Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Gus Hasan: NU Itu  Organisasi Keramat yang Dibangun dengan Dua Fondasi

Gus Hasan: NU Itu  Organisasi Keramat yang Dibangun dengan Dua Fondasi
Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah (Foto: NU Online Jabar/Bagus)
Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah (Foto: NU Online Jabar/Bagus)

Bandung, NU Online Jabar
Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah menyebutkan bahwa NU adalah organisasi yang keramat. Ia menyampaikan hal itu pada kegiatan Jabar Bermunajat untuk Indonesia Sehat (Jamu Sehat) sekaligus peluncuran NU Jabar Awards, Senin (1/3) malam. 

“NU adalah organisasi yang keramat, orang tua mengatakan keramat itu kerono ora kerumat, keramat itu karena tidak terawat,” ujarnya.

Kiai yang akrab disapa Gus Hasan ini mengatakan, kekeramatan NU menjadi kokoh karena ada dua fondasi. Pertama, NU dibangun dengan semangat khidmah dan pengabdian.

“Percaya atau tidak percaya, ditulis atau tidak ditulis dalam buku sejarah, khidmah NU kepada agama sudah jelas, khidmah NU dalam menjaga Ahlussunnah wal Jama’ah di bumi nusantara ini sudah dilakukan dengan sekuat tenaga, melalui dunia pondok pesantren, melalui majelis-majelis ta’lim, melalui para masyaikh dan para kiai, yang tidak henti-hentinya selalu membentengi aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah,” katanya.

Ia juga mengungkapkan, khidmah NU kepada bangsa dan negara sudah dilakukan jauh sebelum bangsa ini merdeka. 

“Dan ketika bangsa ini sudah merdeka, kemudian bangsa ini dirongrong oleh datangnya Tentara sekutu, Nahdlatul Ulama dengan Resolusi Jihadnya dan Fatwa Jihadnya terus aktif dalam mempertahankan kemerdekaannya,” ungkapnya.

Selain itu, khidmah selanjutnya yang dilakukan oleh NU kepada umat dan masyarakat melalui tiga hal, yaitu pendidikan, kesehatan dan ekonomi. 

Ia meyakini, dengan berkhidmat akan menjadi besar, sesuai dengan sabda Nabi, man khadama, qadam, yang artinya: “Siapa yang memberikan kehidupannya dengan isi semangat khidmah, maka dia akan menjadi yang lebih maju,” atau dalam riwayat lain disebutkan, sayyidul qaumi khadam, orang yang paling mulia dan yang paling utama, adalah mereka yang mengisi hidupnya dengan berkhidmah.

Menurutnya, khidmah mengajarkan ketawadhuan, dan ketawadhuan itulah yang akan membawa derajat seorang hamba menjadi mulya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya, “Siapa yang tawadhu, maka akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.”

Kedua, fondasi kemandirian. Pada pondasi ini bisa dilihat dari sejak berdirinya Nahdlatul Ulama, para muassis mensosialisasikannnya hingga ke seluruh penjuru nusantara, dengan mengerahkan segala potensi pribadi dan internal organisasi dan tidak mengandalkan dari siapapun, seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

“Itulah sebagian kecil diantara kenapa Nahdlatul Ulama semakin zaman semakin kokoh, semakin dihujat semakin kuat, semakin dibenturkan akan semakin membuat yang dibenturkan justru meleleh dengan sendirinya,” papar Gus Hasan. 

“Dan Ini bagian yang harus dijadikan uswah bagi seluruh generasi, penerus yang berjuang, mengurus atau menjadi pengurus NU sekarang atau di masa yang akan datang,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Pimpinan Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah Cilamaya ini juga berharap, semoga Allah SWT memberikan kepada kita kekuatan berkhidmah kepada Jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang berkah ini sebagai apa dan siapa pun kita di dalamnya.

“Akhirnya, selamat hari lahir Nahdlatul Ulama yang ke 95 versi Masehi dan ke 98 versi Hijriah, menyongsong satu abad, meneladani muassis, menuju kemandirian Nahdlatul Ulama,” pungkas Gus Hasan.

Pewarta: Muhammad Rizqy Fauzi
Editor: Abdullah Alawi