Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Gina Akmalia: Putri Kiai Sarat Prestasi

Gina Akmalia: Putri Kiai Sarat Prestasi
Gina Akmalia (Foto: NU Online Jabar/Nelly Nurul Azizah)
Gina Akmalia (Foto: NU Online Jabar/Nelly Nurul Azizah)

Para tamu yang makan di ruang tengah kediaman KH Masluh Sakandari sepertinya hampir menghabiskan seluruh santapan di piring masing-masing. Bahkan sebagian sudah ada yang selesai. Tak ada lagi yang antre di meja makan. Memang saat itu, di pesantren Sinapeul tengah ada pertemuan dengan para kiai sekitar Pacet.

Saat itu saya berada di ruangan dalam bersama putri sulung Kiai Masluh, Gina Akmalia. Hampir dua jam saya berbincang mendalami kehidupannya. Sesekali Nyai Hajjah Hadami Dzuriyah, ibu Neng Gina, ikut nimbrung dan turut menjelaskan. Kemudian pergi. Sesekali datang lagi. 

Di pojok ruang tengah itu, dua pria duduk di kursi, yaitu adik dan suami Neng Gina. Keduanya duduk di situ tak kurang 1, 5 jam. Mereka berdua sempat ditemani paman Neng Gina, Ajengan Khoeru Faruq dari Pondok Pesantren Syifaus Salam Maruyung, Ketua Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor Kabupaten Bandung. Tak lama kemudian ia pergi ke ruang tengah.  

Kemudian adik Neng Gina juga ngeloyor ke meja makan. Ia sepertinya tak tahan perutnya ingin segera diisi. Jam makan siang memang sudah lewat dari tadi. Bu Nyai kemudian menyuruh kami makan. 

“Kenapa tidak makan?” tanya saya kepada suami Neng Gina. 

Dia tak menjawab. 

Neng Gina agak terkaget mendengar pertanyaan saya. 

“Aang tak pernah makan kalau tidak bareng dengan saya,” katanya sambil tersenyum.

Lalu saya mengajak mereka makan karena Ibu Nyai sekali lagi meminta kami untuk menunda dulu obrolan. Setelah mengisi piring masing-masing, tanpa disuruh siapa pun, Neng Gina mengambil dua gelas air hangat. Satu untuk suaminya, satu lagi disodorkan ke saya. 

“Neng Gina bisa masak teu (tidak)?” tanya. 

“Saya tak bisa masak, Teh,” kata Neng Gina.

Sawios teu tiasa masak, kan abdi nu tiasa masakna (tidak apa-apa tidak bisa masak, kan saya yang bisa, red.),” Aang menjawab. “Saya tidak menuntut untuk bisa masak. Saya juga bisa masak,” katanya. “Neng mah tong sagala teuing dicabak (jangan segala dikerjakan, red.),” kata ajengan muda bernama Romdhon Ahmad Syatibi. 

Saya tertegun mendengar suami Neng Gina menyebut diri sebagai tukang masak. Begitu tawadhunya. Padahal dia adalah putra dari KH Busthomi Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Bogor. Dia juga merupakan cucu dari Mama KH Jalaluddin Bogor dan KH Mahmud Zamakhsari Cibeureum, Sukabumi.

Sementara Neng Gina sendiri adalah putri dari Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Pacet KH Mashluh Sakandari, cucu dari KH Ahmad Iing pengasuh Pondok Pesantren Baiturrosyad Al-Qur'ani), dan cicit dari Mama KH Amin Siroj pendiri Pondok Pesantren Badrul Ulum Islami Sinapeul. Sementara dari pihak ibunya adalah cucu dari KH Asep Alibasyah Pondok Pesantren Al-Mushorrif dan cucu dari KH Abdul Ghani Garut.

Neng Gina dan Aang adalah pengantin baru yang menikah Juli tahun ini. Pasangan serasi dari keturunan ahli ilmu dan adab. 

Neng Gina dan suamianya, Romdhon Ahmad Syatibi

Sarat Prestasi 
Wajar saja Neng Gina tak tahu banyak tentang cara memasak karena hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk belajar di pesantren. Sejak lahir lahir pada tahun 1997 ia berada di kompleks Pondok Pesantren Baitur Rosyad Lemburawi milik kakeknya.

Kemudian saat ayahnya menjalankan tugas dari keluarga besarnya untuk melanjutkan Pesantren Sinapeul, ia dibesarkan di pesantren itu dengan seluk-beluk etika dan ilmu pesantren. Secara intensif ia diajarkan hal itu sehingga dalam usia dini mampu memahami dasar-dasar ilmu pesantren. 

Untuk memperluas ilmu dan pengalaman, Neng Gina kemudian dikirim dikirim ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tasikmalaya. Ia menghabiskan masa remajanya di pesantren itu sejak 2013 sampai 2018. Setelah itu ia dikirim ke salah satu pesantren masyhur di Jawa Timur, yaitu Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri dari 2018 sampai 2019. 

Neng Gina adalah salah satu tipe santri yang tekun dan tak menyia-nyiakan waktu dan kesempatannya. Ia mengaku seumur hidupnya hanya sekali ke bioskop saat menjadi santri di Tasikmalaya. Itu pun karena ia dipaksa teman-temannya saat ulang tahun dirinya. Sehingga tak heran jika ia meraih banyak prestasi. 

Ketika di Pesantren Badrul Ulum yang diasuh ayahnya, ia mengikuti Musabaqah Qiratul Kutub (MQK) 2011 yaitu membaca kitab Sullamut Taufiq. Pada saat itu ia meraih juara 1 pada musabaqah yang diikuti peserta se-Kota Bandung.

Ketika menjadi santri di Bahrul Ulum ia mendapatkan juara 2 Musabaqah Qiratul Kutub bidang nahwu se-Kota Tasikmalaya pada tahun 2015.

Pada tahun 2016, ia menjadi juara umum se-Pondok Pesantren Bahrul Ulum karena ia mampu memborong beberapa juara, yaitu juara 1 Sulamul Munawaraq (fan ilmu manthiq), juara 1 Jauhar Maknun (fan ilmu balaghah), juara 1 Ghayatul Wushul (fan ushul fiqih), juara 1 I'anatut Thalibin (fan ilmu fiqih), juara 1 Alfiyah Ibnu Malik (fan ilmu nahwu).

Pada tahun 2017, ia meraih juara 2 fan nahwu pada tingkat marhalah ulya Musabaqah Qiratul Kutub se-Kota Tasikmalaya. Pada tahun yang sama dia Juara 1 Alfiyah Ibnu Malik pada Musabaqah Qiratul Kutub tingkat Kota Tasikmalaya yang dilaksanakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pada tahun yang sama pula, Neng Gina pernah kursus bahasa Arab di Pare selama beberapa bulan. Pada saat itu, ia mendapatkan Syahadatul Injaz karena melebihi target hafalan kelas kosakata. 

Kemudian semasa di Lirboyo di Hidayatul Mubtadi'at Qur'aniyyah ia memulai menghafalkan Al-Qur’an. Hanya dalam waktu 18 bulan ia mampu menghafal 30 juz. 

Setelah menjadi santri Lirboyo, Neng Gina sebetulnya ingin melanjutkan belajar di luar negeri. Tujuannya Yaman. Ia sangat memungkinkan untuk itu karena mengantungi Syahadatul Injaz. Namun, ia mendapati keadaan di pesantren orang tuanya kekurangan tenaga pengajar. Sehingga ia memilih untuk membantunya.

Saat ini, ia turut mengajar sekitar 800 santri putra dan putri Badrul Ulum Islami Sinapeul. Di sela kesibukannya mengajar santri, ia berusaha menyusun sebuah risalah yang menjelaskan kembali kitab Mutammimah (fan nahwu), Baiquniyyah (fan musthalahul hadits), dan Samarqandi (fan ilmu bayan).

Perempuan Harus Pintar Mengaji
Neng Gina bersyukur karena keluarganya tak membedakan pendidikan kepada anak lak-laki dan perempuan. Sehingga ia mendapatkan dukungan penuh untuk mendalami pendidikan pesantren. Ia juga tak merasa pendidikan keluarganya tidak dengan cara pemaksaan. Ia yang sekarang mampu menghafal Al-Qur’an 30 juz bukan karena dipaksa keluarga, tapi tumbuh dari panggilan jiwa dan hatinya.  

Pada masa kecil misalnya, ia sebagaimana anak perempuan lain, tak mesti dihabiskan untuk mengaji. Kedua orang tuanya memberi kesempatan untuk bermain. Ketika menjadi santri di Tasikmalaya, ia juga mengisi liburan bersama santri putri lainnya. Orang tua berada pada posisi yang mendukung dan memotivasi. 

Neng Gina dan keluarganya saat ia menikah

Sebagai perempuan, ia pernah mendengar cerita ayahnya saat menjadi santri. Sang ayah memiliki guru yang istrinya menjadi badal (pengganti) mengajar santri saat suaminya tidak ada. 

Motivasi lain ia dapatkan saat menjadi santri Bahrul Ulum Almursyidi Tasikmalaya. Kiai di pesantren itu menegaskan bahwa perempuan pun harus bisa mengaji, bukan hanya nahwu, sharaf, fiqih, tapi mencakup semua fan ilmu. 

“Sebab setiap fan ilmu saling membantu al-funun yata'aawanu,” ungkap Neng Gina mengutip pendapat gurunya itu. 

Saat di Lirboyo, Neng Gina mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tambahan. Misalnya saat pesantren mendapatkan kunjungan ulama luar negeri. 

“Beliau pernah muqim di amerika selama 40 tahun. Di sana perempuan pun selalu menjadi peran utama. Berbeda dengan negara kita yang terkadang ada bahasa "nanti juga ke dapur-dapur lagi". Memang sudah seharusnya kita di rumah, tetap menjadi makmum bagi suami, tapi semua itu tidaklah boleh jadi halangan untuk wanita maju,” jelasnya. 

Neng Gina kemudian menyebutkan bahwa Siti Aisyah adalah seorang perempuan yang menjadi figur di kalangan sahabat Nabi. Dialah salah seorang yang meriwayatkan hadits kepada sahabat lain. 

“Siti Aisyah pun termasuk peringkat ketiga dari muktsirul (banyak meriwayatkan, red.) hadits,” katanya. “Bukankah itu adalah salah satu contoh dari sekian banyak wanita yang menjadi sosok figur?” tanyanya. 

Oleh karena itu, ia berharap wanita-wanita Indonesia, khususnya yang pernah mengenyam dunia pesantren, bisa menjadi Siti Aisyah masa kini.

“Teruntuk para santri milenial diharapkan untuk sungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Utamakan ilmu agama dulu, lalu setelah itu ilmu umum. Karena apa pun profesimu ilmu agama itu harus menjadi benteng utama dalam kehidupan kita. Karena kita di dunia itu seperti 'aabirus sabiil, seperti lewat sepintas saja. Kehidupan sebenarnya adalah akhirat,” kata kakak dari M.Agil Robbani, M. Hisyam Mawardi, dan Hizam Ainulgur.

Penulis: Nelly Nurul Azizah
Editor: Abdullah Alawi