Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Falsafah Jalan Tengah Pancasila yang Tak Boleh Terlupa

Falsafah Jalan Tengah Pancasila yang Tak Boleh Terlupa
(Ilustrasi/NU Online Jabar)
(Ilustrasi/NU Online Jabar)

Oleh Dede Hidayat 
Latar belakang terbentuknya Pancasila berawal dari pembicaraan panjang yang dilakukan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) untuk merumuskan dasar Negara. Sidang BPUPKI dimulai pada 29 Mei sampai 1 Juni 1945, BPUPKI bertugas menyelidiki hal-hal penting dan menyusun rencana persiapan kemerdekaan Indonesia. Hingga pada tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI, Presiden Soekarno mengemukakan konsep awal Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia, itulah yang kemudian menjadi dasar 1 Juni dijadikan sebagai peringatan Hari Lahir Pancasila di Indonesia, lantas bagaimana sejarah Pancasila dan apa urgensinya bagi bangsa ini ? 

Dalam sidang BPUPKI ada tiga kekuatan ideologis yang bertarung dengan sengit, yaitu Nasionalisme, Islam, dan Sosialisme/ Marxisme, dimana hal tersebut tidak bisa terlepas dari Ideologi besar Dunia saat itu, hingga perdebatan tersebut menemukan titik temu yaitu Pancasila sebagai jalan tengah. 
Jika ideologi besar di dunia ini dikelompokan dalam dua kutub yaitu ideologi yang berbasis pada demokrasi liberal dan ideologi sosialis komunis maka pancasila berada pada titik temu diantara kedua ideologi besar tersebut.

Tetapi, demokrasi dan sosialisme Pancasila berbeda dengan kedua ideologi tersebut. Demokrasi Pancasila menghendaki demokrasi musyawarah mufakat berlandaskan kebijaksanaan, dan sosialisme Pancasila menginginkan keadilan dan kesejahteraan bersama atas semangat gotong royong. 
Munculnya Pancasila menjadi penyelamat di tengah kebuntuan sentiment pertarungan ideologi, dan diterima atas dasar melihat fakta sosiologis dan teologis bangsa Indonesia yang heterogen. 
Pancasila menjadi payung yang menaungi semua dan memberikan jaminan tentang tekad hidup di Indonesia. Lahirnya Pancasila menjadi perekat bangsa Indonesia yang berasal dari beragam suku, bahasa dan budaya yang berbeda. 

Dalam konstalasi global saat ini, tentunya perlu adanya keseriusan dari semua pihak untuk tetap mengingat dan memegang teguh prinsip dari falsafah Pancasila sebagai ideologi Negara.

Sebagai ideologi jalan tengah, tentunya Pancasila akan selalu dalam pusaran tarik menarik kekuatan besar dunia, antara kelompok “kanan“ dan “kiri“ resiko memilih posisi tengah secara alami seperti berada diantara tegangan positif dan negatif yang kapanpun akan ada ancaman sengatan dari berbagai pihak. 
Pancasila sebagai ideologi terbuka mendorong Pancasila bersifat dinamis dalam menghadapi perubahan zaman dengan tetap berlandaskan asas nilai luhur budaya Indonesia, namun juga membuka peluang tarik menarik antar kelompok ideologi, artinya tidak boleh ada yang memonopoli pemaknaan atau penafsiran Pancasila berdasarkan kepentingan kelompok tertentu. 

Milenial, dan Pancasila di tengah Kehidupan

Kehadiran Pancasila tentunya tidak boleh hanya sebatas simbol, slogan apalagi pajangan. Falsafah Pancasila harus menjadi landasan bangsa Indonesia termasuk di dalamnya adalah para Milenial, Falsafah Pancasila sebagai landasan dan sumber nilai harus ada pengaruhnya bagi kehidupan sehari hari, ini yang nampaknya perlahan tapi pasti terkikis seiring dengan perkembangan zaman. 

Moral Pancasila bukan hanya sebatas membuat status di media sosial dengan ucapan “Aku Pancasila, Aku Indonesia “ dan pada saat yang bersamaan juga bar bar saling serang adu umpatan dan adu kebencian kepada orang atau kelompok yang dianggap bukan bagian darinya. 

Moral Pancasila bukan hanya mengucapkan aku cinta Indonesia tetapi di saat yang bersamaan juga melakukan praktik korupsi. 

Moral Pancasila akan tetap teguh di tengah dengan tidak mudah mengkafirkan orang, pun juga tidak melegalkan kejahatan. Moral Pancasila akan menghormati keragaman, pun juga memperjuangkan keadilan sosial. Identitas Pancasila perlu dipertebal dalam kehidupan sehari hari agar tidak terpinggirkan oleh identitas primordial dan universal. 

Tanggung jawab ini terletak pada kita semua, terlebih pada generasi milenial para penerus bangsa, generasi milenial atau generasi Y yang saat ini berumur antara 18 – 36 tahun merupakan generasi usia produktif, yang akan memainkan peranan penting ke depan. 

Generasi milenial memiliki keunggulan percaya diri tinggi, kreativ, dan mudahnya akses koneksi satu dengan yang lainnya, namun kekinian di saat hidup yang serba instan justru terkadang membuat perilaku negatif dengan gampang terpancing dengan berita hoaks atau isu yang tidak benar hingga terpancing dengan mudah mengumbar umpatan di media sosial. 

Banyak cara untuk pihak lain membuat Indonesia kerdil dan tidak bisa besar, beberapa diantaranya adalah dengan meracuni pemikiran penerus bangsa melalui fashion, film fantasi, filosofi dan financial. 
Seiring perkembangan teknologi, Perang bukan hanya soal adu senjata, tetapi juga dunia digital atau cyber war. Serangan terhadap filosofi merupakan bentuk perang ideologi dan pikiran agar terjebak pada pola ideologi radikalis, liberalis, atau kapitalis. Untuk membentengi dari hal tersebut perlu adanya upaya yang serius untuk terus konsisten berpegang teguh pada Pancasila. 

Mahasiswa Pascasarjana Magister Administrasi Publik Untag Cirebon