Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Ibu Pendidik Utama dan Pertama bagi Putra-putrinya

Ibu Pendidik Utama dan Pertama bagi Putra-putrinya
Ilustrasi: NU Online)
Ilustrasi: NU Online)

Oleh Ustadzah Hj. Nani Muharomah 
Menjadi ibu yang baik dan benar bukanlah hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang mustahil. Ibu, adalah pendidik pertama dan utama pertama dalam proses pendidikan manusia. Ia membawa peran penting dalam kehidupan. Proses pendidikan yang diberikan oleh seorang ibu, dilakukan sejak sang bayi masih dalam kandungan. Selain memberikan gizi yang terbaik, seorang ibu akan melakukan apa saja untuk kepentingan tumbuh kembang janin yang ada dalam kandungan, misalnya Seorang ibu membacakan ayat-ayat Al-Qur'an (biasanya surat Yusuf dan Maryam) agar anaknya bisa menjadi anak saleh dan salehah atau kegiatan-kegiatan lainnya seperti senam hamil lyang bisa mengoptimalkan tumbuh kembang janin. 

Karena tugas ibu cukup berat, maka menjadi seorang ibu memerlukan persiapan yang matang, karena itu pemerintah menetapkan batas usia pernikahan agar seorang perempuan benar-benar siap baik secara pisik maupun secara untuk menjadi seorang ibu, mulai dari hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik serta mengasuh putra-putrinya sampai ia dewasa.

Pendidikan dan pengasuhan yang dilakukan seorang ibu mencakup aspek jasmani dan rohani, karena itu, dalam kaitannya dengan jasmani seorang ibu pasti akan memperhatikan asupan makanan yang diberikan kepada putra-putrinya harus yang halal dan baik, baik dalam artian disini adalah bergizi seimbang sehingga anak akan tumbuh dengan optimal. 

Dalam kaitannya dengan pendidikan rohani seorang ibu akan mengajarkan hal-hal yang baik dan benar dengan penuh kasih sayang. Bahasa yang pertama dikenal anak adalah bahasa ibu, demikian juga dengan prilaku yang pertama dikenal adalah prilaku ibunya. Karena itu apa yang dilakukan oleh seorang ibu baik tutur kata ataupun prilaku yang lainnya akan ditiru oleh putra-putrinya. 

Dalam kitab Akhlaqul Banin dan Akhlaqul Banat disebutkan bahwa pentingnya pendidikan kepada putra-putrinya dilakukan sejak ia masih kecil, karena pendidikan menurut kitab tersebut ibarat menanam pohon, ketika sejak awal dahan pohon tersebut diluruskan, maka ia akan tumbuh dengan lurus, tetapi apabila dahan pohon itu dibiarkan sesuai dengan kehendaknya/bengkok, maka ketika dahan itu sudah besar, ketika kita akan meluruskannya, maka dahan itu akan menjadi patah. Artinya adalah bahwa menanam karakter atau pembiasaan karakter yang baik harus dilakukan sejak ia masih kecil, jangan biarkan anak tumbuh seadanya, dan semuanya. Biasakan anak dengan kebiasaan-kebiasaan baik dan benar sehingga ketika dewasa ia akan berprilaku baik dan benar. 

Allah berfirman:

وَلۡيَخۡشَ الَّذِيۡنَ لَوۡ تَرَكُوۡا مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوۡا عَلَيۡهِمۡ ۖفَلۡيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلۡيَقُوۡلُوا قَوۡلًا  سَدِيۡدًا‏

“Dan hendaklah mereka takut kepada Allah seandainya mereka meninggalkan sepeninggal mereka anak keturunan yang lemah. Hendaklah mereka khawatir terhadap mereka.” (QS an-Nisa’ [4]: 9).

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَكُمۡ وَاَهۡلِيۡكُمۡ نَارًا 

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6). 

Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya bersabda: 

“Tidak ada seorang anak Bani Adam, kecuali dilahirkan di atas firtahnya, (jika demikian) maka kedua orangtuanya itulah orang menyahudikan, atau menasranikan atau memajusikannya, ...” (Muttafaqun ‘alaih). 

Dalam hadist yang lain Rasulullah SAW bersabda:

“Perintahkanlah anak-anakmu bershalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau bershalat ketika berusia sepuluh tahun,” (HR. Abu Daud, Al Turmuzi, Ahmad dan Al Hakim).

Dalam Al-Qur’an surat Luqman disebutkan bahwa pendidikan pertama yang harus diberikan kepada putra/inya adalah pendidikan tauhid (laa tusyrik billah/janganlah menyekutukan Allah), sebagaimana hadits yang sudah disebutkan di atas bahwa orang tuanyalah yang akan membuat anak tersebut Muslim atau non-Muslim, musyrik atau mukmin. Yang kedua adalah bagaimana menanamkan dalam diri anak kecintaan dan penghormatan kepada orang tuanya. Karena ternyata tidak sedikit anak yang melalikan orang tuanya ketika orang tuanya sudah mengalami uzur karena dianggap beban buat keluarganya, padahal dalam Islam memuliakan orang tua sama dengan memuliakan seluruh dunia dan pahalanya adalah sorga. Karena itu pendidikan yang diberikan oleh orang tua harus dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut, karena anak yang dibesarkan dalam cacian hanya akan menghasilkan anak yang pendendam dan rendah diri. 

Ketiga, pendidikan yang diberikan kepada anaknya adalah jangan bersikap sombong dan jangan meninggikan suara. Karena kesombongan adalah prilaku setan dan setan dikeluarkan dari surga bukan karena ia tidak percaya atau tidak beriman Allah SWT tapi karena kesombongannya. Intinya adalah bagaimana menanamkan karakter rendah hati, tepo seliro, toleransi sejak dini dalam keluarga. Bagaimana menanamkan saling menghormati/menghargai sesama anggota keluarga, karena anak akan bisa menghormati atau menghargai orang lain ketika ia sudah bisa menghormati dan menghargai keluarganya sendiri. Bagaimana mungkin seorang anak akan menghargai/menghormati orang lain kalau pada keluarganya sendiri tidak bisa menghargainya. 

Amanah yang diemban seorang ibu memang sangat luar biasa dan mulianya, maka bukan suatu hal yang berlebihan jika Allah SWT menempatkan posisi ibu menjadi posisi yang teramat mulia. Sehingga menjadi sebuah penghormatan yang begitu tinggi jika dikatakan surga berada di bawah telapak kaki ibu. Seperti diriwayatkan dalam sebuah kisah: Suatu ketika ada seseorang yang datang menghadap Rasulullah SAW meminta izin untuk ikut andil berjihad bersama Rasulullah SAW, maka beliau bertanya, “Adakah engkau masih memiliki ibu?” Orang itu menjawab, “Ya, Masih. ”Kemudian beliau bersabda, “Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu. Karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya.” 

Selamat hari ibu. Rabigfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kama rabbayaani shariraa

Wallahu’alam…

Penulis adalah Sekretaris Pimpinan Wilayah Muslimat NU Jawa Barat