Dupi dan Leupeut Rebo Wekasan

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
Dupi, makanan di Rebo wekasan (Foto: Jernih.co)
Dupi, makanan di Rebo wekasan (Foto: Jernih.co)

Oleh H Awan Sanusi

Rebo Wekasan, Rebo Kasan atau Rabu terakhir di bulan Safar sudah tidak asing lagi bagi warga Nahdlatul Ulama khususnya, dan bagi kaum Ahlussunnal wal Jama’ah di tanah air secara umum. Telah banyak pendapat para ulama yang mengulas tentang bulan Safar dan Rebo Kasan, baik upacara ritual maupun amalan yang dianjurkan di hari itu. Namun belum diketemukan dalil, baik dari Al-Qur’an maupun hadits yang mengarah langsung pada ritual Rebo Kasan tersebut. 

Ada pendapat ba'dul 'arifin mengatakan bahwa Allah SWT menurunkan ribuan balwa, cobaan di bulan Safar. Cobaan tersebut bisa berupa penyakit, kecelakaan, atau musibah lainnya. Maka atas cobaan itu agar tidak menjadi musibah yang sangat besar yaitu keluarnya iman dari seorang Muslim, perlu kiranya dicegah, ditangkal dan ditolak. 

Adapun cara penolakannya dengan memperkuat, memperkokoh keimanan, keyakinan bahwa semua berasal dari Allah. Di samping itu lebih memperteguh keislaman dengan memperbanyak amal saleh, baik yang langsung berhubungan dengan Allah maupun ibadah sosial, serta menanamkan niat yang tulus ikhlas dalam melaksanakan amal saleh itu semata-mata karena Allah, bukan karena yang lainnya (ihsan). Mempererat, melekatkan persahabatan, silaturrahim antara sesama, di antaranya dengan sedekah; berupa makanan atau lainnya, itu sangat dianjurkan.

Dalam tradisi masyarakat Sunda, penangkalan atau penolakan terhadap marabahaya itu, dalam ritual Rebo Kasan disajikan makanan sebagai ikon, berisikan doa, tawasul dan tafaul, yaitu berupa dua jenis makanan, dupi dan leupeut. 

Dupi terbuat dari beras dibungkus dengan daun bambu sehingga berbentuk segitiga sama sisi, sedangkan leupeut dibungkus dengan daun pisang berbentuk empat persegi panjang. Leupeut terdiri dari dua belahan yang berukuran sama, disatukan, diikat di kedua ujungnya. 

Dupi dan leupeut sebagai makanan dan disedekahkan adalah doa tawassul dengan amal saleh, sementara bentuk segitiga dan empat persegi panjang yang disatukan dan diikat dua ikatan adalah doa tafaul, yang berarti ditolak dengan iman, islam, dan ihsan, lekatkanlah, eratkanlah persaudaraan dengan sesama dalam ikatan dua kalimah syahadat. Begitu juga penulisan wafaq dan doa bersama tolak bala. Dari segi bahasa; dupi asal dari bahasa Arab (dufia sama dengan ditolak, ditangkal), leupeut dari kata allafa (mengeratkan, melekatkan).

Masalahnya, mengapa ritual Rebo Kasan dilakukan di Rabu terakhir di bulan Safar, tidak di hari Rabu awal atau awal-awal bulan Safar...? Walahu a'lam bis shawaab, hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Namun ada sementara ulama yang menjelaskan bahwa wafat Rasulullah SAW pada hari Senin, 12 Rabi'ul awwal, sementara beliau menderita sakit menjelang kepergiannya selama 13 hari. Maka jika dihitung mundur sebanyak 13 hari dari hari Senin, 12 Rabi'ul awal, akan jatuh pada hari Rabu tanggal 29 atau 30 Safar. Maka atas kebijakan para ulama peringatan haul Rasulullah tidak berbarengan dengan hari kelahirannya, tanggal 12 Rabi'ul awal, tapi diambil dari hari awal kepergian beliau, yaitu Rabu terakhir di bulan Safar, seperti ritual yang biasa dilakukan, namun akan hal ini belum banyak pihak yang mengetahui.

Kehilangan sesuatu yang berharga seperti kehilangan anggota keluarga adalah sebuah musibah. Kehilangan pemimpin yang adil, kehilangan orang yang paling dicintai Allah, kehilangan nabiyyil rahmat adalah musibah besar bagi kaum Muslimin. Itu terbukti setelah wafat beliau, di saat kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar terjadi nabi palsu, kekhalifahan Sayyidina Umar ra diakhiri dengan terbunuhnya beliau dalam shalat, begitu pula Sayyidiina Utsman ra, bahkan Sayyidina Ali dibunuh sama seorang hafidz Al-Qur’an, Abdul Rahman bin Mulzam seorang Khawarij.

Kelahiran kaum Syi'ah dan Khawarij merupakan awal perpecahan umat Islam, disusul Mu'tazillah, Qadariyah, Jabbariyah dan Murji'ah di samping Ahlussunnah wal Jamaah, yang masing-masing memiliki kelompok pengikut sehingga berjumlah 73 firqah (golongan). Dan banyak lagi musibah yang menimpa kaum Muslimin akibat perpecahan yang disebabkan perebutan pengaruh dan kekuasaan (politik), di samping provokasi non-Muslim untuk menghancurkan Islam.

Maka atas musibah-musibah tersebut seyogianya kita selaku umat Islam harus berupaya mencegahnya agar tidak menyebar dan merusak keimanan yang bisa mengakibatkan mati dalam suul khatimah, naudzu billaah...

Penulis adalah Wakil Ketua PWNU Jawa Barat