Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Gus Dur, Kartunis Prancis, dan Orang Gila Melempar Masjid

Gus Dur, Kartunis Prancis, dan Orang Gila Melempar Masjid
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Oleh Abdullah Alawi 

Di tahun 1990-an, terdapat kasus-kasus yang mendapat perhatian banyak kalangan, misalnya kasus angket tabloid Monitor dan bukunya Salman Rushdie, The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). 

Majalah Editor edisi No 28/THN. II/11 Maret 1989 memuat berita semacam pengadilan in absentia terhadap Salman Rushdie atas karya Ayat-ayat Setan yang menggemparkan dunia, khususnya kalangan umat Islam. 

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah waktu itu,  Luqman Harun, paling vokal dalam menanggapi kasus Salman Rushdie, didaulat sebagai jaksa penuntut umum. Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pembela tanpa mandat. Sementara Quraish Shihab, ahli tafsir dan waktu itu salah seorang Ketua MUI pusat, almarhum Syu’bah Asa dan almarhum Danarto, menjadi saksi. Majelis hakim berjumlah sepuluh orang, tim redaksi Editor. 

Perdebatan berputar pada pertanyaan, perlukah Salman Rushdie dihukum mati? Perlukah bukunya dilarang, atau dibiarkan bebas beredar? 

Menurut Editor yang dimuat di rubrik Berita Khusus, perdebatan berlangsung ketat, seru dan menarik. Apalagi antara Luqman Harun dan Gus Dur. 

Menurut Luqman, buku itu jelas-jelas menghina umat Islam. Penggambaran tentang para isteri Nabi yang dianggap pelacur sebagai kekurangajaran yang tak bisa ditolerir. Terlebih gambaran tentang Aisyah.  

Laporan Editor menulis, Gus Dur yang berkacamata lebih tebal daripada Luqman Harun, tenang-tenang saja mendengarnya. 

Kemudian Gus Dur berpendapat, Ayat-ayat Setan merupakan novel indah dan orisinal. Mungkin novel terindah abad ini. Dari segi sastra, novel ini sangat bagus. Imajinasinya hebat. 

Mendengar pendapatnya, kontan peserta sidang terperanjat. Sementara Gus Dur asik membolak-balik foto kopian novel itu. 

“Mari kita lihat lebih lapang. Ini sebuah novel, karya sastra yang harus dipahami secara sendiri. Membaca novel tidak sama dengan membaca statement. Soal isinya yang menghina Nabi, saya sendiri juga tidak setuju,” ungkap Gus Dur sambil melirik Luqman di sebelahnya. 

“Apa bedanya dengan Sidartha-nya Hella S. Hasse, Ernest Hemmingway atau William Faulkner, yang juga berisi renungan. Plotnya sederhana. Namun kemudian ditarik melalui berbagai persoalan imigran yang lantas menjadi keruwetan tersendiri. Di situlah kemudian muncul imajinasi-imajinasi aneh yang melenceng dari fakta,” lanjut Gus Dur.

“Celakanya, keseluruhan novel itu jadi tidak fair terhadap Islam. Kelihatannya ia ingin memperlihatkan ketidakislamannya melalui novel itu,” tambahnya. 

Bagi Gus Dur, Salman ibarat orang gila yang melempar masjid. Apa orang macam itu harus dibunuh? 

Menurut dia, orang seperti Salman lebih baik diingatkan atau ditertawakan saja. Sementara reaksi keras umat Islam waktu itu disebabkan kondisi mereka labil hingga menjadikannya sensitif pada masalah-masalah. 

Gus Dur mencontohkan, di Amerika Serikat pernah ada pengarang yang menulis Hagarisme, salah satu sekte Yahudi yang berdasar dari Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim. Orang Yahudi tidak ribut. Sebab mereka sudah mengkonotasikan buku itu salah. Sama saja orang membaca buku Stalin tentang Tuhan. Orang hanya geli membacanya. 

“Dengan cara itulah seharusnya kita melihat novel itu. Saya tidak percaya ada orang murtad karena membaca buku The Satanic Verses.” 

Pendapat Gus Dur yang demikian sebenarnya tidak aneh, karena ia memang menggandrungi novel. Tentu ia tahu bagaimana cara memahami dan memperlakukan karya sastra. Dalam liputan Editor edisi No 15/THN. IV/22 Desember, ada satu cita-cita Gus Dur yang belum kesampaian. 

“Saya Ingin mengarang novel tentang keluarga besar Jombang. Tentang orang-orangnya, dengan desa-desanya, keislamannya,” ungkapnya. 

Di tahun-tahun itu Gus Dur memang paling berani dalam mengemukakan gagasan dan pemikirannya seperti konsep pribumisasi Islam, rukun sosial, etika bermazhab. Majalah Editor sendiri mendaulatnya sebagai Penggerak Islam Indonesia tahun 1990.

Jauh sebelumnya, Gus Dur memperkenalkan kiai dan dunia pesantren dalam perbincangan ilmu sosial. Ia juga mendorong NU jadi ormas pertama yang menerima Pancasila sebagai dasar negara. 

Karena gagasan dan tindakan-tindakannya itu, Aswab Mahasin, pada Editor edisi No 15/THN. IV/22 Desember menulis Gus Dur, Pilihan untuk Sebuah Jembatan Budaya

Dalam tulisan itu, Aswab menyebutkan, intinya Gus Dur menolak kekerasan terhadap siapa pun apalagi negara turut andil di dalamnya. Pilihan Gus Dur yang demikian, menurut Aswab, tentu saja risikonya tidak populer, dihujat banyak orang. Bahkan kalangan NU sendiri. Suaranya yang bening, lenyap dalam riuh-rendah suara-suara lain yang lebih keras dan populer. 

Barangkali ini, lanjut Aswab, pilihan Gus Dur sebagai jembatan budaya. Sebagai jembatan memang harus mewadahi yang melintas di atasnya. Akan tetapi yang terpenting jembatan itu perlu tahan goncangan dan tak mudah miring ketika terjadi gerakan di satu sisi. Dan ketika semua kendaraan parkir di tempat sendiri, jembatan itu harus menerima nasibnya yang sepi. 

Mungkin, ini mungkin saja, seandainya Gus Dur masih ada hari ini, bisa jadi mengajak kita untuk bersama-sama menertawakan kartunis dari Prancis itu seraya menyebutnya sebagai orang gila yang melempar masjid. 

Penulis adalah Nahdliyin kelahiran Sukabumi, tinggal di Desa Mandalahaji, Pacet, Kabupaten Bandung