengan adanya tulisan ini semoga bisa menjadi pengingat bagi mereka, bahwa inilah yang diajarkan Cipasung. Tidak bermaksud mengajari, hanya mendongengkan kembali kisah Abah Ajengan agar bisa mengenang kembali perjuangan beliau. Hanya kepada Allahlah kami berpegang, wa huwa yahdissabil.

Mengamalkan Manhaj Ahlussunah wal Jama’ah
KH Ruhiat sengaja memilih kampung Cipasung sebagai pesantrennya karena salah satunya adalah dimaksudkan untuk membendung dakwah Jamaah Ahmadiyyah yang didukung oleh Uwen Juansyah yang merupakan saudara kandung lain Ibu. Selain itu pula pemilihan tempat pesantren ini untuk mempersempit gerakan Wahhabiyyah yang setiap saat selalu mengajak berdebat.

Mengamalkan dan Mengajarkan Mazhab Al-Asy’ari dan Mazhab Asy-Syafi’i
KH Ruhiat ketika dalam pengejaran patroli Belanda, sempat-sempatnya membacakan kitab Safinah untuk fikih dan Sullam Taufiq untuk akhlak dan tauhid bagi santri-santrinya. Setiap khataman kitab Jam’ul Jawami yang merupakan kitab ushul fikih Mazhab Asy-Syafi’i, KH Ruhiat selalu merayakannya dengan menyembelih kambing dan berpose dengan berbusana modern.

Mengajar sebagai Tarekat
KH Ruhiat konsisten memilih jalur pendidikan pesantren sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekatnya. Sikap istiqamah untuk mengajar ini dibuktikan pada saat aksi polisionil Belanda. Setiap saat, tanpa diduga, pasukan Belanda menyisir daerah Cipasung dan sekitarnya sehingga pengajian di pesantren menjadi terganggu.

Dengan dibantu sejumlah santri dan warga, KH Ruhiat tetap berusaha untuk mengajar santrinya. Pada saat patroli Belanda datang, KH Ruhiat sudah berganti pakaian petani dan ikut turun ke sawah di Rancamaya, arah barat dari Cipasung. Setelah patroli berlalu, beliau bergegas membersihkan diri dan menuju saung. 

Sejumlah santri yang sudah menunggu segera mendekat, lalu beliau mengajar mereka. Beliau membacakan kitab Safinah untuk fiqh dan Sullam Taufiq untuk akhlak dan tauhid. Dengan demikian, sejak merintis pesantren tahun 1931, KH Ruhiat tak pernah berhenti mengajar santri kecuali pada waktu beliau dipenjara atau sakit.

KH Ruhiat jarang menerima undangan pengajian dari luar daerah pada malam hari, karena khawatir dapat meninggalkan hanca pengajian setelah subuh. Pernah suatu ketika ada undangan pengajian dari Karawang dan shahibul hajat keukeuh memaksa. Beliau kemudian menyaratkan agar sebelum pukul 04 pagi sudah diantar kembali ke Cipasung. Karena shahibul hajat menyanggupi, maka beliau pun menghadiri pengajian tersebut. 

Dalam mengajar, KH Ruhiat punya cara khusus untuk menarik minat santri-santri dan anak-anaknya agar rajin menghafal. Beliau menyediakan uang atau makanan bagi yang bisa menjawab pertanyaan dan menghafal pelajaran tanpa salah. Salah satu dawuh beliau yang selalu diingat oleh para santri dan alumni adalah “Tarekat Cipasung adalah mengajar santri.” (Bersambung)

Penulis adalah cucu KH Ruhiat