H. Ulun Nuha: Satgas Covid-19 Pesantren itu Sangat Krusial dan Penting (1)

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
H. Ulun Nuha, Ketua Satkor Covid-19 PP RMI PBNU (Foto: dok. Pribadi)
H. Ulun Nuha, Ketua Satkor Covid-19 PP RMI PBNU (Foto: dok. Pribadi)

Ketua Satkor Covid-19 PP RMI PBNU H. Ulun Nuha menegaskan bahwa keberadaan Satuan Tugas Covid-19 Pesantren itu sangat krusial dan penting. Satgas ini menjadi penghubung ke dalam dan ke luar pesantren. Maka anggota Satgas ini perlu mendapatkan informasi dan pengetahuan yang tepat mengenai hal-ihwal Covid-19. Untuk itu PP RMI sudah menyelenggarakan pelatihan untuk para Satgas Pesantren. 
Apa saja yang sudah dilakukan oleh Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid al-Islami selama wabah Covid-19 ini melanda? NU Jabar Online mewawancarai Ulun Nuha, berikut petikannya:

Tulisan Mas Ulun, Dari Mana Virus Masuk ke Pesanten? Cukup banyak dibaca. Ini menandakan informasi tentang Covid-19 masih sangat diperlukan. Bagaimana melihat fenomena ini?

Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat haus akan informasi tentang Covid-19. Karena memang Covid itu dampaknya dirasakan di seluruh aspek kehidupan. Tentu saja yang membuat orang sangat takut adalah bahwa virus ini sangat dekat dengan mereka, mengancam kesalamatannya. Sangat dekat artinya banyak sekali orang yang di dekat kita yang terkena. Tiba-tiba keluarga kita, teman dekat, orang-orang yang kita kenal baik, terkena dan banyak di antara mereka yang meninggal dunia. Jadi virus ini sudah dirasa sangat dekat dan mengancam jiwa dan seluruh aspek kehidupan. Orang selalu mengejar, ingin tahu informasi tentang Covid-19 ini. 

Khusus tentang pesantren, karena begitu banyak orang yang berkepentingan baik wali santri maupun masyarakat pada umumnya. Pesantren adalah sokoguru NKRI, tentu pemerintah, masyarakat luas punya kedekatan dengan pesantren. Informasi terkait Covid-19 dengan pesantren tentu akan menarik dan orang ingin tahu.

Hal lain juga karena saat ini informasi tentang Covid-19 di pesantren itu sangat sedikit. Kita tidak tahu banyak. Tidak ada yang bisa menembus dinding-dinding pesantren dan selalu meninggalkan misteri. Karena misalnya, ada banyak kiai yang meninggal, yang sakit, tapi pada saat yang sama juga kemudian selalu ada keterangan-keterangan bahwa ini hanya sakit biasa dan sebagainya. Masyarakat malah justru ingin semakin tahu, sekaligus juga mau mengerti lebih lanjut sebenarnya apa yang terjadi di pesantren. Maka saya kira bagus untuk membagi informasi tentang Covid-19 di pesantren kepada masyarakat luas. 

Mohon update tentang apa saja yang sudah dilakukan oleh Satkor Covid-19 PP RMI?

Kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat pesantren tentang apa itu Covid, bagaimana bahayanya Covid-19. Kemudian kami juga mengeluarkan panduan protokol yang sangat standar bersama dengan Forum Silaturrahim Nahdliyyin Universitas Gajah Mada. Kami membuat protokol pencegahan dan membuat protokol mitigasi yang sangat lengkap. Kami kita juga proaktif memberikan kampanye kepada pesantren, agar pesantren yang belum siap jangan buka terlebih dahulu.  Kalau memang mau buka, ya harus siap segala-galanya termasuk protokol. Kami juga mengeluarkan beberapa SOP misalnya tentang, bagaimana santri pulang, datang, juga bagaimana kiai menghadapi hari raya. Banyak pesantren yang bingung dan harus bagaimana menghadapi Covid-19 ini. Maka sejak awal merebak, Satkor Covid RMI fokus mengedukasi pesantren. 

Kami juga melakukan advokasi-advokasi lain misalnya dengan pemerintah. PP RMI bersuara lantang bahwa negara harus hadir ke pesantren, untuk membantu menghadapi pandemi ini. Alhamdulillah berkat kerja bersama banyak pihak, Kementrian Agama akhirnya mengeluarkan BOP. Banyak kementrian lain yang juga mau membantu pesantren dalam menghadapi pandemi ini. 

Kemudian kami juga mendukung pesantren persis di tengah tengah battle area-nya dengan edukasi pentingnya pesantren membentuk Satgas Covid 19.

Kami menganalisa bahwa Satgas Covid-19 Pesantren itu sangat  krusial dan penting. Apabila tidak ada Satgas pesantren akan kesulitan dalam menghadapai pandemi ini. Pandemic ini ibarat tentara musuh yang sangat serius dan membahayakan. Pesantren harus menghadapinya juga dengan serius dengan membentuk Satgas. Dengan adanya Satgas ini protokol bisa ditegakkan, baik pencegahan maupun mitigasi. Rekomendasi kami, semua pesantren harus punya Satgas. Kami juga memperluas pesan ini bersama-sama dengan Kementrian Agama dan jejaring yang lain. (Link pelatihan bisa di lihat di NU Jabar Channel)

Selain menghimbau, kami juga memberdayakan. Oleh karena itu kami membuat pelatihan untuk Satgas Covid-19 pesantren. Selama Agustus kemarin, kami mengadakan empat kali pelatihan, tiap akhir pekan. Total kami sudah melatih Satgas dari 600 pesantren lebih. Kami melatih dan menindaklanjutinya dengan membuat WA Grup. Di situ para alumni pelatihan berkomunikasi intensif. Apabila ada keluhan, di grup itu ada dokter, ada ahli perubahan perilaku, ahli data, para masyayikh, yang juga bisa bertukar pikiran dengan pengaasuh pesantren menghadapi Covid-19 ini. 

Dalam bidang protokol dan kesehatan kami fokus di pelatihan-pelatihan juga follow up dari pelatihan itu. Kami juga berusaha mendekatkan dan meningkatkan akses pesantren kepada fasilitas dan tenaga kesehatan profesional. Seperti kita tahu, bahwa tidak banyak pesantren yang punya klinik atau poskestren, apalagi rumah sakit. Selama ini kalau mereka sakit, akses untuk tenaga kesehatan itu sangat jauh.  Maka kami coba dekatkan dengan cara menghadirkan dokter-dokter Virtual di WA Grup. Kami juga dalam proses untuk membuat aplikasi kesehatan namanya SalamDoc. Mudah-mudahan dengan aplikasi ini nanti santri mempunyai dokter yang standby 24 jam. Kalo ada apa-apa terkait kesehatan, tinggal konsultasi dengan para dokter tersebut. 

Kami juga mendekatkan akses kepada mesin swab, agar santri dan keluarga pesantren bisa melakukan PCR-Test. Kami tahu bahwa satu-satunya cara untuk mendiagnosis seseorang terkena Covid-19 itu dengan swab atau PCR Test. Tapi tentu saja akses buat santri sangat jauh dan sangat mahal, dan biasanya hanya ada di kota dan rumah sakit besar. Nah, kami didukung oleh National Hospital Surabaya bisa memiliki mesin Real Time Polymerase Chain Reaction. Alat buatan Swiss tersebut ditempatkan di Rumah Sakit Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) Medika Jombang. Alat ini bisa mendeteksi virus hanya dalam empat jam. Dengan mesin ini kita punya program test gratis untuk kiai dan keluarga pesantren. Jika ada kiai atau santri membutuh test tersebut, bisa berkomunikasi dengan kami. Meski juga ada kuota bulanan. Untuk masyarakat luas juga ada layanan swab murah.

Baru satu mesin ya?

Iya, kami sedang terus mengusahakan semoga bisa segera bertambah.

Apakah ada program lain selain mesin test ini?

Kami punya program 1.000 thermogun yang dibagikan kepada pesantren, meskipun saat ini belum mencapai target. Kami sedang mengembangkan sebuah alat pendeteksi suhu massal untuk santri, thermal gate. Jadi tidak pakai thermometer biasa. Bayangkan kalau santrinya ribuan dan harus dicek satu per satu kan repot. Dalam project ini kita didukung oleh Technoe Institute dari  Institut Teknologi Surabaya 

Kami juga didukung PCINU Eropa dalam project surveillance (pengawasan), ini adalah sebuah ikhtiar agar kita bisa mendeteksi secara dini dan cepat jika ada potenai kasus Covid 19 di pesantren. Saat ini kita sedang pilot project di 5 pesantren. Kalau nanti sukses, ini akan direplikasi di banyak pesantren lain sehingga kita punya sebuah early warning system yang komprehensif.

Saat ini kami juga sangat sibuk menemani pesantren-pesantren yang punya kasus Covid-19, mulai dari mendampingi Satgasnya, bekerja untuk melakukan swab-test, penanganan pasiennya, kemudian melakukan contact tracing, sampai penanganan yang menyeluruh jika ada kasus-kasus seperti ini. 

Bagaimana dengan pendidikan? 

Yang terkait dengan pendidikan kami sedang merumuskan konsep blended learning, Insyaallah dalam waktu dekat kami akan mengadakan webinar dan pelatihan online, bagaimana pesantren bisa beradaptasi dengan pendidikan jarak jauh. 

Dari perkembangan dan pengalaman itu, bgaimana sebenarnya kondisi pesantren dalam menghadapi Covid-19 ini?

Yang ditemukan di lapangan beragam sekali. Di satu sisi, kami bangga kepada pesantren karena di tengah terpaan wabah pandemi yang sangat luar biasa, mereka tegar. Para kiai tetap sabar. Bayangkan kalau pesantren sampai lempar handuk menyerah pada keadaan, kemudian diliburkan semua, apa yang akan terjadi dengan dua jutaan santri yang ada di Indonesia? Kalau mereka tidak mengaji di pesantren, kira kira apa yang mereka kerjakan di rumah? Hanya main handphone dan menjadi tidak produktif. Sangat berat cobaan ini dan tentu wali santri juga tidak senang kalau anak-anaknya di rumah terus. 

Tapi di sisi lain, kalau buka juga luar biasa tantanganya. Para kiai berdoa setiap hari, cemas, hati-hati, takut kalau ada apa-apa yang terjadi dengan santri mereka. Tapi di tengah dilema seperti ini, pesantren banyak yang buka dengan disiplin protokol yang tinggi. 

Ada fakta juga misalnya, ada beberapa pesantren yang masih abai atau punya mindset dan keyakinan yang berbeda. Misalnya menganggap bahwa covid itu bukanlah sesuatu yang benar atau serius. Ini adalah hanya sekedar hantu buatan manusia, konpirasi. Kita akui itu ada, tapi jumlahnya tidak besar. Sebagian besar pesantren saat ini dalam status waspada, bekerja sama menyadari bahwa ini ada pandemi yang sangat luar biasa. Mereka bekerja keras agar para santri tidak terkena pandemi. 

Tapi harus diakui juga, di tengah kebahagiaan dan kebanggaan melihat pesantren luar biasa di satu sisi, kamu juga sedih mengelus dada, karena hampir setiap saat mendengar kabar-kabar sedih para kiai yang wafat. Lalu munculnya klaster baru di pesantren A, pesantren B, itu situasi yang sangat menyedihkan. Ketika menghadapi situasi seperti ini, berbicara sama keluarga pesantren, berdialog dengan santri di pondok setempat, kami ikut bersedih. Karena banyak di antara mereka yang bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Berbicara kepada pemerintah serba salah, bicara ke media apalagi. Tidak bicara, mereka bingung. Mencari dokter, mereka tidak punya akses, dan lain sebagainya. Ini menyedihkan sekali, mereka butuh teman untuk mengatasi atau melawan situasi seperti sekarang ini. Dan RMI ada di posisi itu. RMI menjadi teman pesantren-pesantren itu.  

Merupakan fakta bahwa bagi sebagian pesantren, akses kepada dokter dan ke fasilitas kesehatan itu rendah. Hal ini diperburuk dengan situasi pesantren yang tidak bisa mengumumkan situasi yang sebenarnya terjadi di dalam. Kenapa? Nah ini ada catatan yang menarik untuk itu. (Bersambung ...)