Gus Dur, Bang Muhyiddin dan Ketoprak

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
Gus Dur dan Muhyiddin Arubusman (Desain: M. Iqbal)
Gus Dur dan Muhyiddin Arubusman (Desain: M. Iqbal)

Oleh  Hadi M Musa Said

Kisah ini saya dapatkan dari Bang Muhyiddin langsung, saat itu Bang Muhyidin masih menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PBNU dan Gus Dur sendiri sebagai Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Bang Muhyidin nama lengkapnya Drs. H. Muhyiddin Arubusman. Seorang Tokoh NU kelahiran Ende Nusa Tenggara Timur. Ia berkesempatan kuliah di Jakarta dan aktif di PMII sampai karir puncak menjadi Ketua Umum PB PMII Periode 1981-1984. Sebelumnya ia menjabat sebagai Sekjen PB PMII periode Ketua Umum Drs. KH Ahmad Bagja. Selanjutnya ia aktif di PBNU sampai menjadi Sekjen PBNU. Terahir ia di DPP PKB sebagai Sekretaris Dewan Syura mendampingi Ketua Dewan Syura KH Abdurrahman Wahid,  dan menjadi Anggota DPR RI Fraksi PKB tahun 2004-2009.
Cerita Bang Muhyidin memang tidak lepas dari Gus Dur. Kedua tokoh ini selalu bersama-sama dan  berbagi tugas dalam merawat dan membesarkan NU. Keduanya  menjaga semangat kader dan terus melahirkan kader-kader terbaik NU. Menurut saya, kader yang hari ini berkibar di lingkungan PBNU dan PKB, hampir bisa dipastikan tidak lepas dari sentuhan hangat kedua tokoh ini. 

Suatu saat, di kantor PBNU, di tengah-tengah antrian tamu yang mau bertemu Ketua Umum, Gus Dur menghubungi Bang Muhyidin lewat telephone. 

“Din, Din,” panggil Gus Dur. “Sebentar lagi kita keluar ya, kamu ikut saya.” 

“Oh ya, Gus,” jawab Bang Muhyidin. 

“Tunggu kira-kira setengah jam lagi ya, kita keluar nyari makan yang enak,” tambah Gus Dur.

“Baik, Gus,” jawab Bang Muhyiddin. 

“Nanti ada orang mau datang ke sini, insya Allah bawa rejeki.”

“Baik, Gus.”

Bang Muhyiddin pun menunggu ajakan Gus Dur dengan tetap berada di ruangannya. Setengah jam sudah lewat, tapi belum ada panggilan lagi dari Gus Dur. 

“Mungkin Gus Dur masih banyak tamu seperti biasa,” pikirnya.

Bang Muhyiddin lalu turun ke lantai bawah, ke ruangan Gus Dur. Benar memang masih ada beberapa tamu yang menunggu antrian. Bahkan Gus Dur baru saja kedatangan tamu dari berbagai daerah. Salah satu tamunya ada yang meminta tolong dan bantuan ke Gus Dur, mengadukan bahwa anggota keluarganya ada yang mau dioperasi karena sakit parah, tapi tidak punya biaya untuk operasi di rumah sakit.

“Sekaramg Bapak tunggu sebentar ya di luar, insya Allah nanti dipanggil lagi,” ujar Gus Dur.

“Baik Gus, terimkasih,” ujar sang tamu.

Itulah Gus Dur. Sehari-harinya kalau tidak berkegiatan di luar atau mengisi undangan seminar, pengajian, bedah buku atau kegiatan lainya, pasti menerima tamu yang tidak ada hentinya. Di manapun Gus Dur selalu dikejar, ditunggu untuk sekedar bisa bersilaturrahim dengan beliau. 

Antrian tamu tidak pernah terputus dan semuanya diterima dengan baik tanpa ada yang ditolak. Di situlah luar biasanya Gus Dur, dalam kondisi sakit pun di rumahnya di Ciganjur, ia masih sering menerima tamu. Sampai kantor beliau di PBNU atau  di kantor DPP PKB, selalu ada tamu yang menunggu dan mengantri ingin bertemu dan bersilaturrahim dengan beliau. 

Tentu tamu sebanyak itu yang datang ke Gus Dur punya maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Ada urusan politik, bisnis, pendidikan, keagamaan bahkan urusan keluarga. Malah urusan soal biaya hidup, pendidikan anak dan bahkan soal rumah tangga. semua diterima dengan sangat baik oleh Gus Dur.

Gus Dur tidak pernah membedakan tamu yang datang dari mana saja, bahkan yang berbeda keyakinan, agama, etnis, kaya-miskin, semua dilayani dan diterima, didengarkan semua keluhannya bahkan dibantu semampu beliau.

Tak lama kemudian, ada tamu yang datang seorang pengusaha ingin bersilaturrahim meminta tolong dan doa terkait dengan usahanya. Gus Dur menyambut degan baik dan berbicara singkat. Pengusaha itu pun pamitan sambil meninggalkan tanda terimakasih pada Gus Dur. Gus Dur meminta Sulaeman, ajudan pribadinya, untuk memanggil tamu yang disuruh menunggu sebelumnya. 

“Coba Man, itu tadi dipanggil, tanya butuh berapa buat operasi keluarganya?”

“Oh ya, Pak,” jawab Sulaiman. 

Setelah masuk dan ditanya keperluan untuk biaya operasi, ia menjawab 15 juta rupiah.

“Oh ya sebentar. Man, coba tadi dilihat pemberian pengusaha tadi, ada berapa?

“Ada 15 juta rupiah, Pak,” jawab Sulaiman.

“Oh ya sudah, kasihkan ke orang yang membutuhkan itu,” ujar Gus Dur tanpa berpikir panjang.

Sulaiman pun bertanya kembali,

“Maaf, Pak, berapa yang dikasihkan? Semuanya?”

“Iya semuanya.”

“Baik, Pak.”

Ahirnya uang tersebut pun dikasihkan semuanya tanpa disisakan sedikitpun. Begitulah Gus Dur. 

Kembali ke rencana ajakan makan enak tadi, setelah dilihat oleh masih ada beberapa tamu yang mengantri, Bang Muhyidin pun menunggu beberapa saat. Setelah tidak ada tamu lagi, barulah Bang Muhyidin menghampiri Gus Dur.

“Bagaimana, Gus? Jadi ngajak keluar untuk makan enak? Tanya Muhyiddin sedikit bercanda.

Gus Dur pun terdiam sejenak dan tersenyum.

“Oh ya, Din, kayaknya kita tidak jadi makan di luar. Tadi ada rejeki, tapi keduluan orang lain yang lebih membutuhkan. Kebetulam tadi ada orang yang butuh biaya untuk operasi anggota keluarganyà. Katanya butuh 15 juta rupiah. Kebetulan tadi ada rejekinya, ya, diberikan semua.” 

“Baik, Gus,” jawab Muhyiddin. 

“Kalau begitu, kita beli ketoprak saja Din,” ujar Gus Dur. “Seperti biasa makan di sini,”  lanjutnya sambil tertawa terkekeh-kekeh. 

Ketoprak lagi … ketoprak lagi, kata Muhyiddin dalam hatinya. Sulaiman kemudian meminta staf PBNU untuk membelikan ketoprak yang biasa dijajakan di dekat Kantor PBNU. 

Kisah ini disampaikan oleh Bang Muhyiddin Arubusman dan sudah saya tashih ke Mas Sulaiman sebagai ajudan Gus Dur yang masih ada sampai sekarang. Kisah ini beberapa kali diceritakan oleh Bang Muhyiddin Arubusman kepada saya pribadi, seolah memberi nasehat, pesan dan mengingatkan, agar kita semua bisa meneladani keramahan dan kedermawanan Gus Dur. 

Untuk Gus Dur dan Bang Muhyiddin … Alfatihah.

Penulis adalah mantan sekretaris pribadi H. Muhyidin Arubusman