Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

FOTO BERSEJARAH: KH Idham Chalid Hadiri Harlah NU di Ciparay Tahun 1964

FOTO BERSEJARAH: KH Idham Chalid Hadiri Harlah NU di Ciparay Tahun 1964
KH Idham Chalid saat menghadiri harlah NU di Ciparay
KH Idham Chalid saat menghadiri harlah NU di Ciparay

Bandung, NU Online Jabar 
Almaghfurlah KH Idham Chalid, Ketua Umum PBNU 1957-1984 pernah menghadiri peringatan hari lahir NU di Kabupaten Bandung yang berlangsung di kediaman salah seorang tokoh NU, KH E. Zaenal Muttaqin di Kompleks Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin. Letaknya di seberang Masjid Agung Ciparay. 

Kehadiran Kiai Idham terdokumetasikan dalam sebuah potret milik KH Rahmat Khoirul Khuluq, salah seorang kiai di Yayasan Islam Al-Husaeni Lebakbiru, Ciheulang, yang ditunjukkan di kantor yayasan tersebut, Senin (29/9).

Kiai Rahmat mengaku hanya sebagian orang saja yang dikenalinya dalam potret tersebut. Tak heran karena Kiai Idham merupakan tokoh besar dan sedang berada dalam acara yang dihadiri ribuan orang. Kemungkinan besar, di antara yang tak dikenalinya itu adalah warga atau tokoh NU atau rombongan dari Pak Idham Chalid. 

Kiai Rahmat hanya menyebut beberapa yang ada di foto itu, yaitu yang hanya berada di barusan depan. Nomor dua dari kiri adalah dirinya sendiri. Ketiga dari kiri adalah Ali Saifddin Husen sepupu Kiai Rahmat. Kelima dari kiri KH Surahman (Wakil Ketua PCNU Kabupaten Bandung di masa itu). Keenam dari kiri, KH Idham Chalid. Ketujuh dari kiri adalah KH E.Z. Muttaqin.  

Saat itu, Kiai Rahmat berusia 24 tahun, masih tercatat sebagai murid di Pendidikan Guru Agama di Jalan Patuha Kota Bandung. Meskipun masih berstatus murid PGA, waktu itu ia menjadi Ketua Partai NU di Kecamatan Regol. 

“Karena ada harlah NU, saya pulang dulu, apalagi harlah ada Ketua Umum PBNU dan berlangsung di rumah uwak saya,” kata jebolan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya ini.

Menurut dia, Kiai Idham Chalid sudah berada di lokasi harlah sekitar pukul 09.00. Namun, ia tidak ingat kapan dia pulang. Ia juga sudah lupa tentang pidato yang disampaikan Kiai Idham waktu itu.  

Pewarta: Abdullah Alawi