Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Eci dan Onong

Eci dan Onong
Ilustrasi: NU Online
Ilustrasi: NU Online

Oleh Resna Sri Mulyani 

Malam itu pertama kali para santri kembali hadir ke pesantren. Malam jadi terasa hangat meski baru sebagian yang datang. Eci dan Onong adalah santri putri di antara santru yang telah tiba di pesantren. Malam itu mereka sedang asik-asiknya menyantap adrahi yang dibawa oleh teman sekobongnya. Namun, tidak lama kemudian, terdengar suara. 

“Assalamu’alaikum…,”

Mereka tahu itu pasti suara santri putra. Mereka pun menjawab salamnya dengan nada  pelan. Itu cara jitu jika ada santri putra yang membaca salam karena biasanya menyuruh mereka memasak mie instan atau menyeduh kopi.

Tapi kali ini suara orang yang membaca salam itu semakin mendekat. 

”Assalamu’alaikum…,” 

Eci memberanikan diri menghampiri orang yang membaca salam itu.

Onong melihat Eci dan orang yang membaca salam itu seperti sedang mengobrol, tapi tidak terdengar dengan jelas karena lumayan cukup ada jarak antara kobong dan gerbang santri putri.

Tak lama kemudian Eci pun datang kembali dengan terburu-buru. 

"Hei.., itu tamu yang mau ke kiai bukan santri putra, masyaallah," katanya. 

Sontak Onong dan santri putri lainya tertawa melihat kejadian itu, sampai sampai Onong tersedak nasi dan kepayahan mencari segelas air.

"Cepet, Ci, beri tahu kiai ke atas, ke lantai dua rumahnya," perintah teman Eci yang duduk di sebelah Onong. 

"Iya ini juga mau, tapi mau cuci tangan dulu. Ayolah, Nong, anter!" jawab Eci karena kebetulan tangannya belum dibasuh. 

"Ih, Ci, kok ke Onong sih?" jawab onong yang sedang enak-enaknya menyantap kepala ikan kesukaannya. 

"Udahlah, ayo anter. Nanti Eci kasih kepala ikan cupang gratis," katanya sambil berjalan duluan ke toilet. 

"Ih,.. emang Onong kucing!" jawab Onong yang menyusul Eci.

Setelah mereka berdua memberi tahu kiai, kemudian mereka juga disuruh untuk memanaskan air. 

"Ci, gimana ini? Kok disuruh buat air?" tanya Onong kebingungan. 

"Ya gak tahu, Nong, mungkin ambil gelas dan isi air, lalu kamu antarkan ke ruang tamu," jelas Eci. 

"Awas kalau salah Eci tanggung jawab!" Ancam Onong dengan nada kesal. 

"Ayo cepetan… Eh.., airnya ditunggu sama kiai tuh.." kata Eci.

Setelah membuatkan air mereka pun mengantarnya ke ruang tamu. 

"Assalamu'alaikum…" Salam  mereka berdua dengan nada rendah. 

"Waalaikumsalam…, masuk, Neng," jawab pak kiai. 

"Itu airnya dingin ya?" lanjut pak kiai bertanya. 

"Iya, Pak," jawab Eci dengan nada sopan. 

"Bikinnya air panas, Neng, air dinginnya udah ada di sini, sekalian jangan bikin satu, tamunya ada tiga." jelas pak kiai. 

"Iya, Pak," jawab Eci dan Onong serentak.

Air panas diantarkan ke ruang tamu. Bukannya kembali ke kobong, mereka malah berdebat kecil di dapur. 

"Ci, takut, Ci..." ucap Onong dengan nada ketakutan. 

"Kenapa ih.. takut apa?" tanya Eci. 

"Perasaan dari tadi kita su'udzan mulu sama suara ya, Ci" jelas Onong. 

"Aduh... iya ya kok Eci baru sadar sih," jawab Eci tersadar kebingungan. 

"Besok dan seterusnya jangan kayak gini lagi ya, Ci, kita harus saling mengingatkan, dan menjadi pendengar yang baik," Onong mengingatkan.

"Iya, Nong, bener kata kamu, kita harus jadi pendengar yang baik dan jangan bersu'udzan," jawab Eci. 

"Iya Ci, ayo tobat cii kita ke mesjid paling awal, udah mau masuk waktu isya ni.." ajak Onong, 

"Iya, ayo, Nong," jawab Eci.

"Jika kita ingin jadi pembicara yang baik maka jadilah pendengar yang baik."

Kata kata yang selalu terucap olah guru kami di pesantren. Dan jangan pula berburuk sangka kepada orang lain karena sungguh itu adalah perbuatan yang keji.

Santri Putri Pondok Pesantren Al-Hikmah Mugarsari