Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Gus Mus, Santri, dan Islam Anyaran

Gus Mus, Santri, dan Islam Anyaran
Ilustrasi: NU Online
Ilustrasi: NU Online

Oleh Sakdillah 

Di dalam ceramahnya di media sosial, Gus Mus (KHA Mustofa Bisri) mengilustrasikan santri anyaran (baru jadi santri) ketika dikenalkan dengan hafalan-hafalan mewah seperti Imrithi dan Alfiyah ibn Malik

Santri anyaran tersebut kata Gus Mus lebih sangat senang dengan mendalil. Sedikit-sedikit ndalil, serba "ndalil", dengan mengutip penggalan-penggalan nadham hafalannya. Itu santri Anyaran.

Lalu, bagaimana dengan yang sudah lama jadi santri (lawas)? Menurut Gus Mus, mereka sudah mengaji rasa. Rasa-rasanya tidak enak jika didengar. Apa dalilnya? Pokoknya gak enak di kuping. Titik.

Begitu pula dalam banyak hal, sesuatu yang dianggap baru itu seperti sebuah kemewahan. Seorang santri yang baru pulang belajar, baik di dalam negeri maupun dari luar negeri, mereka akan melihat dari sisi kacamata kuda, benar dan salah. 

Fenomena ini yang dulu pernah diterapkan oleh sarjana-sarjana Orientalisme pada masa kolonial seperti C. Snouck Hurgronje yang datang untuk menaklukkan Aceh. Dia memberi sesuatu yang sangat dasar dan belum mendalam sehingga kesannya kasar dan gagu. Istilah teman, "Masih hangat-hangatnya" atau "Masih semangat-semangatnya".

Demikian pula, masyarakat bangsa Indonesia melalui media-media propaganda, mereka mengenalkan agama yang baru. Islam anyaran. Baru mengenal satu sekuel ilmu sudah menyalahkan yang sudah bertahun-tahun bergelut dengan Islam. Mereka yang sudah mengimplementasikan ke dalam praktek-praktek kehidupan. 

Memang, pertemuan antara yang baru dan yang lama sering mengalami crash. Tabrakan. Padahal, hanya karena kurang baca dan kurang penelitian.

Dan, anehnya, santri Anyaran ini masih menjadi tren. Masih ingat beberapa tahun lalu, ketika muncul NU GL. Dengan seolah-olah bangga, dengan tradisi debat bahtsul masailnya, menantang KH Said Aqil Siroj. 

Mereka membuat forum resmi untuk "mengadili" Kyai Said. Untungnya, Kyai Said bukan lagi santri anyaran. Untuk bab bahtsul masail, Kyai Said sudah khatam. Forum tersebut dianggap sebagai ajang mengajari santri-santri anyar dalam memahami teks.

Maka, tidak heran, jika kyai-kyai senior bila bertemu dalam sebuah forum lebih bersikap klangenan, melepas kangen, dengan melempar anekdot-anekdot. Karena, untuk serius-serius, itu sudah lalu. Toh, ujung-ujungnya sudah tahu arah jawabannya. Konklusi Aristotelian.

Dengan demikian, jika masih menjumpai santri-santri atau penganut Islam anyaran tidak perlu terlalu kaget. Kaget karena mereka "methuthu", kaku. Demikian pula, dengan realitas kekinian yang serba merek dan identitas.

7 Juni 2021

Penulis adalah pemerhati kebudayaan dan keislaman