Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Dongeng Enteng dari Pesantren (5): Siasat di Hari Pertama Puasa

Dongeng Enteng dari Pesantren (5): Siasat di Hari Pertama Puasa
Ilustrasi (NU Online)
Ilustrasi (NU Online)

Oleh Rachmatullah Ading Affandie 

Antara kompleks pesantrenku dengan perkampungan hanya terhalang sawah Kang Madhari. Namun, kenapa awal puasa antara pesantren dengan orang kampung berbeda? 

Di kampung tetangga Ramadhan diawali dengan berpuasa pada Rabu sementara di kampung pesantren dimulai hari Selasa. Aku merasa kecewa karena harus berpuasa lebih dulu. Bahkan aku sempat tidak suka kepada ajengan. 

“Ajengan ingin dipuji kayaknya. Orang-orang berpuasa hari Rabu, ini malah Selasa,” kataku kepada santri lain. Tak ada yang komplain atas pernyataanku itu karena mereka juga sepertinya merasa kecewa. Tapi kekecewaan itu ada yang diperlihatkan dan ada yang disembunyikan serta pura-pura tak merasa kecewa. 

“Iya, padahal kenapa tidak taqlid (mengikuti awal puasa) kepada Ajengan Daman saja,” komentar Si Ibro.

Sudah menjadi rahasia umum, di kampung, orang yang menentukan awal puasa dan hari Lebaran adalah ajengan pemimpin pesantren. Orang-orang sekampung itu akan taqlid kepada keputusannya. Soal salah dan benar, orang-orang kampung tak tahu urusan karena yang bertanggung jawab secara lahir dan batin adalah ajengan. 

Kalaupun keputusan ajengan keliru, ia yang bertanggung jawab. Ia berani menanggung akibatnya di akhirat. Begitu kata ajengan. Karenanya, orang-orang di kampung itu merasa tenteram mengikuti keputusan ajengan.  

Ternyata tidak gampang menjadi seorang ajengan. Ternyata tidak ringan beban tanggung jawab seorang ajengan. 

Padahal cara ajengan menentukan awal dan akhir puasa tidak menggunakan hitungan seperti di tempat-tempat pemantauan benda-benda angkasa. Ajengan hanya memegang teguh berdasarkan keyakinannya.

Meski demikian, ajengan memiliki keyakinan yang tak goyah dengan rasa waswas. 

Dalam hal ini aku takjub pada keyakinan ajengan. Terkait keyakinannya, ia tak lirik kanan kiri. Orang lain mau begitu, mau begini, kalau sudah berpendirian, ia tak bisa diganggu gugat. Keyakinannya sangat penuh meskipun yang harus ditanggungnya adalah tanggung jawab dunia dan akhirat.

Keputusan ajengan bahwa puasa harus dilaksanakan hari Selasa diumumkan selepas Isya. Gara-gara keputusan itu, banyak perempuan di kampung itu berkeramas di malam hari. 

Aku sendiri waktu itu sedang telentang di kobong sembari membayangkan sarapan esok hari. Aku sedang memabayangkan, karena besok hari terakhir bisa makan di siang hari, maka aku harus banyak makan. 

Si Atok sejak asar sudah membuat pancing. Dia berniat akan mengkail ikan di kolam ajengan yang paling atas. Ikannya di situ gemuk-gemuk. 

Kami para santri selalu berpandangan bahwa ajengan sangat pengasih dan pemaaf. Jika kami curi ikannya sepertinya tak terlalu berdosa. Lalu nanti bertaubat. Begitu kata Mang Udin, salah seorang santri senior di pesantren kami. Soal pendapatnya salah atau benar, itu urusannya. 

Aku mengikuti pendapatnya karena kalau pikiran Mang Udi salah, dia yang menanggung dosa. Apalagi Mang Udin juga akan ikut mengkail ikan. Ia sudah mempersiapkan peralatan pancingnya. Buktinya tadi, ia menyambung-nyambungkan bulu kuda yang diambil Si Komar dari istal Mang Suhaemi.

Kemudian kami berunding. Setelah itu kami menugaskan SI Aceng agar berjaga di bawah pohon pete untuk memantau gerak-gerik ajengan. Takutunya ia memeriksa air kolam. Juga memantau takut ada anak ajengan, Nyi Halimah, yang akan mencuci.

Kalau ajengan atau Nyi Halimah kelihatan akan ke arah situ, Si Aceng harus segera menyampaikan isyarat agar santri yang sedang mencuri ikan itu segera turun ke kolam, pura-pura membetulkan sesuatu, yaitu menutupi lobang-lobang air. 

Perundingan kami tengah membicarakan soal isyarat. Apa isyarat Si Aceng saat ajengan atau Nyi Halimah kelihatan akan menuju ke arah kolam. Apakah isyaratnya dengan bersiul, bertepuk tangah, atau menirukan suara bultung ketilang. 

Saat berunding itulah, tiba-tiba beduk bertalu-talu (dulag). Tak berapa lama, kemudian Si Obi memberitakan bahwa besok mulai berpuasa.

Mendengar pengumuman itu, hampir semua santri kecewa. Termasuk Kang Haer. Padahal ia santri yang rajin berpuasa. 

“Jangan-jangan, keputusan ajengan salah?” komentar Si Umar. 

"Jangan-jangan kotoran di matanya disangka bulan? Bukankah ajengan sedang sakit mata?” komentar yang lain.  

Lalu para santri terdiam merasakan kekecewaannya. Perundingan yang dibahas matang-matang untuk makan sebanyak-banyaknya di hari terakhir sebelum puasa, gagal sudah. 

Namun, aku memiliki gagasan untuk menghindari puasa di hari pertama.

Awalnya aku tak menyangka teman-teman tidak akan ikut dengan gagasanku karena membicarakannya pun sambil berbisik-bisik dengan Si Atok. Aku membicarakannya dengan seperti itu karena khawatir ada yang mendengar. Tak dinyana, ternyata perundingan itu ada yang mendengarnya. 

“Aku juga mau ikut,” kata Si Umar. 

“Aku juga ikut,” kata Si Aceng. 

Akhirnya sekobong pada tahu perundingan yang dilakukan secara berbisik-bisik itu. Kemudian para santri berkumpul meminta penjelasan gagasanku yang dirundingkan dengan Si Atok.

"Jangan kalau begitu mah," komentar Mang Udin. Namun, mendengar suaranya, ia seperti ingin ikut dengan gagasanku.

Walhasil rancangan hasil perundingan itu diterima secara aklamasi. Para santri yang memutuskan tidak akan ikut juga menganggap aksi itu tak mengandung dosa.

Begini rencanaku untuk menghindari puasa hari pertama. 

Pernah ajengan menjelaskan tentang fatwa di suatu kampung berbeda dengan kampung lainnya. Nah, Rencanaku berdasarkan penjelasan ajengan terkait hal itu. Kata ajengan, jika kita bepergian ke suatu tempat, kita boleh mengikuti fatwa di kampung itu. Kita misalnya pergi ke sebuah kampung yang memfatwakan bahwa puasa hari Rabu, sementara di kampung kita hari Selasa. Saat di kampung itu kita boleh tidak berpuasa dengan syarat berada di kampung itu dari pagi hingga lewat asar. Artinya harus berada di tempat itu ¾ hari. Tak hanya itu bepergiannya bukan untuk pelesiran, tapi harus punya alasan yang kuat. 

Kebetulan besok aku ada perlu. Sebetulnya bukan keperluan yang begitu penting atau mendesak. Aku hendak ke rumah Mang Iyan di kampung tetangga. Anak Mang Iyan pernah memohon kepadaku kalau kitab Jurumiyah sudah tidak digunakan, dia mau meminjamnya. Nah, besok, kitab Jurumiyah itu akan aku antarkan. Menurut perhitungan teman-teman mengantarkan kitab kepada seseorang merupakan bepergian yang mengandung amal mulia.

Begitu rencanaku.

Sementara teman-teman yang akan ikut denganku beralasan bahwa mereka mengantar orang yang sedang berbuat kebaikan. Mereka beralasan aku takut kenapa-napa di jalan karena aku baru sembuh dari penyakit. Aku sebetulnya sudah sembuh sejak sebulan lalu, tapi teman-teman menganggapku baru sembuh. 

Kesimpulannya, mereka bepergian dengan tugas mulia yaitu mengantar orang yang akan berbuat kebaikan. Perbuatan demikian tentu tergolong pada amal yang akan mendapatkan pahala.

Sangat kebetulan, pada hari pertama puasa, pagi-pagi, ajengan pergi bersama istrinya disertai Nyai Halimah. Aku dan para santri yang akan bepergian bersorak-sorak. Lalu pergi ke kolam ajengan dengan santai tanpa harus memikirkan kepergok dan tak memikirkan isyarat kedatangan ajengan atau Nyai Halimah. Kami memancing ikan di kolam ajengan. 

Saat matahari mulai terik, kami sudah mendapatkan empat ikan yang sedang. Terbayang nikmatnya memakan ikan yang dibakar di atas bara.  

Kami membungkus ikan-ikan itu dengan kulit pisang. Lalu kami membawanya dengan suka cita. 

Kasihan Mang Udin. Pasalnya, sebelum ajengan pergi, Mang Udin diminta untuk menjaga rumahnya. Padahal aku yakin dia juga ingin turut serta dengan kami. 

Saat kami berangkat, ia tampak tiduran, tapi aku yakin dia pura-pura tidur. 

Kami berangkat dengan membawa ikan-ikan dari kolam ajengan. Orang-orang yang melihat kami sepertinya menyangka bahwa para santri sedang ngabuburit saja. 

Ternyata betul, di luar kampung, masih ramai dengan orang-orang yang belum berpuasa. Orang berjualan makanan masih seperti biasa saja tanpa harus menutupi warungnya dengan kain sebagaimana umumnya pedagang makanan di bulan puasa.

Tujuan kami adalah rumah Si Hadir. Teman kami yang pernah jadi santri di pesantren kami. Dia tampak bergembira saat kami datang, apalagi melihat kami menjinjing sesuatu. Kami emang membawa perbekalan seperti beras dan tentu saja dengan ikan-ikan dari kolam ajengan. 

Kemudian kami makan bersama. Ratusan biji jengkol yang ada di dapur Si Hadir ludes tak tersisa. Sebagian digoreng, sebagian dimakan mentah-mentah. Habis tak tersisa. 

Ikan-ikan yang besar dari kolam ajengan itu hanya tersisa cucuknya. Dicocol dengan sambal goang. Tanpa kecap, tapi nikmat.

Selepas makan, kita tiduran sembari mengusap-usap perut yang penuh terisi. 

Kemudian kami pulang kembali ke pesantren selepas asar. Begitu aturannya, bepergian dalam rangka mengikuti taqlid berpuasa di kampung orang lain harus melewati ¾ hari.

Saat di kobong, kemudian kami menceritakan betapa nikmatnya makan-makan di rumah Si Hadir kepada Mang Udin dan Kang Haer. Keduanya hanya menelan ludah.

"Sayang sekali saya tak ikut,” katanya.

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen otobiografis Dongeng Enteng ti Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. 

Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam mengkritik. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.