Fatayat NU Jabar Menuju Profesionalitas dan Kemandirian

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
Rakerwil PW Fatayat Jabar dihadiri oleh Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya Ridwan Kamil. Foto: Humas Pemprov Jabar.
Rakerwil PW Fatayat Jabar dihadiri oleh Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya Ridwan Kamil. Foto: Humas Pemprov Jabar.

(Catatan atas Rapat Kerja Wilayah Fatayat NU Jawa Barat Tahun 2020)

Oleh Neneng Yanti Khozanatu Lahpan

Organisasi perempuan selalu mencatatkan peran penting dalam proses peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Kiprah kaum perempuan tak dapat dipandang sebelah mata dalam mewarnai berbagai perubahan sosial di negeri ini. Di Indonesia, kaum perempuan memiliki peluang dan keleluasaan yang besar dalam berkiprah di ruang publik dibandingkan di negara-negara muslim lainnya. Terlepas dari berbagai persoalan yang masih mengungkung kaum perempuan di berbagai sisi, sudah sejak lama kaum perempuan di negeri ini berkontribusi besar dalam memajukan kehidupan masyarakat.

Pada dasarnya, perempuan secara alamiah merupakan sosok yang memiliki ketangguhan dalam menjaga keberlangsungan kehidupan. Seorang perempuan akan bekerja keras menciptakan kesejahteraan di rumahnya, melebihi keinginannya untuk menyejahterakan dirinya sendiri. Apa yang dilakukan kaum perempuan yang terutama adalah kepentingan di luar dirinya, untuk membuat kehidupan lebih nyaman bagi sekelilingnya, terutama keluarganya. Itulah kenapa perempuan kerap disebut ibu kehidupan, termasuk menjaga tanah air. Oleh karena itulah tanah air disebut “ibu pertiwi.” 

Dengan kata lain, perempuan terbiasa melakukan berbagai peran sekaligus dalam kehidupan sehari-harinya, baik dalam mengurus pribadi, keluarga hingga masyarakat. Hal ini membuat perempuan terlatih melakukan multitasking job, menjalankan berbagai peran dalam waktu yang bersamaan. Terlatih menghadapi berbagai persoalan keseharian sekaligus mencarikan jalan penyelesaiannya. 

Pengalaman-pengalaman itulah yang membuat perempuan dapat berperan secara efisien dalam menjalankan sebuah organisasi. Efektivitas dan efesiensi perempuan dalam mengurus berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, membuat mereka berpotensi untuk melakukan efektivitas yang sama dalam menjalankan program-program organisasi. 

Sebagai organisasi perempuan yang berbasis keislaman, Fatayat NU Jawa Barat merupakan sebuah organisasi yang berakar kuat di masyarakat hingga ke level terbawah. Di antara berbagai Badan Otonom di bawah Nahdlatul Ulama, Fatayat NU memiliki posisi strategis dalam melaksanakan berbagai program pemberdayaan bagi masyarakat, sebagai kelompok sosial yang berada di rentang usia yang sangat produktif. Sebagian besar anggotanya menjalankan peran-peran sebagai ibu muda yang mengurus keluarga tetapi juga berkiprah di masyarakat maupun pekerjaan profesional. 

Tak heran bila dalam berbagai aktivitas keorganisasian, para aktivis Fatayat menjalankan berbagai aktivitas sembari mengasuh, menyusui, menjaga bayi dan anak-anak. Yang teristimewa, situasi itu tak membuat mereka merasa kerepotan. Mereka umumnya menikmati peran pengasuhan anak sekaligus berkhidmat untuk masyarakat melalui Fatayat. Semangat inilah yang menjadi kekuatan Fatayat sebagai organisasi perempuan muda. Kekuatan kaum perempuan yang penuh energi dan gairah yang besar dalam mengabdi untuk umat. Kekuatan ini pula yang dapat dijadikan bekal para sahabat Fatayat berkiprah dalam bidang yang lebih luas di kemudian hari, seperti dalam politik, ekonomi, pendidikan, dakwah dan lain-lain. 

Pada Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil), yang berlangsung pada 11-12 September 2020, bekerjasama dengan BKKBN Jawa Barat, Fatayat NU Jawa Barat punya komitmen yang tinggi untuk melaksanakan berbagai program pemberdayaan mulai dari bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan, dakwah, hukum, seni dan sosial-budaya, hingga bidang penelitian dan pengembangan. Perhelatan yang dilaksanakan di hotel Savoy Homann ini mengusung tema “Fatayat NU Jawa Barat menjadi Organisasi yang Magnetis dengan Semangat Bersatu, Mandiri dan Berprestasi”. 

Organisasi ini telah menyiapkan berbagai program kemitraan dengan berbagai lembaga, baik pemerintah, perusahaan, universitas, maupun lembaga organisasi lainnya. Kepengurusan Fatayat NU Jabar yang baru dilantik ini tampak ingin bergerak cepat, berlari merealisasikan program-program dengan berbagai mitranya. Dengan kekuatan potensi dan semangat itu, Fatayat punya peluang besar menjadi organisasi perempuan yang dinamis dan profesional, serta mendapat kepercayaan besar dari masyarakat melalui berbagai stakeholders-nya.

Manajemen Organisasi yang Kokoh

Sebagai organisasi yang memiliki akar kuat di lingkungan pesantren dan masyarakat pedesaan, Fatayat NU mewadahi berbagai potensi sumber daya yang besar, termasuk para daiyah, hafidzah, pengusaha, intelektual, dan lain-lain.  

Tak dapat dipungkiri bahwa organisasi kemasyarakatan di lingkungan NU, kerap identik dengan figur kepemimpinan yang kuat. Namun, ketokohan saja tentu tak cukup. Yang lebih penting dari sebuah organisasi adalah kemampuannya membangun sistem yang kokoh yang dapat menyokong gerak organisasi. Pembenahan manajemen organisasi merupakan prioritas dari Hirni Kifa Hazefa pada tahun pertama kepemimpinannya. Dengan karakteristik kepemimpinan yang kuat disertai manajemen organisasi yang kokoh, Fatayat NU dapat menjadi contoh organisasi modern yang profesional di lingkungan NU, khususnya di Jawa Barat. 

Peran Strategis Fatayat

Kepengurusan Fatayat yang baru dilantik ini telah membangun berbagai kerjasama dan kemitraan dengan berbagai pihak yang dapat mendukung pelaksanaan program-program pemberdayaan masyarakat. Dalam Rakerwil 2020 ini, Fatayat NU Jawa Barat berkomitmen merealisasikan berbagai program untuk lima tahun ke depan, yang telah disepakati dengan sejumlah mitra. 

Kekuatan Fatayat yang memiliki jaringan hingga ke desa-desa, membuat Fatayat NU menjadi mitra strategis berbagai stakeholders untuk mensinergikan program mereka. Hal itulah yang mendorong BKKBN Jabar mempercayakan sejumlah programnya dengan menggandeng Fatayat NU Jabar. Demikian pula dengan lembaga lainnya, seperti BJB dengan program kredit Mesra untuk penyandang disabilitas, dan Mustika Ratu dengan berbagai pelatihannya.

Fatayat NU Jabar juga memiliki program pengembangan intelektual dengan dibentuknya Forum Akademisi Fatayat NU Jawa Barat. Bekerja sama dengan UNINUS, Fatayat siap merealisasikan sejumlah kerjasama dalam bidang penelitian, publikasi, seminar nasional dan internasional, serta kegiatan akademik lainnya. Pada kesempatan yang sama, Komisi Informasi Jawa Barat juga membuka peluang kerjasama dengan mendorong keterlibatan Fatayat dalam mengakses informasi publik terkait kebijakan-kebijakan pemerintah. Hal ini merupakan hal strategis, mengingat Fatayat selama ini belum banyak terlibat dalam memantau informasi publik terkait kebijakan pemerintah. 

Selain itu, penguatan kader juga merupakan pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi, mengingat besarnya potensi organisasi hingga level terbawah. Penguatan organisasi tak bisa dilepaskan dari pengkaderan. Tanpa pengkaderan yang baik sebuah organisasi tidak dapat berkembang, karena pada dasarnya yang menjalankan program-program pemberdayaan adalah kader-kader Fatayat di tingkat bawah. 

Salah satu program yang dapat mendorong Fatayat berperan penting di tengah dinamika kehidupan beragama di Indonesia adalah dibentuknya FORDAF (Forum Daiyah Fatayat). Wadah ini berisi para pendakwah muda perempuan yang kompeten. Mereka merupakan ulama-ulama perempuan yang akan menjadi garda terdepan dalam menyampaikan pesan-pesan Islam rahmatan lil a’lamin dan pencegahan radikalisme. Fordaf mengusung dakwah berbasis keluarga, membangun bangsa dengan dimulai dari keluarga.

Tentu, tak ada kata yang tepat dalam menggambarkan suasana Rekerwil Fatayat NU Jawa Barat, selain optimisme yang besar dalam diri para pengurus dan anggotanya. Dengan keyakinan besar, Fatayat NU Jabar akan mulai “ngalalana di buana”, menjelajahi dan menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat, untuk meningkatkan kualitas perempuan dan keluarga di Jawa Barat. 

Selamat bekerja, Fatayat NU Jabar.  

Penulis adalah pengurus bidang Litbang PW Fatayat NU Jawa Barat