Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Ibadah Haji dan Napak Tilas

Ibadah Haji dan Napak Tilas
(Foto: NU Online/Faizin)
(Foto: NU Online/Faizin)

Oleh Dr. KH. Zakki Mubarak, MA
Dalam ibadah haji terdapat beberapa kegiatan  yang erat hubungannya dengan mengenang kembali dan  memerankan apa yang pernah dilakukan para Nabi dan orang-orang shaleh di  masa lalu. Ibadah Sa’i misalnya, yaitu berjalan kaki antara bukit Shafa dan Marwah pulang pergi sebanyak tujuh kali, menurut sebagian riwayat, hal seperti itu pernah dilakukan oleh Siti Hajar, ketika ia berusaha mencari  air untuk anaknya Ismail yang hampir mati karena kehausan.

Hajar dan putranya Ismail yang masih bayi itu, ditempatkan oleh Nabi Ibrahim di daerah itu, sekarang di seputar Masjidil Haram, Mekah. Ibrahim a.s. kemudian kembali ke Palestina setelah menempatkan isteri dan anak  tunggalnya di daerah itu. Tempat tersebut dulunya berupa dataran rendah atau  lembah gersang yang dikelilingi bukit-bukit berbatu yang disebut Bakkah. Disana tidak ada sumber air,  tumbuh-tumbuhan, tidak ada tempat untuk bernaung dan tidak berpenghuni.

Nabi  Ibrahim a.s. merasa sedih meninggalkan isteri dan putra tunggal yang amat dicintainya di daerah yang amat gersang itu sehingga beliau mengadu kepada Allah SWT Tuhan  Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang senantiasa  melimpahkan rahmat-Nya. Ia berkata: 

رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفِۡٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ  

“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, wahai Tuhan kami (yang  demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebahagian manusia cenderung kepada mereka dan  beri rezkilah mereka dari buah-buahan,  semoga mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim, 14:37).

Tidak  berapa lama setelah Ibrahim AS, meninggalkan isterinya Hajar dan anak tunggalnya Ismail, persediaan air yang  mereka  bawa telah habis. Namun Hajar  masih dapat membahagiakan  anaknya  yang masih bayi itu dengan air susunya yang murni, tetapi karena ia sendiri tidak  minum, lama-kelamaan air susunya tidak keluar lagi. Kini ia menatap anak bayinya yang amat dicintainya itu, anak bayi  itu berkedip berkali-kali dan mengatupkan matanya hampir mati kehausan. Sebagai seorang ibu, ia merasakan kesedihan yang luar biasa, hatinya merasa tersayat-sayat dengan sembilu, ia tidak tahan, ia tidak kuat dan tidak rela melihat  anak bayinya  yang masih suci itu mengalami kehausan yang amat sangat.

Ia kemudian berikhtiar mencari air, berlari antara bukit Shafa dan Marfah sampai tujuh kali. Ketika di bukit Marwah dan ia tidak berhasil memperoleh air, ia kembali kepada anaknya, baru kemudian ia mendapati air bening mengalir dekat  kaki  anaknya. Air itu kemudian ia bendung  dengan pasir dan segera diambilnya sebagaian untuk anaknya. Dengan kasih sayang Allah, selamatlah ia dan anaknya dari kehausan. Sumber air tersebut menurut salah satu riwayat kemudian menjadi sumber air zamzam. Air itu amat terkenal, sampai saat ini sumber air Zamzam itu dapat memasok puluhan ribu liter air setiap jam, untuk memenuhi kebutuhan para jamaah haji. Air zamzam itu pula merupakan oleh-oleh yang paling penting bagi para jamaah haji. Setiap kali jamaah haji tiba di tanah airnya, mereka selalu ditanya oleh penduduk di kampungnya tentang oleh-oleh, berupa air zamzam itu.

Mereka yang melakukan ibadah Sa’i dengan  mengibaratkan melakukan napak tilas perjalanan yang dilakukan Siti Hajar, akan dapat menghayati ibadah itu dengan baik. Ia akan merasa terharu, sedih, bahagia, ikhlas dan terbayang padanya keagungan Allah yang senantiasa melimpahkan karunia dan rahmat-Nya bagi semua makhluk-Nya. Nikmat dan karunia-Nya sungguh amat luas tidak terbatas dan tidak terhenti. Setiap jamaah haji atau jamaah umrah yang memerankan dirinya seperti Hajar, Ismail, Ibrahim dan sebagainya, ibadahnya menjadi bermakna dan berisi. Sebaliknya mereka yang tidak memahami hal itu dengan baik, tidak akan mampu menghayati keagungan ibadah itu sehingga apa yang dilakukannya menjadi kurang bermakna.

Pemahaman dan penghayatan seperti  itu  hendaknya diterapkan juga saat kita melempar jumrah, wukuf di Arafah, tawaf, bermalam di Mina dan kegiatan-kegiatan lainnya dalam ibadah haji. Pada waktu jamaah haji melakukan ziarah ke  tempat-tempat bersejarah, seperti ke Gua Hira, Gua Tsur, Dar Maulud Nabi, Dar Siti Khadijah dan tempat bersejarah  lainnya juga hendaknya dihayati dengan baik. Hendaknya direnungi  apa yang terjadi di  tempat-tempat itu pada masa-masa yang lalu. Dengan demikian ziarah yang dilakukan tidak sia-sia, tetapi akan  mengarahkan kita menuju pemahaman sejarah dari kehidupan para Nabi dan para sahabat. Mereka telah berjuang selama bertahun-tahun tanpa mengenal putus asa bagi kemuliaan umat manusia di dunia dan akhirat.

Agar setiap jamaah haji bisa melakukan kegiatan tersebut di atas, hendaknya ia  rajin mempelajari buku Manasik Haji, petunjuk tempat-tempat bersejarah. Sejarah hidup Nabi Muhammad SAW, dan sejarah para sahabat Nabi. Para jamaah bisa lakukan hal itu sebelum berangkat haji, atau pada waktu mereka berhaji, sambil mengisi waktu-waktu luang di sekitar kegiatan ibadah.

إِنَّ أَوَّلَ بَيۡتٖ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكٗا وَهُدٗى لِّلۡعَٰلَمِينَ  

“Sesungguhnya rumah yang pertama kali dibangun untuk tempat beribadah manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah)  yang  diberkahi  dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali-Imran 3:96)

Selain memperhatikan dan memahami peristiwa masa lalu, dalam ibadah haji diperlukan juga bekal yang cukup. Bekal itu adalah persiapan mental dan fisik serta pemahaman yang baik mengenai ibadah haji. Beberapa ayat al-Qur’an berikut ini, merupakan tuntunan yang sangat baik bagi setiap jamaah, semoga kita bisa memahaminya sehingga memperoleh bekal yang cukup dalam beribadah.

ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٞ مَّعۡلُومَٰتٞۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي ٱلۡحَجِّۗ وَمَا تَفۡعَلُواْ مِنۡ خَيۡرٖ يَعۡلَمۡهُ ٱللَّهُۗ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ  

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (QS. al-Baqarah, 2: 197).

Ayat ini menegaskan bahwa bekal ibadah haji sangat penting, yaitu kesiapan mental agar tidak melakukan rafats. Rafats adalah segala aktifitas refleksi dan perenungan terhadap hal yang bersifat pornografi dan pornoaksi. Termasuk perbuatan rafats adalah hubungan suami istri dan pengantar ke arah itu waktu melakukan ihram. Fasik adalah tindakan, perbuatan, perilaku yang tercela dan merugikan orang lain. Termasuk dalam perilaku fasik adalah mengambil milik orang lain, mencela dan menyakiti sesamanya. Sedangkan jidal adalah perdebatan yang keras dan menyebabkan permusuhan diantara para jamaah haji. 

لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَن تَبۡتَغُواْ فَضۡلٗا مِّن رَّبِّكُمۡۚ فَإِذَآ أَفَضۡتُم مِّنۡ عَرَفَٰتٖ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ عِندَ ٱلۡمَشۡعَرِ ٱلۡحَرَامِۖ وَٱذۡكُرُوهُ كَمَا هَدَىٰكُمۡ وَإِن كُنتُم مِّن قَبۡلِهِۦ لَمِنَ ٱلضَّآلِّينَ ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنۡ حَيۡثُ أَفَاضَ ٱلنَّاسُ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ  

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu, maka apabila kamu Telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafah) dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. al-Baqarah, 2: 198-199).

Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU