Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Fatayat NU Kota Cirebon Konsolidasi Melalui Kajian Ke-Aswajaan

Fatayat NU Kota Cirebon Konsolidasi Melalui Kajian Ke-Aswajaan
Dari kiri ke kanan: Ustadz Syukri, Kiai Jafarudin, dan Tuty Alawiyah. (Foto: NU Online Jabar/Fatayat NU Kota Cirebon)
Dari kiri ke kanan: Ustadz Syukri, Kiai Jafarudin, dan Tuty Alawiyah. (Foto: NU Online Jabar/Fatayat NU Kota Cirebon)

Kota Cirebon, NU Online Jabar
Fatayat NU Kota Cirebon menguatkan konsolidasi organisasi melalui kajian ke-Aswajaan. Selain menjalin silaturahim antara pengurus dan anggota juga dapat menambah wawasan.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan secara door to door bergiliran. Juga bisa menimba ilmu yang berkaitan dengan ke-Aswajaan sebagai pondasi hidup ber-Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah,” jelas Ketua Fatayat NU Kota Cirebon Tuty Alawiyah. 

Kegiatan yang sudah menjadi rutinitas mingguan bagi Fatayat NU Kota Cirebon. Dihadiri oleh jajaran pengurus dan anggota Fatayat se-Kota Cirebon. Juga jamaaah nahdliyin dari warga setempat. jajaran pengurus juga anggota Fatayat se-Kota Cirebon, selain dari itu jamaa’ah dari warga setempat pun ikut hadir dalam agenda kajian tersebut. Tutur hadir Ustadz Syukri sebagai perwakilan MWC NU Harjamukti.

Kajian minggu ini, dilaksanakan di Mushola Baiturrahim Harjamukti, Kamis (26/11), diisi oleh Kiai Jafaruddin.

“Kajian ke-Aswajaan ini sangat penting untuk bisa memahami sejauh mana pemahaman tentang prinsip-prinsip Ahlussunnah wal-Jamaah, yakni tasamuh, tawassuth, ta’awun dan tawazun,” tutur Syukri dalam sambutannya. 

Sementara itu Kiai Jafaruddin dalam paparannya menyampaikan tentang ciri khas ahlussunah wal jamaah. Pertama, Islam Kaffah dengan menjalankan syariat, akidah, akhlak, tasawuf dan tarekat. Kedua, Islam Rahmatan lil ‘Alamin, yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Ketiga, berprinsip Bhinneka Tunggal Ika. 

“Berbeda pendapat tidak menjadi penghalang dalam bermasyarakat, berorganisasi atau lainnya, yang terpenting tidak terjadi permusuhan atau pertengkaran,” jelas Kiai Jafar. 

Keempat, taat pada aturan pimpinan, siapapun pemimpinnya selama membawa kemaslahatan, harus ditaati dan dipatuhi. 

“Contohnya pemimpin memberi kebijakan untuk menghimbau warga Indonesia membiasakan diri mencuci tangan, bermasker, dan berjaga jarak pada masa pandemi, itu haru ditaati karena membawa kemaslahatan,” tegasnya.

Pewarta: Syam Iqna
Editor: Iip Yahya